Latest Products
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Air Terjun Putri Nglirip

Aku juga ingin sepertimu, berdiskusi tentang kisah warna-warni desamu. Yang kau tulis dari sederetan huruf-huruf kusam yang terlempar di jalanan. Kau pungut menjadi sederetan kalimat indah. Kau buat aku kagum, dari gigi gingsulmu hingga ke akar pohon cherry di halaman samping rumahmu.


Aku masih ingat, seminggu yang lalu, kau berkisah tentang pesona air terjun Nglirip yang alirannya jatuh di atas bebatuan karang. Seperti tumpahan salju, putih dan sejuk. Kau pun berkisah tentang desiran angin senja di setiap jejak pantai Boom.

Dari matamu yang berbinar, aku bisa melihat pesona itu. Ya, pesona ceritamu hingga gedung-gedung tinggi serupa robot penghancur batu bara. Dari pertemuan-pertemuan parsial hingga menjadi kisah cinta meski gagal berakhir di pelaminan.

“Ini pabrik Semen Gresik.”

Sepertinya kau mengerti kebingunganku.

“Besar sekali.”

“Yang kau lihat itu masih separuh, di sebelah kirimu masih ada lagi.”

“Senyap, aku tidak menemukan deru mesin di sini.”

Aku mendongakkan kepala. Mengukur ketinggian gedung-gedung yang dihubungkan oleh terowongan. “Itu terowongan apa yang di atas?”

“Itu lorong penggerak batu bara untuk dihancurkan menjadi pasir seperti itu.”

Jari telunjukmu mengarah pada pasir berwarna hitam legam di seberang jalan, bertumpuk-tumpuk membentuk gundukan kecil, semacam baris bebukitan yang dipeluk sepi. Teronggok kaku di bawah gedung-gedung menjulang yang dihubungkan oleh terowongan kecil menggantung. Macam jembatan layang. Bukan. Jembatan layang tak pernah terbungkus rapi seperti itu. Ini semacam terowongan bawah tanah. Bedanya, terowongan-terowongan kecil itu mengantung, seperti jalan-jalan eksotis di bumi eropa.

Aku tidak menyangka, gedung pabrik semen ini seperti gedung apartemen. Di pinggir jalan yang membelah gedung besar itu, pohon-pohon besar tumbuh menghijau. Udaranya sejuk. Debu seperti terserap menyatu dengan alam.

Di setiap tatapan menuju rumahmu, aku memandang bongkahan-bongkahan tebing yang bisu. Cukup mencolok di antara pepohonan yang tumbuh, bergoyang. Di bawahnya mengalir aliran air sungai entah kemana berujung muara. Aku ingin menyeberang, lalu mendaki gunung itu yang terbentang dari barat ke timur.

“Maukah kau mengantarku mendaki gunung itu? Aku ingin berjalan menyisir di atasnya.”

Ah kau gila! Di bawahnya aliran sungai tak tentu volumenya, kadang surut kadang juga pasang macam samudera.”

“Itulah dia, aku ingin merasakan nikmatnya bergelayut di permukaan air sungai.”

“Kau ingin mati ya?”

“Tidak. Aku ingin mendaki, memenuhi gelora hasrat.”

“Jangan gila! Aku saja belum pernah naik ke sana.”

“Astaga! Kau tak tau rasanya berdiri di atas sana, kau bisa melihat rerumputan terbentang, dari lembah terendah hingga ke bukit permata, juga nikmatnya berdiri di atas gunungmu sendiri.”

Kau mencubit pinggangku, disusul tawa renyah nan manja. Kedua tanganmu semakin erat melingkar di pinggang. Dari depan, aku merasa ada sesuatu yang menempel, ketat rapat. Semakin lama semakin bergetar, darah berdesir, menahan tekanan hebat yang bersumber dari dadamu. Motor melaju kencang. Menerobos debu dan angin yang kerap kali menyiumi wajah.

“Awas jangan nakal ya nanti sampai di rumah!”

Sekali lagi kau mencubit pingganggu. Ah, rasanya senikmat seruling gembala.

Aku tidak mungkin berbuat macam-macam di rumahmu. Rumah itu adalah rumah orang tuamu, calon mertua dan calon orang tuaku juga kelak. Aku ingin menjadi tamu yang baik. Masuk rumah mengucap salam, memegang dan mencium punggung tangan mereka. Membantu ayahmu mencampur pupuk. Lalu dibawa ke sawah untuk ditabur pada pepadian yang baru sepuluh hari ditanam.

Liburan yang mengesankan. Hari kedua, kau mengajakku mengunjungi air terjun Nglirip. Kau mungkin benar-benar ingin membuktikan kisah yang dulu pernah dituturkan padaku. Dan di bawah terik matahari, kau benar-benar mengabulkan keinginanku mengunjungi air terjun, yang katamu berdaya magis itu.

Siang yang menyengat. Seperti mula-mula kita berangkat, kau merapatkan dadamu tepat di belakangku. Menekannya pada tubuhku, mencipta ketegangan yang lain di tengah terik.

Rumahmu benar-benar serupa surga. Pepohonan tinggi nan hijau tumbuh dimana-mana. Selepas tikungan tajam kita memasuki terowongan. Semacam lorong belahan dadamu, yang sekali tatap langsung memabukkan. Lalu aku tiba-tiba terbangun sudah tanpa sehelai baju pun di sampingmu. 

Hanya selimut putih yang menutupi, yang ternyata hanya dalam mimpi.

Selepas terowongan, kita melintasi hutan jati. Di samping kiri-kanan jalan, beribu-ribu macam sayur dan tanaman tumbuh. Terlihat sebesar ujung kuku diantara pepohonan jati yang menjulang saling bersikutan.

Pada putaran tikungan berikutnya, setelah menyisir tebing dan jurang yang menghampar di sebelah kiri, aku dipertemukan pada keelokan alam surgawi. Air Terjun Nglirip dengan sekian keindahannya berada tepat di depan mata.

Ini benar-benar nikmat Tuhan yang tiada tara. Keindahan alam yang tidak kutemui di beranda kota.

Setelah membayar tiket masuk seharga tiga ribu, kita menyusuri jalan menurun tajam. Lalu belok ke kiri melewati jalan setapak.

“Janji ya hanya melihatnya dari atas?”

“Iya janji, aku akan patuh pada instruksimu.”

Kita berjalan semakin mendekati air serupa salju yang jatuh dari tebing. Angin terhempas kencang, membentur bulir-bulir air, terpental. Mengalunlah senandung semesta, sepanjang waktu sepanjang malam, semacam seruling tak berkesudahan. Ribuan bulir bening air jatuh ke dasar tebing, membentuk telaga kecil yang memikat. Di atas permukaan air, lengkungan pelangi tercipta dari benturan cahaya dan kilau air. Mataku berbinar, alam benar-benar sedang berbaik hati.

“Lihatlah, ada pelangi.” Aku menunjuk tujuh warna berbeda, melengkung dari garis cahaya turun ke tengah sungai.

“Iya, sepertinya ada bidadari yang sedang mandi.”

Ah itu dongeng. Paling juga ada putri yang sedang mandi.” Aku tertawa dengan mata bulat dibakar pesona.

Kok tahu?”

“Mungkin saja. Kau percaya saja sih, mana ada putri yang mau mandi di sungai.”

Aku mencoba menapaki tangga menurun yang terbuat alami dari tanah. Turun ke bawah menuju ke dasar air itu jatuh. Ingin mendekatkan diri pada lengkungan pelangi. Aku berdiri di bibir, tepat di sisi paling luar sebuah batu karang. Air menjilat-jilat menggapai jari-jari kaki. Tangan kananku berusaha menggapai lengkungan pelangi. Tapi tak juga sampai, hanya menyibak udara kosong.

“Pandu, apa aku bilang, jangan turun!”

Kau berteriak. Matamu membulat, memarahiku. Air wajahmu tak tersirat guratan bercanda. Aku hanya tersenyum, kau terlihat sangat cantik kalau sedang marah. Tapi kau sudah tahu, aku adalah lelaki dengan segala impian dan hasrat. Aku ke sini ingin memenuhi dahaga hasrat. Menelanjangi seluruh tubuh alammu yang elok.

Aku sudah terlanjur terpesona. Sekali lagi berusaha menyentuh lengkungan pelangi. Kemudian menyeruaklah bau aneh; bau anyir darah, amis, bau dupa, dan juga bau surga. Sulit meraba mana dupa, mana kemenyan.

“Turunlah! Nikmati saja yang ada, mungkin hanya sekali kita merasakannya.” Aku berteriak. 

Suaraku menggema, menerobos dinding tebing.

“Pandu, kau jangan macam-macam, ayo cepat naik lagi!”

“Ayolah, atau ambilkan gambarku pakai kameramu! Sebentar saja.”

Kau merengut. “Baiklah, tapi setelah itu naik ya!”

Aku menjemputmu yang masih berdiri di atas, di sebelah tangga. Memegang tanganmu dengan sangat hati-hati, sebab tanahnya terlihat licin walau tidak turun hujan.

“Pandu, ayo cepat naik, kita pulang!”

Kau memanggilku dengan mata melotot, beberapa detik setelah berfoto. Air wajahmu masih sama, marah dan mengiginkanku untuk bergegas pulang.

“Iya, sebentar lagi, kau naik duluan saja!”

“Tidak mau, ayo kita naik sama-sama!”

Waktu kau mengajakku naik untuk pulang, aku masih terpesona dengan pelangi yang melengkung di atas air. Sepertinya pelangi itu menyambut jejatuhan air terjun sebelum jatuh ke permukaan sungai. Samar-samar sebuah suara yang lebih halus dari bisik angin memanggilku. Lebih lembut dari tetek ibu.

Tiba-tiba, di bawah garis pelangi yang melengkung itu, seorang perempuan merendam diri dalam air. 

Rambutnya yang gelap basah, wajahnya yang cantik hingga ke bawah, pada separuh dadanya yang putih menyembul di atas permukaan, sementara separuh bawah dadanya hingga ke kaki dibiarkan mengayun-ayun di dalam air, di antara bening air yang kehijauan, masih terlihat jelas pahanya yang bercahaya. Perempuan itu mirip putri kerajaan. Gaunnya ditanggalkan di atas batu besar yang mencuat di tengah sungai. Ia menyiramkan air ke wajah, pelan-pelan tangannya turun ke bawah, ke belahan dada, lalu mengangkat jari-jari kakinya yang lentik.

Mataku benar-benar terkunci, tak ingin sedikit pun memalingkan pandang. Hanya laki-laki bodoh yang pura-pura tidak melihat pemandangan itu. Semakin lama menatapnya, mataku semakin larut ke dalam keindahannya. Tubuhnya mendekat, tangannya menggenggam tanganku. Aku mengikutinya di belakang, beberapa kali menelan ludah. Lelaki mana yang sanggup menahan gejolak, menatap perempuan tanpa menyaungkan satu helai benang pun di tubuhnya.

Aku tercekat macam bayi, mau saja ikut menuju ke tengah sungai, ikut merendam diri tepat di bawah lengkungan pelangi itu.

“Pandu…”

Seketika kau berteriak histeris memanggil. Samar-samar dalam sadar, pusaran arus sungai melingkar, melengkung ke bawah membentuk corongan. Seperti aliran air yang diaduk dalam ember, arusnya kuat mengikat tubuh. Aku tersedak. Air memenuhi seluruh ruang kosong di dalam perut. Tubuhku terseret, tenggelam. Ah tidak, bukan terseret tapi sengaja diseret, mungkin oleh tangan-tangan seram makhluk penghuni air tawar.

“Alra, tolong aku! Aku tidak mau mati sekarang! Tolong aku, Ra!”

“Pandu…”

Kau berusaha menggapai tanganku yang mencari pegangan untuk bertahan. Setelah teriakanmu yang terakhir, aku sudah tidak mendengar suaramu lagi. Pusaran arus sungai yang melingkariku terlalu kuat untuk dilawan. Semakin lama aku lemas, pusaran itu semakin membawa tubuh ke dasar sungai. 

