Tonggak Semi, Tokoh Cendekiawan Seorang “Muhammad Said Budairy”

Alm. Muhammad Said Budairy
Pemudapost –Muhammad Said Budairy adalah nama anak ke-3 dari pasangan Budairy dengan Mutmainnah. Budairy adalah anak dari Kiai Idris, murid dari Kiai Tohir. Kiai Tohir ayah Kiai Nachrowi, salah seorang tokoh yang membidani kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) serta pendiri Pesantren Bungkuk di Singosari, sekitar 7 kilometer timur laut dari kota Malang. Budairy menikah dengan Mutmainnah, anak Kiai Alwi Murtadho, anggota Badan Konstituante dari Partai NU.


Pada tanggal 12 Maret 1936 menjelang subuh, Mutmainnah melahirkan anak ketiganya. Ini adalah satu-satunya anak Mutmainnah dan Budairy. Dua anak mereka meninggal pada saat dilahirkan. Mungkin karena ini pula si bayi jadi rebutan kerabat untuk memberi sebuah nama. Kiai Alwi Murtadho memberi nama Muhtarom sedangkan Kiai Idris memberi nama Tohir.

Namun kemudian nama lain datang, si bayi sering sakit-sakitan. Penyebabnya, nama Muhtarom dianggap terlalu berat, atau dalam tradisi Jawa disebut kaboten jeneng alias keberatan nama, memandang bagaimana orang-orang Jawa dulu, bahkan hingga kini, mempercayai keramatnya sebuah nama. Suatu hari ada seorang kiai datang dari Gentong, Pasuruan. Keluarga memintanya berkah. Dia mengganti nama menjadi Said: Muhammad Said Budairy.

Muhammad Said Budairy wafat hari senin pada tanggal 30 November 2009, dan jenazahnya dikebumikan sore hari di area pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. Meninggalkan seorang istri yang bernama Hayatun Nufus dan 3 orang anak.

Sementara jenjang pendidikan dasar hingga SMA Said Budairy menjalaninya di Malang, semuanya di sekolah modern, dari 1951 hingga 1957. Dia bukan satu-satunya generasi santri Malang yang menempuh sistem pendidikan modern. Di antara dia ada Tolchah Mansoer, ahli hukum tata negara dan pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, ada Moensif Nachrowi, salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Tolchah Hasan, mantan menteri agama kabinet Abdurahman Wahid, ada jurnalis Sinansari Ecip dan para kerabatnya seperti Karim A. Murtadho.

Di kota-kota lain di mana komunitas santri cukup menonjol, mencari santri berpendidikan modern pada awal kemerdekaan hingga tahun 60-an amatlah susah. Sebut saja wilayah Madura, Rembang, Jember, Jombang, Kediri, Tegal dan Cirebon.

Namun Budairy juga pernah mengaji di Kediri. Saat itu keluarganya mengungsi. Pada 1947, Malang sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur terpapar agresi Belanda. Masa ini disebut revolusi fisik, atau “kevakuman kekuasaan” di mana situasi sosial dan pemerintahan penuh gejolak, jalan-jalan dikuasai para ‘laskar rakyat’. Pada 1947, agitasi dari kaum Republik, dengan perintah “bumi-hangus” demi menangkal pendudukan kembali tentara Sekutu, menjadikan situasi serba rawan dan sulit bagi warga Malang.

Saat  pindah ke Jakarta, beliau meneruskan jenjang organisasinya di NU yang sudah dirintisnya sejak di Malang. Beliau menginisiasi perwakilan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama(IPNU) waktu itu berpusat di Yogyakarta. Beliau juga salah seorang yang kencang menyampaikan pendapat “Organisasi Pelajar” ini harus dipisahkan dengan “Organisasi Mahasiswa”. Alasannya, ada kebutuhan berbeda antara pelajar dan mahasiswa.