Aku lunglai.

Tak ada kerikil dan suara jejatuhan air. Hanya suara bisikan halus yang menyentuh gendang telinga. Aku berada di dalam kamar model kerajaan jaman dulu. Tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba aku sudah berpakaian serba putih, tipis sekali.

Bau sesajen dan anyir darah tajam menusuk hidung. Di pojok kamar, tiga lilin menyala. Di sebelah lilin, dupa dibakar, di atasnya mengepul asap putih memenuhi kamar. Tak ada yang kutemui. Seperti tidak ada penghuni sama sekali. Ketika itu, aku merasakan rindu yang sangat luar biasa padamu. 

Alra, aku takut. Aku ingin pulang.

Asap-asap mengepul dari dupa, menumpuk di depan lilin. Semakin lama semakin rapat, padat menjelma sesosok tubuh. Ia membelakangiku, rambutnya hitam terurai panjang. Mula-mula aku berharap itu kamu, Ra. Nyatanya, tubuh itu serupa perempuan yang tadi mandi di tengah sungai. Ia tersenyum dan mendekat, menghampiriku yang terbaring di atas ranjang. Sama sepertiku, ia hanya mengenakan baju terusan berwarna putih tipis. Aku terpesona dengan segala lekuk yang ada di baliknya.

“Jangan takut, aku putri Nglirip.”

Ia duduk di pinggir ranjang. Menyentuh pipi dan bibirku. Kulit jari-jarinya sehalus sutra. Seperti bidadari, parasnya cantik mempesona. Bibirnya serupa rubi, basah meloni. Ia merendahkan wajahnya ke bawah, dekat dengan wajahku.

Dari matanya, aku bisa melihat kenapa kau begitu keras melarangku turun ke bawah, mendekati pelangi dan jejatuhan air terjun itu. Kau takut aku tergelincir dan tenggelam ke dasar sungai. Lalu hilang seperti peristiwa-peristiwa misterius sebelumnya yang terjadi setiap tahun. Anehnya, yang tergelincir dan hilang tak kembali selalu menimpa laki-laki sepertiku, yang tak lahir dari rahim desamu. Tapi rasanya tadi aku tidak tergelincir, aku turun sendiri menyambut uluran tangan perempuan itu.

Alra, perempuan itu menindih tubuhku, bernafsu ingin segera menelan keperjakaanku. Jarak antara wajahku dan wajahnya tidak ada satu inci, dekat sekali. Aroma nafasnya bau kemenyan yang dibakar, susul menyusul dari hidung dan mulutnya tiada henti. Detik berikutnya, desah nafas saling memburu, berkejaran dengan nafsu.

Saat itu, aku seperti berada di surga, Ra. Dipeluk bidadari, dekat sekali dengan sang pencipta. Aku mati, kau pergi. Aku terbuang, kau menghilang. Menyisakan luka dan kenangan yang terkubur dalam-dalam.

Latif Fianto
Lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, Mantan Ketua Komisariat PMII Country Unitri malang periode 2013-2014 dan sekarang tinggal di Malang.

Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya pada tanggal 3 Mei 2015.
Aku juga ingin sepertimu, berdiskusi tentang kisah warna-warni desamu. Yang kau tulis dari sederetan huruf-huruf kusam yang terlempar di jalanan. Kau pungut menjadi sederetan kalimat indah. Kau buat aku kagum, dari gigi gingsulmu hingga ke akar pohon cherry di halaman samping rumahmu.


Aku masih ingat, seminggu yang lalu, kau berkisah tentang pesona air terjun Nglirip yang alirannya jatuh di atas bebatuan karang. Seperti tumpahan salju, putih dan sejuk. Kau pun berkisah tentang desiran angin senja di setiap jejak pantai Boom.

Dari matamu yang berbinar, aku bisa melihat pesona itu. Ya, pesona ceritamu hingga gedung-gedung tinggi serupa robot penghancur batu bara. Dari pertemuan-pertemuan parsial hingga menjadi kisah cinta meski gagal berakhir di pelaminan.

“Ini pabrik Semen Gresik.”

Sepertinya kau mengerti kebingunganku.

“Besar sekali.”

“Yang kau lihat itu masih separuh, di sebelah kirimu masih ada lagi.”

“Senyap, aku tidak menemukan deru mesin di sini.”

Aku mendongakkan kepala. Mengukur ketinggian gedung-gedung yang dihubungkan oleh terowongan. “Itu terowongan apa yang di atas?”

“Itu lorong penggerak batu bara untuk dihancurkan menjadi pasir seperti itu.”

Jari telunjukmu mengarah pada pasir berwarna hitam legam di seberang jalan, bertumpuk-tumpuk membentuk gundukan kecil, semacam baris bebukitan yang dipeluk sepi. Teronggok kaku di bawah gedung-gedung menjulang yang dihubungkan oleh terowongan kecil menggantung. Macam jembatan layang. Bukan. Jembatan layang tak pernah terbungkus rapi seperti itu. Ini semacam terowongan bawah tanah. Bedanya, terowongan-terowongan kecil itu mengantung, seperti jalan-jalan eksotis di bumi eropa.

Aku tidak menyangka, gedung pabrik semen ini seperti gedung apartemen. Di pinggir jalan yang membelah gedung besar itu, pohon-pohon besar tumbuh menghijau. Udaranya sejuk. Debu seperti terserap menyatu dengan alam.

Di setiap tatapan menuju rumahmu, aku memandang bongkahan-bongkahan tebing yang bisu. Cukup mencolok di antara pepohonan yang tumbuh, bergoyang. Di bawahnya mengalir aliran air sungai entah kemana berujung muara. Aku ingin menyeberang, lalu mendaki gunung itu yang terbentang dari barat ke timur.

“Maukah kau mengantarku mendaki gunung itu? Aku ingin berjalan menyisir di atasnya.”

Ah kau gila! Di bawahnya aliran sungai tak tentu volumenya, kadang surut kadang juga pasang macam samudera.”

“Itulah dia, aku ingin merasakan nikmatnya bergelayut di permukaan air sungai.”

“Kau ingin mati ya?”

“Tidak. Aku ingin mendaki, memenuhi gelora hasrat.”

“Jangan gila! Aku saja belum pernah naik ke sana.”

“Astaga! Kau tak tau rasanya berdiri di atas sana, kau bisa melihat rerumputan terbentang, dari lembah terendah hingga ke bukit permata, juga nikmatnya berdiri di atas gunungmu sendiri.”

Kau mencubit pinggangku, disusul tawa renyah nan manja. Kedua tanganmu semakin erat melingkar di pinggang. Dari depan, aku merasa ada sesuatu yang menempel, ketat rapat. Semakin lama semakin bergetar, darah berdesir, menahan tekanan hebat yang bersumber dari dadamu. Motor melaju kencang. Menerobos debu dan angin yang kerap kali menyiumi wajah.

“Awas jangan nakal ya nanti sampai di rumah!”

Sekali lagi kau mencubit pingganggu. Ah, rasanya senikmat seruling gembala.

Aku tidak mungkin berbuat macam-macam di rumahmu. Rumah itu adalah rumah orang tuamu, calon mertua dan calon orang tuaku juga kelak. Aku ingin menjadi tamu yang baik. Masuk rumah mengucap salam, memegang dan mencium punggung tangan mereka. Membantu ayahmu mencampur pupuk. Lalu dibawa ke sawah untuk ditabur pada pepadian yang baru sepuluh hari ditanam.

Liburan yang mengesankan. Hari kedua, kau mengajakku mengunjungi air terjun Nglirip. Kau mungkin benar-benar ingin membuktikan kisah yang dulu pernah dituturkan padaku. Dan di bawah terik matahari, kau benar-benar mengabulkan keinginanku mengunjungi air terjun, yang katamu berdaya magis itu.

Siang yang menyengat. Seperti mula-mula kita berangkat, kau merapatkan dadamu tepat di belakangku. Menekannya pada tubuhku, mencipta ketegangan yang lain di tengah terik.

Rumahmu benar-benar serupa surga. Pepohonan tinggi nan hijau tumbuh dimana-mana. Selepas tikungan tajam kita memasuki terowongan. Semacam lorong belahan dadamu, yang sekali tatap langsung memabukkan. Lalu aku tiba-tiba terbangun sudah tanpa sehelai baju pun di sampingmu. 

Hanya selimut putih yang menutupi, yang ternyata hanya dalam mimpi.

Selepas terowongan, kita melintasi hutan jati. Di samping kiri-kanan jalan, beribu-ribu macam sayur dan tanaman tumbuh. Terlihat sebesar ujung kuku diantara pepohonan jati yang menjulang saling bersikutan.

Pada putaran tikungan berikutnya, setelah menyisir tebing dan jurang yang menghampar di sebelah kiri, aku dipertemukan pada keelokan alam surgawi. Air Terjun Nglirip dengan sekian keindahannya berada tepat di depan mata.

Ini benar-benar nikmat Tuhan yang tiada tara. Keindahan alam yang tidak kutemui di beranda kota.

Setelah membayar tiket masuk seharga tiga ribu, kita menyusuri jalan menurun tajam. Lalu belok ke kiri melewati jalan setapak.

“Janji ya hanya melihatnya dari atas?”

“Iya janji, aku akan patuh pada instruksimu.”

Kita berjalan semakin mendekati air serupa salju yang jatuh dari tebing. Angin terhempas kencang, membentur bulir-bulir air, terpental. Mengalunlah senandung semesta, sepanjang waktu sepanjang malam, semacam seruling tak berkesudahan. Ribuan bulir bening air jatuh ke dasar tebing, membentuk telaga kecil yang memikat. Di atas permukaan air, lengkungan pelangi tercipta dari benturan cahaya dan kilau air. Mataku berbinar, alam benar-benar sedang berbaik hati.

“Lihatlah, ada pelangi.” Aku menunjuk tujuh warna berbeda, melengkung dari garis cahaya turun ke tengah sungai.

“Iya, sepertinya ada bidadari yang sedang mandi.”

Ah itu dongeng. Paling juga ada putri yang sedang mandi.” Aku tertawa dengan mata bulat dibakar pesona.

Kok tahu?”

“Mungkin saja. Kau percaya saja sih, mana ada putri yang mau mandi di sungai.”

Aku mencoba menapaki tangga menurun yang terbuat alami dari tanah. Turun ke bawah menuju ke dasar air itu jatuh. Ingin mendekatkan diri pada lengkungan pelangi. Aku berdiri di bibir, tepat di sisi paling luar sebuah batu karang. Air menjilat-jilat menggapai jari-jari kaki. Tangan kananku berusaha menggapai lengkungan pelangi. Tapi tak juga sampai, hanya menyibak udara kosong.

“Pandu, apa aku bilang, jangan turun!”

Kau berteriak. Matamu membulat, memarahiku. Air wajahmu tak tersirat guratan bercanda. Aku hanya tersenyum, kau terlihat sangat cantik kalau sedang marah. Tapi kau sudah tahu, aku adalah lelaki dengan segala impian dan hasrat. Aku ke sini ingin memenuhi dahaga hasrat. Menelanjangi seluruh tubuh alammu yang elok.

Aku sudah terlanjur terpesona. Sekali lagi berusaha menyentuh lengkungan pelangi. Kemudian menyeruaklah bau aneh; bau anyir darah, amis, bau dupa, dan juga bau surga. Sulit meraba mana dupa, mana kemenyan.

“Turunlah! Nikmati saja yang ada, mungkin hanya sekali kita merasakannya.” Aku berteriak. 

Suaraku menggema, menerobos dinding tebing.

“Pandu, kau jangan macam-macam, ayo cepat naik lagi!”

“Ayolah, atau ambilkan gambarku pakai kameramu! Sebentar saja.”

Kau merengut. “Baiklah, tapi setelah itu naik ya!”

Aku menjemputmu yang masih berdiri di atas, di sebelah tangga. Memegang tanganmu dengan sangat hati-hati, sebab tanahnya terlihat licin walau tidak turun hujan.

“Pandu, ayo cepat naik, kita pulang!”

Kau memanggilku dengan mata melotot, beberapa detik setelah berfoto. Air wajahmu masih sama, marah dan mengiginkanku untuk bergegas pulang.

“Iya, sebentar lagi, kau naik duluan saja!”

“Tidak mau, ayo kita naik sama-sama!”

Waktu kau mengajakku naik untuk pulang, aku masih terpesona dengan pelangi yang melengkung di atas air. Sepertinya pelangi itu menyambut jejatuhan air terjun sebelum jatuh ke permukaan sungai. Samar-samar sebuah suara yang lebih halus dari bisik angin memanggilku. Lebih lembut dari tetek ibu.

Tiba-tiba, di bawah garis pelangi yang melengkung itu, seorang perempuan merendam diri dalam air. 

Rambutnya yang gelap basah, wajahnya yang cantik hingga ke bawah, pada separuh dadanya yang putih menyembul di atas permukaan, sementara separuh bawah dadanya hingga ke kaki dibiarkan mengayun-ayun di dalam air, di antara bening air yang kehijauan, masih terlihat jelas pahanya yang bercahaya. Perempuan itu mirip putri kerajaan. Gaunnya ditanggalkan di atas batu besar yang mencuat di tengah sungai. Ia menyiramkan air ke wajah, pelan-pelan tangannya turun ke bawah, ke belahan dada, lalu mengangkat jari-jari kakinya yang lentik.

Mataku benar-benar terkunci, tak ingin sedikit pun memalingkan pandang. Hanya laki-laki bodoh yang pura-pura tidak melihat pemandangan itu. Semakin lama menatapnya, mataku semakin larut ke dalam keindahannya. Tubuhnya mendekat, tangannya menggenggam tanganku. Aku mengikutinya di belakang, beberapa kali menelan ludah. Lelaki mana yang sanggup menahan gejolak, menatap perempuan tanpa menyaungkan satu helai benang pun di tubuhnya.

Aku tercekat macam bayi, mau saja ikut menuju ke tengah sungai, ikut merendam diri tepat di bawah lengkungan pelangi itu.

“Pandu…”

Seketika kau berteriak histeris memanggil. Samar-samar dalam sadar, pusaran arus sungai melingkar, melengkung ke bawah membentuk corongan. Seperti aliran air yang diaduk dalam ember, arusnya kuat mengikat tubuh. Aku tersedak. Air memenuhi seluruh ruang kosong di dalam perut. Tubuhku terseret, tenggelam. Ah tidak, bukan terseret tapi sengaja diseret, mungkin oleh tangan-tangan seram makhluk penghuni air tawar.

“Alra, tolong aku! Aku tidak mau mati sekarang! Tolong aku, Ra!”

“Pandu…”

Kau berusaha menggapai tanganku yang mencari pegangan untuk bertahan. Setelah teriakanmu yang terakhir, aku sudah tidak mendengar suaramu lagi. Pusaran arus sungai yang melingkariku terlalu kuat untuk dilawan. Semakin lama aku lemas, pusaran itu semakin membawa tubuh ke dasar sungai. 

Aku lunglai.

Tak ada kerikil dan suara jejatuhan air. Hanya suara bisikan halus yang menyentuh gendang telinga. Aku berada di dalam kamar model kerajaan jaman dulu. Tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba aku sudah berpakaian serba putih, tipis sekali.

Bau sesajen dan anyir darah tajam menusuk hidung. Di pojok kamar, tiga lilin menyala. Di sebelah lilin, dupa dibakar, di atasnya mengepul asap putih memenuhi kamar. Tak ada yang kutemui. Seperti tidak ada penghuni sama sekali. Ketika itu, aku merasakan rindu yang sangat luar biasa padamu. 

Alra, aku takut. Aku ingin pulang.

Asap-asap mengepul dari dupa, menumpuk di depan lilin. Semakin lama semakin rapat, padat menjelma sesosok tubuh. Ia membelakangiku, rambutnya hitam terurai panjang. Mula-mula aku berharap itu kamu, Ra. Nyatanya, tubuh itu serupa perempuan yang tadi mandi di tengah sungai. Ia tersenyum dan mendekat, menghampiriku yang terbaring di atas ranjang. Sama sepertiku, ia hanya mengenakan baju terusan berwarna putih tipis. Aku terpesona dengan segala lekuk yang ada di baliknya.

“Jangan takut, aku putri Nglirip.”

Ia duduk di pinggir ranjang. Menyentuh pipi dan bibirku. Kulit jari-jarinya sehalus sutra. Seperti bidadari, parasnya cantik mempesona. Bibirnya serupa rubi, basah meloni. Ia merendahkan wajahnya ke bawah, dekat dengan wajahku.

Dari matanya, aku bisa melihat kenapa kau begitu keras melarangku turun ke bawah, mendekati pelangi dan jejatuhan air terjun itu. Kau takut aku tergelincir dan tenggelam ke dasar sungai. Lalu hilang seperti peristiwa-peristiwa misterius sebelumnya yang terjadi setiap tahun. Anehnya, yang tergelincir dan hilang tak kembali selalu menimpa laki-laki sepertiku, yang tak lahir dari rahim desamu. Tapi rasanya tadi aku tidak tergelincir, aku turun sendiri menyambut uluran tangan perempuan itu.

Alra, perempuan itu menindih tubuhku, bernafsu ingin segera menelan keperjakaanku. Jarak antara wajahku dan wajahnya tidak ada satu inci, dekat sekali. Aroma nafasnya bau kemenyan yang dibakar, susul menyusul dari hidung dan mulutnya tiada henti. Detik berikutnya, desah nafas saling memburu, berkejaran dengan nafsu.

Saat itu, aku seperti berada di surga, Ra. Dipeluk bidadari, dekat sekali dengan sang pencipta. Aku mati, kau pergi. Aku terbuang, kau menghilang. Menyisakan luka dan kenangan yang terkubur dalam-dalam.

Latif Fianto
Lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, Mantan Ketua Komisariat PMII Country Unitri malang periode 2013-2014 dan sekarang tinggal di Malang.

Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya pada tanggal 3 Mei 2015.
Detail

Hadiah Ulang Tahun Dari Pak Presiden

“Saya kurang setuju dengan isi sambutan Kang Udin saat perayaan ulang tahun partai di Surabaya itu?” kata seorang anggota, membuka percakapan, di pertemuan yang tidak disengaja, di depan gedung sekretariat.

“Isi sambutan yang mana? harus punya dasar yang jelas kalau tidak menyepakati sesuatu!” sambut anggota yang lain.

“Betul. Penyangkalan itu harus disertai dasar yang kuat, bukan sekadar melempar kata-kata, lalu lepas tanggungjawab,” sambut anggota lain lagi.

“Seingatku, Kang Udin kurang lebih mengatakan begini, kalau bisa ya pejabat menteri negara yang dari partai kita perlu ditambah.”

“Bukannya itu permohonan yang wajar? Tak ada yang keliru.”

“Menurutku itu cerminan mental peminta, tidak lebih berbeda dari pengemis. Partai ini bukan gerbong pengemis, tapi gerbong gerakan. Betul, tidak, Kang Kaji?” seorang anggota yang dari tadi terlihat penasaran angkat bicara.

Seseorang yang dipanggil Kang Kaji mengangguk. “Betul.”

“Kata-kata Kang Udin masih sangat jelas terngiang di telinga. Padahal waktu itu, aku berjubel di antara kerumunan para anggota yang mulutnya menganga oleh kedatangan Pak Mamat. Mereka terlihat sangat senang dengan kedatangan presiden.”

“Ah, aku tidak yakin mereka terhipnotis oleh kedatangannya. Aku curiga, mereka lebih terhipnotis oleh kotak berwarna gelap yang dibawa Pak Mamat.”

“Aku setuju, bukannya setelah memberi sambutan, Pak Mamat memberikan kotak itu pada Pak Udin? 

Aku tidak yakin itu berisi kue ulang tahun.”

“Aku juga tidak yakin itu hadiah sederhana. Pasti ada udang di balik batu.”

“Kata temanku yang bekerja di salah satu negeri di eropa, no free lunch!”

Semua tertawa, berderai, meski belum mampu mengusir dingin dari seluruh tubuh.

“Setuju! Di dunia ini memang tidak ada yang gratis. Hati-hati dengan pemberian hadiah, pasti ada kepentingan terselubung yang diselipkan. Kalau tidak, ujung-ujungnya pasti dikejar-kejar KPK atas tuduhan telah menerima hadiah yang terbungkus kepentingan politik.”

Sekali lagi tawa berderai. Kaji mengambil sebungkus rokok. Dicomotnya satu batang, lalu melemparkan bungkus rokok itu tepat di tengah-tengah anggota yang melingkar. Kaji memasukkan sebatang rokok itu di bibir, lalu membakarnya tepat di ujung. Satu orang anggota yang terlihat lebih muda beranjak berdiri, menawarkan membeli kopi. Katanya, seperti ada yang kurang kalau merokok tanpa disandingi kopi. Seperti pepatah orang-orang Madura, asongkok tak akalambhi, memakai kopiah tapi tak mengenakan baju.

“O ya, Kang Kaji, anggota ranting sebelah dengar-dengar dilarang turun aksi saat Pak Mamat datang ke Surabaya waktu itu?”

“Dilarang bagaimana? Sekarang bukan lagi zaman rezim orde baru yang penuh dengan tekanan.”

“Bukan dilarang, tapi anggota di ranting sebelah harus dimediasi dulu sebelum berangkat ke Surabaya.”

“Alasannya?”

“Mereka ingin mengadakan aksi atas ketidaksetujuan mereka terhadap rencana pemerintah yang hendak menaikkan harga bahan bakar.”

“Kenapa tidak boleh? Bukannya memang benar, Pak Mamat itu tak memiliki sikap yang tegas, tak punya pendirian, pengambilan keputusannya tak berorientasi pada masa depan. Di awal kepemimpinanya langsung membuat kejutan dengan menaikkan harga bahan bakar, lalu pelan-pelan menurunkan, sebentar kemudian menaikkan lagi, menaikkan lagi hingga mencekik leher rakyat.”

“Ya mau bagaimana lagi, Pak Mamat selalu punya cara untuk memuluskan semua kepentingan. 

Entahlah apa yang sudah dijanjikan Pak Mamat ke Kang Udin sebagai pimpinan tertinggi partai kita, tak ada keributan sedikit pun saat Pak Mamat datang ke Surabaya.”

Kaji menyeringai. “Bukan pimpinan namanya kalau tidak cerdas. Cerdas mengelabuhi, juga cerdas meredam pemberontakan.”

“Mulai remang-remang, apa ini yang disebut bahwa partai kita independen?”

“Tanpa idealisme bukan independen namanya. Independen itu hanya istilah keren untuk menarik diri dari barisan partai induknya.”

“Tak heran kalau partai ini diminta kembali bergabung dengan partai induk. Tak ada gunanya independen kalau toh akhirnya menyelubungkan diri dalam kepentingan politik.”

“Serba susah! Semuanya sudah dihadapkan pada lingkaran kepentingan. Tidak peduli meski idealisme tergadai asal kepentingan tercapai.”

Tiba-tiba sunyi merayap. Masing-masing dari mereka yang berkumpul, membayang kalimat tadi. Tidak peduli meski idealisme tergadai asal kepentingan tercapai.

Pelan-pelan ingatan Kaji meraba isi berita media massa belakangan hari ini, kira-kira dua minggu setelah perayaan ulang tahun di Surabaya. Kolom berita koran sesak oleh perseteruan Kemenpora dan PSSI. Padahal, masih hangat sajian berita mengenai artis yang nyambi sebagai penjaja kelamin. 

Seperti seorang pedagang kaki lima, yang menghampar jualan di atas trotoar demi menambah penghasilan.

Detik demi detik berlalu. Pertemuan tak sengaja malam itu nyaris menemui jalan buntu, sebelum akhirnya seseorang kembali memecah suasana yang bisu.

“Sebenarnya saya masih penasaran dengan pendapat Kang Kaji yang di awal. Partai ini merupakan gerbong pergerakan, bukan partai yang menengadahkan tangan meminta-minta, menarik kalau dikaji, Kang.”

“Beberapa tahun yang lalu, para anggota risau karena bos-bos kita tidak duduk di kursi pemerintahan. 

Mereka juga risau memikirkan nasib rakyat, aktif menolak segala kebijakan pemimpin yang tidak memihak pada rakyat kecil.”

“Itu sudah biasa. Mereka yang tidak diberi kekuasaan seringkali memberontak, bahkan tidak jarang bersikap oposisi. Anjing kalau lapar, kelakuannya pasti melolong, tapi coba saja lemparkan tulang, binatang itu takkan bersuara bahkan menguap kekenyangan.”

“Itulah yang terjadi di dalam tubuh partai ini. Bos-bos kita sudah banyak ditarik mendampingi Pak Mamat. Semua wajah sumringah, akhirnya semua pinta terkabul. Hampir separuh orang-orang yang membantu Pak Mamat berasal dari partai kita. Tapi, seperti orang yang sedang kelaparan, ia bungkam setelah perutnya kenyang.”

“Hati-hati, jangan asal bicara!”

“Ini fakta yang berbicara. Saat ini anggota partai lebih sering bungkam daripada berteriak. Mereka lebih banyak meringkuk di dalam kantor daripada turun ke jalan menolak ketertindasan yang menimpa kaum lemah. Harga bahan bakar minyak seperti ditarik ulur, semacam pasang surut gelombang di lautan. Harga sembako melambung, mengawang tak bisa dijangkau. Pak Mamat tak berani mengambil sikap atas kasus gesek menggesek, ia lebih banyak mendengarkan daripada mengambil keputusan.”

“Semacam bingung mau mengambil keputusan.”

“Jadi kita tidak berani menuntut lantaran pendamping Pak Mamat lebih banyak berasal dari partai gerakan?”

“Tidak hanya itu. Kondisi ini ibarat kita terlempar ke dalam kandang yang sudah penuh dengan makanan. Tak berani melangkahkan kaki karena mulut sudah dibungkam oleh berbagai proyek politik pengambil kebijakan.”

Anggota lain mengangguk-angguk. Perkataan Kaji masuk akal meski dengan bahasa yang cukup kasar. Beberapa anggota menoleh, takut ada pengurus ranting yang sengaja menguping. Kalau ketahuan, akibatnya sangat fatal, bisa-bisa mereka dicoret dari daftar aliran lauk-pauk.

“Bagaimana kalau kita ganti saja nama partai ini jadi GGP?”

“Semacam GGS? Ganteng-Ganteng Supir, eh, Serigala, maksudku.”

“Betul. Tapi yang ini tidak selebay sinetron itu. GGP, Gerbong Gerakan Peminta, bagaimana?”

“Wusss jangan ngaco. Partai kita adalah yang terbesar di negeri ini. Memiliki lebih dari dua ratus ranting yang tersebar di seluruh sudut negeri. Namanya sudah menggaung, lebih menggema dari auman singa.

“Setuju. Partai ini sudah menelorkan tokoh besar semacam Cak Roni yang mampu menggerakkan seluruh gerbong pemuda saat tragedi 1998.”

“Yang menjadi aktor terbukanya gerbang reformasi itu?”

“Benar. Sejak saat itu kita mulai bisa bebas berbicara, bebas mengeluarkan pendapat. Semuanya berubah menjadi serba bebas.”

“Iya, tapi bukan berarti juga seenaknya sendiri berbicara, harus santun dan beretika.”

Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Pembicaraan semakin tak tentu arah, ngalor-ngidul kesana-kemari.

“Ngomong-ngomong soal reformasi, kondisi negeri sudah berubah total. Kita tidak bisa mengulang sejarah 1998, menumbangkan rezim yang sedang berkuasa untuk merubah kondisi negeri. Kita hidup di zaman yang sudah lebih maju.”

“Itu menurut orang-orang yang malas berjuang, kan?”

“Bukan! Itu menurut pengamatan sederhana yang kulakukan.”

“Jangan sembarangan melakukan pengamatan, ini berbicara tentang masa depan bangsa.”

“Pengamatan lebih bermartabat daripada menerima hadiah yang tak jelas asal sumbernya. Saat ini bukan caranya lagi memperbaiki kondisi negeri dengan menggulingkan pemerintah. Hampir di setiap kesempatan gerakan-gerakan aksi menyuarakan hendak menurunkan Pak Mamat. Mereka berteriak tanpa disertai bukti yang kuat. Tak heran kalau mereka lebih mudah diringkus oleh pasukan pengaman Pak Mamat yang gagah-gagah itu. Bukankah itu lebih bodoh dari tindakan paling bodoh?”

“Jadi seharusnya bagaimana? Gerakan turun jalan masih dianggap pilihan paling keren saat ini.”

“Tidak juga. Kalau memang mau memajukan negeri ini, harus dimulai dari hal-hal kecil. Tak perlu memimpikan gerakan besar seperti yang dilakukan Cak Roni, sudah tak laku.”

“Jadi?”

“Dari hal-hal kecil. Di sekolah, guru tidak boleh membiarkan siswanya menyontek, apalagi saat ujian nasional. Karyawan tidak boleh terlambat datang ke kantor, itu korupsi waktu. Mahasiswa tidak boleh terlalu lama ngopi di warung, lebih baik dihabiskan untuk hal-hal yang produktif, menulis misalnya.”

Kaji mengangguk-anggukkan kepala. Kopi di gelas plastik sudah tinggal sedikit, hampir menyisakan ampas hitam di dasar gelas.

“Sayangnya sangat sedikit anggota partai yang memiliki pemikiran seperti itu. Kita masih tertarik melakukan gerakan yang terlihat daripada yang lebih bernilai.”

Semua yang berkumpul di depan sekretariat bergeming. Meski pembicaraan tidak runtut seperti aliran sungai yang mengalir dari hulu ke hilir, tapi setiap kata yang terlontar selalu masuk akal. Pendapat yang satu diperkuat dengan pendapat yang lain. Malam itu mereka benar-benar gelisah, sekaligus dingin semakin menggigil.

“Dengar-dengar dua hari yang lalu akan ada demo besar-besaran, menolak kunjungan Pak Mamat di kota, tapi saya lihat tak ada barisan demo di seluruh sudut kota.”

“Jelas tak ada, Pak Mamat itu diam-diam menghanyutkan. Tidak banyak rayuan tapi otaknya lebih gemulai dari tubuh ular,” ucap Kaji.

Anggota yang lain tercengang, tak mengerti.

“Kang, jangan berkata sembarangan kalau tidak memiliki dasar yang benar.”

Kaji tertawa, giginya menyeringai.

“Kalian tidak tahu! Jauh-jauh hari sebelum berkunjung ke kota ini, Pak Mamat sudah mengundang para pimpinan organisasi pemuda ke istana negara. Tidak penting apa yang mereka bicarakan, tapi hasilnya sangat jelas, dua hari yang lalu tak ada demo di tengah kota.”

“Aku curiga.”

“Curiga atas apa?”

“Kesepakatan antara Pak Mamat dengan Kang Udin.”

“Kesepakatan apa? Yang jelas kalau berbicara!”

“Kesepakatan untuk tidak ada demo saat Pak Mamat menghadiri perayaan ulang tahun partai kita di Surabaya.”

“Betul. Saya juga curiga, jangan-jangan sudah ada pembicaraan khusus antara keduanya.”

“Kang Kaji ingat, kan? Selesai memberikan sambutan, Pak Mamat memberikan satu kotak berwarna gelap berukuran agak besar kepada Kang Udin.”

Kaji mengangguk, kepalanya sedikit diangkat ke atas. “Memangnya ada apa dengan kotak gelap itu?”

“Itu tidak mungkin kue ulang tahun, kan?”

“Kalau bukan kue ulang tahun, lalu apa?”

“Uang, pasti kotak itu berisi uang.”

“Jadi Pak Mamat telah memberikan uang pada Kang Udin agar tak ada gerakan pemuda yang melakukan demo?”

“Aku baru ingat. Sepulang dari acara di Surabaya itu, sekretaris Kang Udin yang juga teman dekatku tanpa sengaja membocorkan sesuatu.”

“Apa?”

“Kotak itu memang berisi uang. Pak Mamat memberikannya pada Kang Udin sebagai sumbangan sekaligus peredam agar organisasi pemuda tak menentang setiap kebijakan pemerintah.”

Latif Fianto, lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, sekarang tinggal di Malang.
“Saya kurang setuju dengan isi sambutan Kang Udin saat perayaan ulang tahun partai di Surabaya itu?” kata seorang anggota, membuka percakapan, di pertemuan yang tidak disengaja, di depan gedung sekretariat.

“Isi sambutan yang mana? harus punya dasar yang jelas kalau tidak menyepakati sesuatu!” sambut anggota yang lain.

“Betul. Penyangkalan itu harus disertai dasar yang kuat, bukan sekadar melempar kata-kata, lalu lepas tanggungjawab,” sambut anggota lain lagi.

“Seingatku, Kang Udin kurang lebih mengatakan begini, kalau bisa ya pejabat menteri negara yang dari partai kita perlu ditambah.”

“Bukannya itu permohonan yang wajar? Tak ada yang keliru.”

“Menurutku itu cerminan mental peminta, tidak lebih berbeda dari pengemis. Partai ini bukan gerbong pengemis, tapi gerbong gerakan. Betul, tidak, Kang Kaji?” seorang anggota yang dari tadi terlihat penasaran angkat bicara.

Seseorang yang dipanggil Kang Kaji mengangguk. “Betul.”

“Kata-kata Kang Udin masih sangat jelas terngiang di telinga. Padahal waktu itu, aku berjubel di antara kerumunan para anggota yang mulutnya menganga oleh kedatangan Pak Mamat. Mereka terlihat sangat senang dengan kedatangan presiden.”

“Ah, aku tidak yakin mereka terhipnotis oleh kedatangannya. Aku curiga, mereka lebih terhipnotis oleh kotak berwarna gelap yang dibawa Pak Mamat.”

“Aku setuju, bukannya setelah memberi sambutan, Pak Mamat memberikan kotak itu pada Pak Udin? 

Aku tidak yakin itu berisi kue ulang tahun.”

“Aku juga tidak yakin itu hadiah sederhana. Pasti ada udang di balik batu.”

“Kata temanku yang bekerja di salah satu negeri di eropa, no free lunch!”

Semua tertawa, berderai, meski belum mampu mengusir dingin dari seluruh tubuh.

“Setuju! Di dunia ini memang tidak ada yang gratis. Hati-hati dengan pemberian hadiah, pasti ada kepentingan terselubung yang diselipkan. Kalau tidak, ujung-ujungnya pasti dikejar-kejar KPK atas tuduhan telah menerima hadiah yang terbungkus kepentingan politik.”

Sekali lagi tawa berderai. Kaji mengambil sebungkus rokok. Dicomotnya satu batang, lalu melemparkan bungkus rokok itu tepat di tengah-tengah anggota yang melingkar. Kaji memasukkan sebatang rokok itu di bibir, lalu membakarnya tepat di ujung. Satu orang anggota yang terlihat lebih muda beranjak berdiri, menawarkan membeli kopi. Katanya, seperti ada yang kurang kalau merokok tanpa disandingi kopi. Seperti pepatah orang-orang Madura, asongkok tak akalambhi, memakai kopiah tapi tak mengenakan baju.

“O ya, Kang Kaji, anggota ranting sebelah dengar-dengar dilarang turun aksi saat Pak Mamat datang ke Surabaya waktu itu?”

“Dilarang bagaimana? Sekarang bukan lagi zaman rezim orde baru yang penuh dengan tekanan.”

“Bukan dilarang, tapi anggota di ranting sebelah harus dimediasi dulu sebelum berangkat ke Surabaya.”

“Alasannya?”

“Mereka ingin mengadakan aksi atas ketidaksetujuan mereka terhadap rencana pemerintah yang hendak menaikkan harga bahan bakar.”

“Kenapa tidak boleh? Bukannya memang benar, Pak Mamat itu tak memiliki sikap yang tegas, tak punya pendirian, pengambilan keputusannya tak berorientasi pada masa depan. Di awal kepemimpinanya langsung membuat kejutan dengan menaikkan harga bahan bakar, lalu pelan-pelan menurunkan, sebentar kemudian menaikkan lagi, menaikkan lagi hingga mencekik leher rakyat.”

“Ya mau bagaimana lagi, Pak Mamat selalu punya cara untuk memuluskan semua kepentingan. 

Entahlah apa yang sudah dijanjikan Pak Mamat ke Kang Udin sebagai pimpinan tertinggi partai kita, tak ada keributan sedikit pun saat Pak Mamat datang ke Surabaya.”

Kaji menyeringai. “Bukan pimpinan namanya kalau tidak cerdas. Cerdas mengelabuhi, juga cerdas meredam pemberontakan.”

“Mulai remang-remang, apa ini yang disebut bahwa partai kita independen?”

“Tanpa idealisme bukan independen namanya. Independen itu hanya istilah keren untuk menarik diri dari barisan partai induknya.”

“Tak heran kalau partai ini diminta kembali bergabung dengan partai induk. Tak ada gunanya independen kalau toh akhirnya menyelubungkan diri dalam kepentingan politik.”

“Serba susah! Semuanya sudah dihadapkan pada lingkaran kepentingan. Tidak peduli meski idealisme tergadai asal kepentingan tercapai.”

Tiba-tiba sunyi merayap. Masing-masing dari mereka yang berkumpul, membayang kalimat tadi. Tidak peduli meski idealisme tergadai asal kepentingan tercapai.

Pelan-pelan ingatan Kaji meraba isi berita media massa belakangan hari ini, kira-kira dua minggu setelah perayaan ulang tahun di Surabaya. Kolom berita koran sesak oleh perseteruan Kemenpora dan PSSI. Padahal, masih hangat sajian berita mengenai artis yang nyambi sebagai penjaja kelamin. 

Seperti seorang pedagang kaki lima, yang menghampar jualan di atas trotoar demi menambah penghasilan.

Detik demi detik berlalu. Pertemuan tak sengaja malam itu nyaris menemui jalan buntu, sebelum akhirnya seseorang kembali memecah suasana yang bisu.

“Sebenarnya saya masih penasaran dengan pendapat Kang Kaji yang di awal. Partai ini merupakan gerbong pergerakan, bukan partai yang menengadahkan tangan meminta-minta, menarik kalau dikaji, Kang.”

“Beberapa tahun yang lalu, para anggota risau karena bos-bos kita tidak duduk di kursi pemerintahan. 

Mereka juga risau memikirkan nasib rakyat, aktif menolak segala kebijakan pemimpin yang tidak memihak pada rakyat kecil.”

“Itu sudah biasa. Mereka yang tidak diberi kekuasaan seringkali memberontak, bahkan tidak jarang bersikap oposisi. Anjing kalau lapar, kelakuannya pasti melolong, tapi coba saja lemparkan tulang, binatang itu takkan bersuara bahkan menguap kekenyangan.”

“Itulah yang terjadi di dalam tubuh partai ini. Bos-bos kita sudah banyak ditarik mendampingi Pak Mamat. Semua wajah sumringah, akhirnya semua pinta terkabul. Hampir separuh orang-orang yang membantu Pak Mamat berasal dari partai kita. Tapi, seperti orang yang sedang kelaparan, ia bungkam setelah perutnya kenyang.”

“Hati-hati, jangan asal bicara!”

“Ini fakta yang berbicara. Saat ini anggota partai lebih sering bungkam daripada berteriak. Mereka lebih banyak meringkuk di dalam kantor daripada turun ke jalan menolak ketertindasan yang menimpa kaum lemah. Harga bahan bakar minyak seperti ditarik ulur, semacam pasang surut gelombang di lautan. Harga sembako melambung, mengawang tak bisa dijangkau. Pak Mamat tak berani mengambil sikap atas kasus gesek menggesek, ia lebih banyak mendengarkan daripada mengambil keputusan.”

“Semacam bingung mau mengambil keputusan.”

“Jadi kita tidak berani menuntut lantaran pendamping Pak Mamat lebih banyak berasal dari partai gerakan?”

“Tidak hanya itu. Kondisi ini ibarat kita terlempar ke dalam kandang yang sudah penuh dengan makanan. Tak berani melangkahkan kaki karena mulut sudah dibungkam oleh berbagai proyek politik pengambil kebijakan.”

Anggota lain mengangguk-angguk. Perkataan Kaji masuk akal meski dengan bahasa yang cukup kasar. Beberapa anggota menoleh, takut ada pengurus ranting yang sengaja menguping. Kalau ketahuan, akibatnya sangat fatal, bisa-bisa mereka dicoret dari daftar aliran lauk-pauk.

“Bagaimana kalau kita ganti saja nama partai ini jadi GGP?”

“Semacam GGS? Ganteng-Ganteng Supir, eh, Serigala, maksudku.”

“Betul. Tapi yang ini tidak selebay sinetron itu. GGP, Gerbong Gerakan Peminta, bagaimana?”

“Wusss jangan ngaco. Partai kita adalah yang terbesar di negeri ini. Memiliki lebih dari dua ratus ranting yang tersebar di seluruh sudut negeri. Namanya sudah menggaung, lebih menggema dari auman singa.

“Setuju. Partai ini sudah menelorkan tokoh besar semacam Cak Roni yang mampu menggerakkan seluruh gerbong pemuda saat tragedi 1998.”

“Yang menjadi aktor terbukanya gerbang reformasi itu?”

“Benar. Sejak saat itu kita mulai bisa bebas berbicara, bebas mengeluarkan pendapat. Semuanya berubah menjadi serba bebas.”

“Iya, tapi bukan berarti juga seenaknya sendiri berbicara, harus santun dan beretika.”

Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Pembicaraan semakin tak tentu arah, ngalor-ngidul kesana-kemari.

“Ngomong-ngomong soal reformasi, kondisi negeri sudah berubah total. Kita tidak bisa mengulang sejarah 1998, menumbangkan rezim yang sedang berkuasa untuk merubah kondisi negeri. Kita hidup di zaman yang sudah lebih maju.”

“Itu menurut orang-orang yang malas berjuang, kan?”

“Bukan! Itu menurut pengamatan sederhana yang kulakukan.”

“Jangan sembarangan melakukan pengamatan, ini berbicara tentang masa depan bangsa.”

“Pengamatan lebih bermartabat daripada menerima hadiah yang tak jelas asal sumbernya. Saat ini bukan caranya lagi memperbaiki kondisi negeri dengan menggulingkan pemerintah. Hampir di setiap kesempatan gerakan-gerakan aksi menyuarakan hendak menurunkan Pak Mamat. Mereka berteriak tanpa disertai bukti yang kuat. Tak heran kalau mereka lebih mudah diringkus oleh pasukan pengaman Pak Mamat yang gagah-gagah itu. Bukankah itu lebih bodoh dari tindakan paling bodoh?”

“Jadi seharusnya bagaimana? Gerakan turun jalan masih dianggap pilihan paling keren saat ini.”

“Tidak juga. Kalau memang mau memajukan negeri ini, harus dimulai dari hal-hal kecil. Tak perlu memimpikan gerakan besar seperti yang dilakukan Cak Roni, sudah tak laku.”

“Jadi?”

“Dari hal-hal kecil. Di sekolah, guru tidak boleh membiarkan siswanya menyontek, apalagi saat ujian nasional. Karyawan tidak boleh terlambat datang ke kantor, itu korupsi waktu. Mahasiswa tidak boleh terlalu lama ngopi di warung, lebih baik dihabiskan untuk hal-hal yang produktif, menulis misalnya.”

Kaji mengangguk-anggukkan kepala. Kopi di gelas plastik sudah tinggal sedikit, hampir menyisakan ampas hitam di dasar gelas.

“Sayangnya sangat sedikit anggota partai yang memiliki pemikiran seperti itu. Kita masih tertarik melakukan gerakan yang terlihat daripada yang lebih bernilai.”

Semua yang berkumpul di depan sekretariat bergeming. Meski pembicaraan tidak runtut seperti aliran sungai yang mengalir dari hulu ke hilir, tapi setiap kata yang terlontar selalu masuk akal. Pendapat yang satu diperkuat dengan pendapat yang lain. Malam itu mereka benar-benar gelisah, sekaligus dingin semakin menggigil.

“Dengar-dengar dua hari yang lalu akan ada demo besar-besaran, menolak kunjungan Pak Mamat di kota, tapi saya lihat tak ada barisan demo di seluruh sudut kota.”

“Jelas tak ada, Pak Mamat itu diam-diam menghanyutkan. Tidak banyak rayuan tapi otaknya lebih gemulai dari tubuh ular,” ucap Kaji.

Anggota yang lain tercengang, tak mengerti.

“Kang, jangan berkata sembarangan kalau tidak memiliki dasar yang benar.”

Kaji tertawa, giginya menyeringai.

“Kalian tidak tahu! Jauh-jauh hari sebelum berkunjung ke kota ini, Pak Mamat sudah mengundang para pimpinan organisasi pemuda ke istana negara. Tidak penting apa yang mereka bicarakan, tapi hasilnya sangat jelas, dua hari yang lalu tak ada demo di tengah kota.”

“Aku curiga.”

“Curiga atas apa?”

“Kesepakatan antara Pak Mamat dengan Kang Udin.”

“Kesepakatan apa? Yang jelas kalau berbicara!”

“Kesepakatan untuk tidak ada demo saat Pak Mamat menghadiri perayaan ulang tahun partai kita di Surabaya.”

“Betul. Saya juga curiga, jangan-jangan sudah ada pembicaraan khusus antara keduanya.”

“Kang Kaji ingat, kan? Selesai memberikan sambutan, Pak Mamat memberikan satu kotak berwarna gelap berukuran agak besar kepada Kang Udin.”

Kaji mengangguk, kepalanya sedikit diangkat ke atas. “Memangnya ada apa dengan kotak gelap itu?”

“Itu tidak mungkin kue ulang tahun, kan?”

“Kalau bukan kue ulang tahun, lalu apa?”

“Uang, pasti kotak itu berisi uang.”

“Jadi Pak Mamat telah memberikan uang pada Kang Udin agar tak ada gerakan pemuda yang melakukan demo?”

“Aku baru ingat. Sepulang dari acara di Surabaya itu, sekretaris Kang Udin yang juga teman dekatku tanpa sengaja membocorkan sesuatu.”

“Apa?”

“Kotak itu memang berisi uang. Pak Mamat memberikannya pada Kang Udin sebagai sumbangan sekaligus peredam agar organisasi pemuda tak menentang setiap kebijakan pemerintah.”

Latif Fianto, lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, sekarang tinggal di Malang.
Detail

Kemala

Kemala, seorang gadis yang menyukai hujan dan dari cintanya, foto-foto di dinding kamarnya penuh dengan aroma hujan. Tidak hanya itu, lukisan-lukisan tentang hujan juga banyak di sana.Entahlah, kenapa dia begitu menyukai hujan. Yang pasti, wajahnya sepertipelangi sebelum hujan turun.


Pernah suatu hari, kudapati dia sedang bermain hujan di halaman rumahnya. Tiba-tiba dia berlari lalu menengadah ke langit. Pelan-pelan tubuhnya mulai basah. Rambutnya tergurai merambat menenggelamkan sebagian tubuhnya. Kakinya diam, seperti batu yang bisu. Dan inilah, salah satu alasan kenapa aku begitu penasaran kepadanya. 


Gadis manja yang lahir dan dibesarkan di sebuah desa yang dibatasi antara laut dan gunung. Dia hidup bersama keluarganya di tengah-tengah himpitan cuaca. Sehari-harinya, hanya menyapu ketika malam benar-benar pergi. Selebihnya, hidupnya hanya dinikmati dengan membaca dan menulis di kamarnya.

Kadang, seharian hanya mengurung diri di kamarnya. Keluar hanya sekedar mandi dan makan. Setelah itu, dia akan masuk lagi ke kamarnya. Semakin hari sikapnya semakin aneh. Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi. Setahuku, dia gadis yang menyukai hujan. Tak lebih dan hanya itu.

Aku tahu dia gadis yang menyukai hujan sejak namaku tercatat sebagai kekasihnya. Hampir setiap hari bercerita tentang hujan kepadaku. Hubungan ini, bermula saat pertama kali bertemu di pantai yang tidak begitu jauh dari rumanya. Itulah awal kisahku bersamanya. 

Hidupku mulai terasa berwarna. Banyak cerita yang kutemukan di setiap lembar-lembar hariku. Pada senyumnya yang telanjang. Seperti lukisan yang yang bertinta cat. Lekat melekat sepanjang ingatan. Di rambutnya yang panjang. Aku tertidur pulas pada rasa yang lain. Sementara pada tuturnya. Hatiku lumpuh. Rapuh pada kisah yang tak bersatu.

Daun-daun mulai berguguran di halamanku. Burung terbang kesana-kesini. Begitu pula orang-orang di sekitarku mulai sibuk dengan aktifitasnya di musim hujan. Rerumputan mulai tumbuh pelan-pelan. Bunga-bunga yang layuh mulai satu persatu mekar. Lagi-lagi, barangkali karena kali ini sedang musim hujan.

Sementara aku mulai sibuk mempersiapkan diri untuk kuliah nanti. Hanya menunggu hitungan hari. Aku akan berangkat ke kota untuk meneruskan dunia pendidikanku. Aku ingin menikmati kisah tuhan yang telah di tuliskan kepadaku termasuk dalam kisah cintaku kali ini. Menikmati segala yang sekarang kumiliki. Meski pada akhirnya, kisah tuhanlah yang lebih indah dari cerita yang kubuat.

Sebagai anak yang terlahir di desa. Aku merasakan betul bagaimana hidup disana. Budaya dan rasa saling memiliki begitu kuat. Selain dari itu, meski sebagai anak desa aku juga berhak memiliki banyak mimpi yang mesti kuwujudkan. Bukankah hal terpenting dalam hidup adalah seberapa kuat hati untuk mewujudkannya. Dan ini akan menjadi ceritaku setelah pulang nanti pasti kuceritakan kepada kekasihku. Betapa indahnya mewujudkan mimpi itu. Walau harus berkorban keringat bercucuran menyelimuti tubuh.

Dan kemalalah, gadis yang selalu membuatku begitu bergairah dan percaya diri. Dia selalu mengajariku bagaimana memelihara hati. Gadis manja yang menyukai hujan dialah kekasih pertamaku. Orang yang pertama mengenalkanku pada arti hati. Sekali lagi, dialah kemalaku. Kemala, kekasihku.

Menjelang keberangkatanku ke kota. Tiba-tiba kulihat sosok tubuh, pelan-pelan melangkah mendekatiku. Wajahnya tidak asing lagi ketika dia berdiri tegak di hadapanku. Lalu memberikan amplop kepadaku.

“Ki, ini ada kiriman dari Kemala. Aku langsung pamit pulang soalnya masih mau kerumah kakek diajak ibu malam ini” aku hanya menganggukkan kepala lalu dia membalikkan tubuhnya dan terus berjalan. Kupandangi dia sampai akhirnya hilang dalam mataku. 

Aku langsung melangkah menuju ke kamar. Dengan hati dilanda penasaran membuat jantungku berdetak lebih kencang. Tidak biasanya dia mengirimkan surat lewat orang lain atau temannya. Sesampainya di kamar. Lalu ku tutup pintu itu dan pelan-pelan kubuka isi dari amplop kiriman dari Kemala dan isinya begini,

Kita tidak akan pernah tahu apa yang terbaik untuk kita. Begitu pula dengan cinta. Tetapi aku masih yakin, kelak kita akan sampai pada jalan kepulangan. Aku tahu, mungkin kamu akan terkejut dengan kedatangan surat ini yang kutitip kepada temanku. Sebab, aku tidak ingin melihat airmatamu. Aku ingin mengenangmu sebagai lelakiku yang periang sebagaimana kemarin ketika ketemu di pantai. Kita anggap saja, itulah kenangan terakhir kita.

Aku berterima kasih kepada tuhanku. Sebab, bersamamu aku menemukan ketenangan hati seperti saat aku sedang rindu dengan tuhanku. Sungguh, kamu lelaki terbaik yang pernah mengisi hari-hariku. Aku juga tahu, dan bahkan mengerti. Setiap jalan perpisahan pasti akan terluka. Dan aku tidak ingin membuatmu terluka lebih lama.

Aku hanya ingin melihat kamu sukses diluar sana. Aku hanyalah seorang gadis manja yang menyukai hujan. Sebab bagiku, hujan adalah kenangan. Dan aku tidak ingin ada hujan di matamu setelah kamu membaca suratku. Aku ingin melepasmu terbang tinggi sebagaimana mimpi-mimpi yang hendak ingin kamu miliki. 

Aku percaya, suatu saat kamu pasti akan menemukan gadis yang lebih baik. Dan aku selalu berdoa untukmu. Namamu, tetap kuingat dalam ingatanku. Selamat jalan, lelakiku. Jaga diri baik-baik. Sebagai anak yang baik. Kamu pasti bisa jalani ini tanpa namaku. Dari Kemala”.

Sejak kejadian itu, aku dilema antara berangkat dan tidak. Mimpi yang sudah tertata tiba-tiba hilang dalam ingatanku. Yang dapat kuingat kali ini, hanyalah wajah Kemala dan kedua orang tuaku. Ternyata bukan hanya Kemalalah yang menyukai hujan. Tetapi, termasuk juga diriku. Hujan seringkali kali turun di mataku ketika awan diingatanku mengingatkanku pada sosok Kemala.

Kadang aku berpikir, dan barangkali memang benar. Apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut tuhan baik. Sebab, dalam hidup kita hanya di hadapkan dua hal antara bahagia dan terluka. Dan kita hanya perlu meluangkan hati untuk menikmati segalanya. Agar terasa indah dirasakan. Dengan terluka, hati akan terasah.

Pada akhirnya, kakiku melangkah meski tidak setegar tiang lampu di jalan-jalan raya. Aku berangkat membawa luka dan sejuta harapan. Terluka karena kehilangan sosok Kemala dan harapan dari seorang yang dengan sabar merawatku. Tak ada yang perlu di sesali. Perjalanan hidup hanya sekali dan tak kan terulang kembali.
Hari-hari berikutnya, aku percaya, bahwa cerita akan indah bila pada waktunya. Hanya soal waktu, kapan semuanya akan terjadi. Dan aku juga tidak lupa sebagai anak desa. Bahwa, hidup bukan hanya berkeluh kesah. Melainkan panggung untuk berkarya. Aku ingin menikmati segala bentuk pertunjukan dalam panggung hidup. Entah sebagai tokoh terluka maupun bahagia.

Bagiku, cukup tuhanlah tempat aku bercerita. Aku ingin mengutarakan segala hal dalam hidupku. Tak ada yang perlu di salahkan. Sebagai manusia. Siap atau tidak kita pasti akan bahagia dan terluka. Sebab, seringkali apa yang kita miliki belum tentu milik kita seutuhnya.

Dan untukmu, Kemanala. Ternyata aku baru sadar dan tak perlu merasa heran lagi dengan hujan. Kita akan tumbuh dan besar menikmati masing-masing hujan. Hujan kemarin malam benar-benar membuat kelopak mataku banjir hingga kunyup basah di pipiku. Tubuhku gigil dalam sebuah ingatan. Sementara kedua bibirku hanya mampu tersenyum ketika hujan datang kembali.

Sebelum kita benar-benar saling melupakan. Ada satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Entahlah, kelak catatan ini akansampai ke tanganmu atau tidak. Aku hanya inginmenulis saja. Tak lebih dan hanya itu. Bunyinya begini,

Kemala, bila kelak kita tidak menemukan hujan lagi. Bukan berarti semuanya telah pergi. Aku tersungkur dalam tadarus panjang. Di mataku, aku kehilangan jejak.

Kemala, tersenyumlah. Aku ingin ternggelam didalamnya. Meleburkan segala rindu. Mentasbihkan namamu atas nama cinta. Maka, lakukanlah, biar kupetik bulan pada malam-malammu.

Hujan kita adalah jalan kenangan. Waktu telah sampai pada jalan kepulangan. Kau dan aku. Kini bersama hujan yang lain.

Setelah kutulis sajak ini, lalu aku benar-benar tenggelam. Mengantarkanku pada ranjang harapan dan aku berbantal doa dari seorang ibu. Tiba-tiba, mataku terlelap dan semuanya menjadi hitam dan gelap.

Sumenep, 2015

Oleh: Lucky Xian Qi lahir di Sumenep. Siswa kelas akhir  di SMA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.


Kemala, seorang gadis yang menyukai hujan dan dari cintanya, foto-foto di dinding kamarnya penuh dengan aroma hujan. Tidak hanya itu, lukisan-lukisan tentang hujan juga banyak di sana.Entahlah, kenapa dia begitu menyukai hujan. Yang pasti, wajahnya sepertipelangi sebelum hujan turun.


Pernah suatu hari, kudapati dia sedang bermain hujan di halaman rumahnya. Tiba-tiba dia berlari lalu menengadah ke langit. Pelan-pelan tubuhnya mulai basah. Rambutnya tergurai merambat menenggelamkan sebagian tubuhnya. Kakinya diam, seperti batu yang bisu. Dan inilah, salah satu alasan kenapa aku begitu penasaran kepadanya. 


Gadis manja yang lahir dan dibesarkan di sebuah desa yang dibatasi antara laut dan gunung. Dia hidup bersama keluarganya di tengah-tengah himpitan cuaca. Sehari-harinya, hanya menyapu ketika malam benar-benar pergi. Selebihnya, hidupnya hanya dinikmati dengan membaca dan menulis di kamarnya.

Kadang, seharian hanya mengurung diri di kamarnya. Keluar hanya sekedar mandi dan makan. Setelah itu, dia akan masuk lagi ke kamarnya. Semakin hari sikapnya semakin aneh. Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi. Setahuku, dia gadis yang menyukai hujan. Tak lebih dan hanya itu.

Aku tahu dia gadis yang menyukai hujan sejak namaku tercatat sebagai kekasihnya. Hampir setiap hari bercerita tentang hujan kepadaku. Hubungan ini, bermula saat pertama kali bertemu di pantai yang tidak begitu jauh dari rumanya. Itulah awal kisahku bersamanya. 

Hidupku mulai terasa berwarna. Banyak cerita yang kutemukan di setiap lembar-lembar hariku. Pada senyumnya yang telanjang. Seperti lukisan yang yang bertinta cat. Lekat melekat sepanjang ingatan. Di rambutnya yang panjang. Aku tertidur pulas pada rasa yang lain. Sementara pada tuturnya. Hatiku lumpuh. Rapuh pada kisah yang tak bersatu.

Daun-daun mulai berguguran di halamanku. Burung terbang kesana-kesini. Begitu pula orang-orang di sekitarku mulai sibuk dengan aktifitasnya di musim hujan. Rerumputan mulai tumbuh pelan-pelan. Bunga-bunga yang layuh mulai satu persatu mekar. Lagi-lagi, barangkali karena kali ini sedang musim hujan.

Sementara aku mulai sibuk mempersiapkan diri untuk kuliah nanti. Hanya menunggu hitungan hari. Aku akan berangkat ke kota untuk meneruskan dunia pendidikanku. Aku ingin menikmati kisah tuhan yang telah di tuliskan kepadaku termasuk dalam kisah cintaku kali ini. Menikmati segala yang sekarang kumiliki. Meski pada akhirnya, kisah tuhanlah yang lebih indah dari cerita yang kubuat.

Sebagai anak yang terlahir di desa. Aku merasakan betul bagaimana hidup disana. Budaya dan rasa saling memiliki begitu kuat. Selain dari itu, meski sebagai anak desa aku juga berhak memiliki banyak mimpi yang mesti kuwujudkan. Bukankah hal terpenting dalam hidup adalah seberapa kuat hati untuk mewujudkannya. Dan ini akan menjadi ceritaku setelah pulang nanti pasti kuceritakan kepada kekasihku. Betapa indahnya mewujudkan mimpi itu. Walau harus berkorban keringat bercucuran menyelimuti tubuh.

Dan kemalalah, gadis yang selalu membuatku begitu bergairah dan percaya diri. Dia selalu mengajariku bagaimana memelihara hati. Gadis manja yang menyukai hujan dialah kekasih pertamaku. Orang yang pertama mengenalkanku pada arti hati. Sekali lagi, dialah kemalaku. Kemala, kekasihku.

Menjelang keberangkatanku ke kota. Tiba-tiba kulihat sosok tubuh, pelan-pelan melangkah mendekatiku. Wajahnya tidak asing lagi ketika dia berdiri tegak di hadapanku. Lalu memberikan amplop kepadaku.

“Ki, ini ada kiriman dari Kemala. Aku langsung pamit pulang soalnya masih mau kerumah kakek diajak ibu malam ini” aku hanya menganggukkan kepala lalu dia membalikkan tubuhnya dan terus berjalan. Kupandangi dia sampai akhirnya hilang dalam mataku. 

Aku langsung melangkah menuju ke kamar. Dengan hati dilanda penasaran membuat jantungku berdetak lebih kencang. Tidak biasanya dia mengirimkan surat lewat orang lain atau temannya. Sesampainya di kamar. Lalu ku tutup pintu itu dan pelan-pelan kubuka isi dari amplop kiriman dari Kemala dan isinya begini,

Kita tidak akan pernah tahu apa yang terbaik untuk kita. Begitu pula dengan cinta. Tetapi aku masih yakin, kelak kita akan sampai pada jalan kepulangan. Aku tahu, mungkin kamu akan terkejut dengan kedatangan surat ini yang kutitip kepada temanku. Sebab, aku tidak ingin melihat airmatamu. Aku ingin mengenangmu sebagai lelakiku yang periang sebagaimana kemarin ketika ketemu di pantai. Kita anggap saja, itulah kenangan terakhir kita.

Aku berterima kasih kepada tuhanku. Sebab, bersamamu aku menemukan ketenangan hati seperti saat aku sedang rindu dengan tuhanku. Sungguh, kamu lelaki terbaik yang pernah mengisi hari-hariku. Aku juga tahu, dan bahkan mengerti. Setiap jalan perpisahan pasti akan terluka. Dan aku tidak ingin membuatmu terluka lebih lama.

Aku hanya ingin melihat kamu sukses diluar sana. Aku hanyalah seorang gadis manja yang menyukai hujan. Sebab bagiku, hujan adalah kenangan. Dan aku tidak ingin ada hujan di matamu setelah kamu membaca suratku. Aku ingin melepasmu terbang tinggi sebagaimana mimpi-mimpi yang hendak ingin kamu miliki. 

Aku percaya, suatu saat kamu pasti akan menemukan gadis yang lebih baik. Dan aku selalu berdoa untukmu. Namamu, tetap kuingat dalam ingatanku. Selamat jalan, lelakiku. Jaga diri baik-baik. Sebagai anak yang baik. Kamu pasti bisa jalani ini tanpa namaku. Dari Kemala”.

Sejak kejadian itu, aku dilema antara berangkat dan tidak. Mimpi yang sudah tertata tiba-tiba hilang dalam ingatanku. Yang dapat kuingat kali ini, hanyalah wajah Kemala dan kedua orang tuaku. Ternyata bukan hanya Kemalalah yang menyukai hujan. Tetapi, termasuk juga diriku. Hujan seringkali kali turun di mataku ketika awan diingatanku mengingatkanku pada sosok Kemala.

Kadang aku berpikir, dan barangkali memang benar. Apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut tuhan baik. Sebab, dalam hidup kita hanya di hadapkan dua hal antara bahagia dan terluka. Dan kita hanya perlu meluangkan hati untuk menikmati segalanya. Agar terasa indah dirasakan. Dengan terluka, hati akan terasah.

Pada akhirnya, kakiku melangkah meski tidak setegar tiang lampu di jalan-jalan raya. Aku berangkat membawa luka dan sejuta harapan. Terluka karena kehilangan sosok Kemala dan harapan dari seorang yang dengan sabar merawatku. Tak ada yang perlu di sesali. Perjalanan hidup hanya sekali dan tak kan terulang kembali.
Hari-hari berikutnya, aku percaya, bahwa cerita akan indah bila pada waktunya. Hanya soal waktu, kapan semuanya akan terjadi. Dan aku juga tidak lupa sebagai anak desa. Bahwa, hidup bukan hanya berkeluh kesah. Melainkan panggung untuk berkarya. Aku ingin menikmati segala bentuk pertunjukan dalam panggung hidup. Entah sebagai tokoh terluka maupun bahagia.

Bagiku, cukup tuhanlah tempat aku bercerita. Aku ingin mengutarakan segala hal dalam hidupku. Tak ada yang perlu di salahkan. Sebagai manusia. Siap atau tidak kita pasti akan bahagia dan terluka. Sebab, seringkali apa yang kita miliki belum tentu milik kita seutuhnya.

Dan untukmu, Kemanala. Ternyata aku baru sadar dan tak perlu merasa heran lagi dengan hujan. Kita akan tumbuh dan besar menikmati masing-masing hujan. Hujan kemarin malam benar-benar membuat kelopak mataku banjir hingga kunyup basah di pipiku. Tubuhku gigil dalam sebuah ingatan. Sementara kedua bibirku hanya mampu tersenyum ketika hujan datang kembali.

Sebelum kita benar-benar saling melupakan. Ada satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Entahlah, kelak catatan ini akansampai ke tanganmu atau tidak. Aku hanya inginmenulis saja. Tak lebih dan hanya itu. Bunyinya begini,

Kemala, bila kelak kita tidak menemukan hujan lagi. Bukan berarti semuanya telah pergi. Aku tersungkur dalam tadarus panjang. Di mataku, aku kehilangan jejak.

Kemala, tersenyumlah. Aku ingin ternggelam didalamnya. Meleburkan segala rindu. Mentasbihkan namamu atas nama cinta. Maka, lakukanlah, biar kupetik bulan pada malam-malammu.

Hujan kita adalah jalan kenangan. Waktu telah sampai pada jalan kepulangan. Kau dan aku. Kini bersama hujan yang lain.

Setelah kutulis sajak ini, lalu aku benar-benar tenggelam. Mengantarkanku pada ranjang harapan dan aku berbantal doa dari seorang ibu. Tiba-tiba, mataku terlelap dan semuanya menjadi hitam dan gelap.

Sumenep, 2015

Oleh: Lucky Xian Qi lahir di Sumenep. Siswa kelas akhir  di SMA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.


Detail

Anak Kecil Si Pemain Layang-Layang

Angin berdesir melambaikan padi-padiku. Burung-burung terbang mengembara di atas awan. Sementara wajah senja mulai kelihatan diantara dedaunan pohon siwalan dan kelapa. Seakan-akan sedang mengintip anak-anak yang sedang bermain layang-layang di tengah sawah bersama teman-temannya.

“Lihatlah, layang-layang itu” kata Rahman kepadaku yang sedari dari tadi ada di sampingku.
“Enak ya, jadi layang-layang bisa terbang tinggi di langit” ujarku.

“Coba kamu amati layang-layang yang paling tinggi itu. Menurutmu, layang-layang yang bisa terbang tinggi apakah karena anginnya yang kencang, talinya yang panjang atau yang membuat layang-layang itu memang orang yang ahli” ucap Rahman sambil menunjukkan pada layang-layang paling tinggi kepadaku.

Pertanyaan Rahman cukup membuat otakku lebih berputar dari biasanya. Membuatku setengah kebingungan untuk menemukan jawabannya. Sesekali, kutatap tubuh Rahman yang masih diam dengan tatapan tajam pada layang-layang paling tinggi. Sementara aku, mulai mengotak atik isi otakku sambil lalu menggaruk kepala.
Pelan-pelan, kuamati dari arah angin dan kencangnya angin yang berdesir. Lalu pada cara angin bagaimana membawa layang-layang itu bisa terbang tinggi. Setelah itu, mataku tiba-tiba tertuju pada anak kecil yang baru mau menerbangkan layang-layangnya. Ternyata, beberapa tarikan  saja, saat tali itu di ulurkan lebih panjang lalu ditarik dan ditahan sebentar. Akhirnya layang-layang itu mulai tinggi.

Kejadian itu membuatku sadar. Barangkali, hidup memang seperti layang-layang. Perpaduan tiga unsur yang bisa membuat layang-layang bisa terbang tinggi di atas awan. Antara tali, angin dan cara memilih bahan yang bagus untuk membuatnya. Perpaduan itulah yang menciptakan kesempurnaan untuk melayang. Barangkali, begitu pula dengan konsep kehidupan. Seharusnya, kita mengerti tentang tiga unsur yang harus terpadu dalam hidup. Antara makna dari usaha, doa lalu pasrah.

Hatiku mulai berbunga-bunga saat menemukan jawaban itu dari seorang anak kecil yang sedang baru mau memainkan layang-layangnya untuk bisa melayang tinggi. Tak tahan rasanya ingin segera aku katakan kepada Rahman jika jawabannya sudah kutemukan. Aku mengelus bahu Rahman pelan-pelan sambil lalu menunjukkan pada sebuah layang-layang yang menjadi pertanyaannya.

“Karena adanya perpaduan antara kondisi angin, tali dan bahan untuk membuat layang-layang itu” kataku kepada Rahman.
Mendengar jawabanku Rahman hanya menganggukan kepala saja dan membalas elusan seperti yang tadi aku lakukan kepadanya sebelum menjawab pertanyaannya. Kemudian, dia menunjukkan satu layang-layang yang putus. Melayang jauh entah kemana. Barangkali terbang mengikuti kemana angin membawanya.
“Kenapa layang-layang itu bisa putus?” tanya lagi Rahman kepadaku.

Kembali kutatap layang-layang itu. Ada yang melayang tinggi dan tiba-tiba saja, ada satu layang-layang mulai tinggi melayang yang awalnya berada di urutan paling bawah. Sesampainya diatas, saat tali itu menyilang dengan tali lainnya iut terjadi akibat angin sedikit kencang. Terjadilah keduanya saling melaju untuk melayang paling tinggi. Saat seperti itu. Satu layang-layang kembali putus. Dan nasibnya, sama seperti yang tadi. Terbang melayang entah kemana.

Ternyata tidak begitu susah untuk menemukan jawaban itu. Hanya saja, saat mendengar pertanyaan Rahman cukup membuat kepalaku jadi gatal. Kejadian yang kedua ini, kembali membuatku sadar. Barangkali, hanya perlu kerukunan dalam berteman untuk sampai pada tujuan dengan tidak mengorbankan lainnya .

“Man, Itu terjadi karena kondisi angin yang kencang. Sehingga membuat keduanya bertemu dalam suatu suasana yang sama di atas dan keduanya sama-sama memiliki niatan untuk bisa terbang tinggi melebihi lainnya. Dan itu tergantung manusia yang memainkannya” jawabku lagi kepada Rahman sambil melempar senyum saat dia hanya menganggukan kepala mendengarkan jawabanku.

Sesekali kupandangi padi-padiku yang mulai tumbuh menjulang ke langit. Air Mengalir diantara barisan padiku dengan tenang. Mengalir hingga padi-padiku merasakan kesejukan dan keteduhannya. Sementara burung pipit masih bertengker diantara pohon-pohon siwalan. Barangkali dia sedang mencari kelengahanku lalu turun untuk memakan padi-padiku bersama teman-temannya.

Angin berdesir menemaniku bersama Rahman di gubuk tua yang sejak tadi di duduki. Katanya kakekku, gubuk ini sudah lama dibuatnya semenjak kedua orang tuaku memiliki tanah sawah ini. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Pelan-pelan mataku melirik pada senja yang mulai menatapku lebih dari biasanya. Wajahnya lebih jelas, cahayanya mulai tenang dan sejuk di pandang. Sementara aku dan Rahman saling melempar senyum pada layang-layang yang melayang jauh setelah putus dari talinya.
Malang, 2015

Mawardi Stiawan, Lahir di desa Banuaju Barat Batang-Batang Sumenep. Lulusan dari Yayasan Taufiqurran dan PP. Annuqyah kemudian melanjutkan pendidikannya di Kota Malang.
Angin berdesir melambaikan padi-padiku. Burung-burung terbang mengembara di atas awan. Sementara wajah senja mulai kelihatan diantara dedaunan pohon siwalan dan kelapa. Seakan-akan sedang mengintip anak-anak yang sedang bermain layang-layang di tengah sawah bersama teman-temannya.

“Lihatlah, layang-layang itu” kata Rahman kepadaku yang sedari dari tadi ada di sampingku.
“Enak ya, jadi layang-layang bisa terbang tinggi di langit” ujarku.

“Coba kamu amati layang-layang yang paling tinggi itu. Menurutmu, layang-layang yang bisa terbang tinggi apakah karena anginnya yang kencang, talinya yang panjang atau yang membuat layang-layang itu memang orang yang ahli” ucap Rahman sambil menunjukkan pada layang-layang paling tinggi kepadaku.

Pertanyaan Rahman cukup membuat otakku lebih berputar dari biasanya. Membuatku setengah kebingungan untuk menemukan jawabannya. Sesekali, kutatap tubuh Rahman yang masih diam dengan tatapan tajam pada layang-layang paling tinggi. Sementara aku, mulai mengotak atik isi otakku sambil lalu menggaruk kepala.
Pelan-pelan, kuamati dari arah angin dan kencangnya angin yang berdesir. Lalu pada cara angin bagaimana membawa layang-layang itu bisa terbang tinggi. Setelah itu, mataku tiba-tiba tertuju pada anak kecil yang baru mau menerbangkan layang-layangnya. Ternyata, beberapa tarikan  saja, saat tali itu di ulurkan lebih panjang lalu ditarik dan ditahan sebentar. Akhirnya layang-layang itu mulai tinggi.

Kejadian itu membuatku sadar. Barangkali, hidup memang seperti layang-layang. Perpaduan tiga unsur yang bisa membuat layang-layang bisa terbang tinggi di atas awan. Antara tali, angin dan cara memilih bahan yang bagus untuk membuatnya. Perpaduan itulah yang menciptakan kesempurnaan untuk melayang. Barangkali, begitu pula dengan konsep kehidupan. Seharusnya, kita mengerti tentang tiga unsur yang harus terpadu dalam hidup. Antara makna dari usaha, doa lalu pasrah.

Hatiku mulai berbunga-bunga saat menemukan jawaban itu dari seorang anak kecil yang sedang baru mau memainkan layang-layangnya untuk bisa melayang tinggi. Tak tahan rasanya ingin segera aku katakan kepada Rahman jika jawabannya sudah kutemukan. Aku mengelus bahu Rahman pelan-pelan sambil lalu menunjukkan pada sebuah layang-layang yang menjadi pertanyaannya.

“Karena adanya perpaduan antara kondisi angin, tali dan bahan untuk membuat layang-layang itu” kataku kepada Rahman.
Mendengar jawabanku Rahman hanya menganggukan kepala saja dan membalas elusan seperti yang tadi aku lakukan kepadanya sebelum menjawab pertanyaannya. Kemudian, dia menunjukkan satu layang-layang yang putus. Melayang jauh entah kemana. Barangkali terbang mengikuti kemana angin membawanya.
“Kenapa layang-layang itu bisa putus?” tanya lagi Rahman kepadaku.

Kembali kutatap layang-layang itu. Ada yang melayang tinggi dan tiba-tiba saja, ada satu layang-layang mulai tinggi melayang yang awalnya berada di urutan paling bawah. Sesampainya diatas, saat tali itu menyilang dengan tali lainnya iut terjadi akibat angin sedikit kencang. Terjadilah keduanya saling melaju untuk melayang paling tinggi. Saat seperti itu. Satu layang-layang kembali putus. Dan nasibnya, sama seperti yang tadi. Terbang melayang entah kemana.

Ternyata tidak begitu susah untuk menemukan jawaban itu. Hanya saja, saat mendengar pertanyaan Rahman cukup membuat kepalaku jadi gatal. Kejadian yang kedua ini, kembali membuatku sadar. Barangkali, hanya perlu kerukunan dalam berteman untuk sampai pada tujuan dengan tidak mengorbankan lainnya .

“Man, Itu terjadi karena kondisi angin yang kencang. Sehingga membuat keduanya bertemu dalam suatu suasana yang sama di atas dan keduanya sama-sama memiliki niatan untuk bisa terbang tinggi melebihi lainnya. Dan itu tergantung manusia yang memainkannya” jawabku lagi kepada Rahman sambil melempar senyum saat dia hanya menganggukan kepala mendengarkan jawabanku.

Sesekali kupandangi padi-padiku yang mulai tumbuh menjulang ke langit. Air Mengalir diantara barisan padiku dengan tenang. Mengalir hingga padi-padiku merasakan kesejukan dan keteduhannya. Sementara burung pipit masih bertengker diantara pohon-pohon siwalan. Barangkali dia sedang mencari kelengahanku lalu turun untuk memakan padi-padiku bersama teman-temannya.

Angin berdesir menemaniku bersama Rahman di gubuk tua yang sejak tadi di duduki. Katanya kakekku, gubuk ini sudah lama dibuatnya semenjak kedua orang tuaku memiliki tanah sawah ini. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Pelan-pelan mataku melirik pada senja yang mulai menatapku lebih dari biasanya. Wajahnya lebih jelas, cahayanya mulai tenang dan sejuk di pandang. Sementara aku dan Rahman saling melempar senyum pada layang-layang yang melayang jauh setelah putus dari talinya.
Malang, 2015

Mawardi Stiawan, Lahir di desa Banuaju Barat Batang-Batang Sumenep. Lulusan dari Yayasan Taufiqurran dan PP. Annuqyah kemudian melanjutkan pendidikannya di Kota Malang.
Detail

Mutiara Hatiku


Oleh: Hasby*
he ......

kau gadis berkerudung boleh kah aku mengenal kamu ,..
tapi apa ya pantas diri ini mengenalmu ,..
tak ada keberanian untuk menyapa,..
hanya bisa memandang mu dari kejauhan,..
tapi mengapa hati ini seakan ingin mengenal mu ,..
dalam hatiku berkata "siapa sih kamu ,...?"..


ingin sekali ku bertyanya langsung pada mu namun tak ada keberanian,...
hanya dengan bathinku ku sellu menyapa mu ,..
dan bertanya ,..
siapa sih kamu ,..
dan dari mana asal mu,..
tak banyak aku lakukan ,.
dan segeralah ku bertanya kepada temen yg mungkin mengenal mu,..
dan ahirnya ku memberanikan diriku meminta dan bertanya tentang mu ,..
dan ahirnya ku mendapatkan ,.
walau hanya nomer hapemu ,..
setelah itu ku simpan no mu dikontak hape ku ,...
ketakutan ku pun tak hilang walau sudah mndapatkan no mu ,..
bingung dan ahirnya ku pun berani menyapa mu ,.
walau hanya say hello ....
dan km pun merespond,..
begitu bahagianya diriku ketika mendapatkan balasan dari mu,..
setelah itu pun aku bingung dan mau nanya apa lagio setelah kau ku sapa,..

aku pun sangat merasakan kenyamanan namun selalu bingung apa yang mau aku tanyakan lagi,.
selayaknya mati kutu mendapatkan informasi tentang mu,..
dan ahirnya aku pun bertanya kembali dari manakah asal mu,..
gadis berkrudung??

hemmmm.. sepertinya aku kehabisan kata kata sehingga ku terdiam sejenak ,...
dan melanjutkan perbincangan antara aku dan dia ,...
getaran hati yg begitu keras ku rasakan ,..
ah tanda tanda apa sehingga aku malu malu ,.
padahal diriku lelaki ,.
dan sangat tak pantas untuk mnjadi mahluk pemalu,..
hehehehehe,..

ya sudahlah mungkin ku belum trbiasa ,..
karna hati ini belum bisa memposisikan ,..
waktu pun terus berputar dan aku pun mengikuti setiap detiknya,..
mungkin iya kedekatan kita begitu singkat ,..
dan ahirnya aku pun berani mengungkapkan apa yang hatiku rasakan ,..
walau hanya modal penasaran mungkin inilah awal ku mengenalmu ,..

si gadis berkrudung merah,...
mungkin kamu lah mutiara impian ku ,..
yang ku inginkan ,..
dan sangat bersyukur diriku mengenalmu ,..
harapan dan tatapan ku ketika ku bertemu kamu hanya bisa menggunakan hati ke hati,.
dan mungkin belum siap untuk bincang - bincang berdua dengan mu,..
tak apa lah ,..
suatu saat pun aku pasti berani dan memberanikan diriku menyapa mu,..
tiap kali ku ingin hubungi kamu,..
dan suatu saat nanti aku akan bisa bertemu dan bercanda dengan mu,..
ini mungkin awal dari sebuah perjuangan untuk mengenalmu lebih lama ,..
walau hanya waktu yg mungkin mempertemukan kita ,..
dan kaulah mimpiku ,..

si gadis Berkrudung merah.......
kenyamanan yang kau berikan seakan membawa ku ...
untuk memilikimu ,..
tuhan sangat adil sekali ...
sehingga diri ini diijinkan untuk mengenal dan memilikimu,.
besar harapan ku padamu,.
untuk jadi kekasih hatiku,..
dan "kau lah mutiara hatiku",...

*Penulis adalah pengelana sastra, tinggal di Banyuwangi, Jatim.

Oleh: Hasby*
he ......

kau gadis berkerudung boleh kah aku mengenal kamu ,..
tapi apa ya pantas diri ini mengenalmu ,..
tak ada keberanian untuk menyapa,..
hanya bisa memandang mu dari kejauhan,..
tapi mengapa hati ini seakan ingin mengenal mu ,..
dalam hatiku berkata "siapa sih kamu ,...?"..


ingin sekali ku bertyanya langsung pada mu namun tak ada keberanian,...
hanya dengan bathinku ku sellu menyapa mu ,..
dan bertanya ,..
siapa sih kamu ,..
dan dari mana asal mu,..
tak banyak aku lakukan ,.
dan segeralah ku bertanya kepada temen yg