Dalam Konferensi Besar pertama IPNU yang diselenggarakan di Kaliurang, Maret 1960, pendapat Muhammad Said Budairy tentang Organisasi baru untuk Mahasiswa makin mengemuka. Sebulan kemudian diadakan pertemuan di komplek Perguruan NU Wonokromo - Surabaya, guna meneruskan keputusan IPNU. Tigabelas anak muda dari berbagai kota hadir dalam pertemuan itu, termasuk Muhammad Said Budairy dan Chalid Mawardi. Hasilnya, lahirlah Organisasi Mahasiswa yang bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang secara resmi pada tanggal 17 April 1960. Mereka juga memberikan mandat kepada Mahbub Djunaidi sebagai Ketua Umum PMII, Chalid Mawardi sebagai Ketua I, dan Muhammad Said Budairy sebagai Sekretaris Umum. (Sumber: Hamzah Sahal, Litbang NUOnline)

Melihat perjalanan beliau yang sangat cerdik dan gigih dalam mengeluarkan pendapat, sepantasnya kita sebagai warga PMII kemudian mencontoh serta men-teladani seorang tokoh yang inspiratif dari seorang Muhammad Said Budairy, bagi warga pergerakan beliau sangat berjasa dalam keberlanjutan organisasi dengan segala perjuangannya serta kiprahnya di PMII. Meskipun nama beliau tidak sepopuler tokoh PMII lainnya seperti Mahbub Djunaidi, Muhammad Zamroni, Abduh Paddare, Ahmad Bagja dan pembesar PMII lainnya.

Mungkin Muhammad Said Budairy lebih dikenal oleh kaum pembesar NU saja dan bagi warga PMII-pun beliau hanya dikenal sebagai salah satu dari 13 orang sponsor pendiri organisasi kemahasiswaan yaitu PMII saja, namun tapak tilas perjuangan beliau hanya sedikit dari warga pergerakan yang mengetahui secara pasti dan bahkan secara Nasional masyarakat tidak banyak mengenal yang bagi penulis sepatutnya seorang Said Budairy adalah tokoh yang pantas menjadi motivasi kita sebagai pemuda dan terlebih adalah warga pergerakan setelah mengetahui rekam jejak beliau selama masa hidupnya.

Dengan sebuah refleksi diri, kemudian kita sebagai warga pergerakan harus mampu atau bahkan melebihi perjuangan beliau dalam jenjang karirnya di PMII, perjuangan serta semangat yang diberikan Said Budairy kepada organisasi secara total adalah bukti dari sebuah komitmen dan loyalitas kepada organisasi untuk membentuk jati diri pemuda dan mahasiswa yang berada dalam haluan organisasi PMII.

Jika kita melihat secara objektif bahwa yang dikerjakan selama hidupnya oleh Said Budairy mengandung arti yang kemudian penulis maknai dengan terjemahan seperti yang telah terkandung dan menjadi tujuan dari PMII sendiri yang termaktub dalam Anggaran Dasar (AD-PMII) BAB IV pasal 4 yaitu Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT. berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia, bahwa yang menjadi tumpuannya adalah terbentuknya pribadi, yang kemudian titik tekannya adalah lahirnya proses dan perjalanan panjang dalam hidupnya untuk membentuk jati dirinya sebagai insan yang dapat berguna bagi bangsa dan Negara secara umum, bagi keluarga serta sahabat seperjuangan dalam NU dan PMII secara hususnya.

Bukan hanya bagi diri sendiri, beliau juga mencerminkan tingkat keilmuannya yang sangat luas dengan tidak diragukan kembali loyalitasnya terhadap organisasi serta garis perjuangannya yang tidak mengenal lelah dan selalu berusaha untuk bertanggung jawab atas apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai kader yang militansinya tinggi. Sehingga dengan itu semua tertanam dalam dirinya komitmen dalam setiap haluan perjuangan yang akan selalu dibelanya sampai titik darah penghabisan yang dengan otomatis menjadi amalan atas ilmu yang beliau punya.

Penulis berharap nantinya dapat berjumpa kembali dengan sosok cendikiawan seorang Said Budairy baru yang mencerminkan isnpirator bagi bangsa-bangsa lainnya dikemudian hari, tentunya dengan tapak tilas perjuangan yang lebih luas dan berguna bagi bangsa dan Negara. Wallahu a’lam..

Oleh: Ahmad Fairozi

Related product you might see:

Share this product :

Review This Product

Hot Articles

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | Redesigned : Tukang Toko Online
Copyright © 2011. Ayo Belanja.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger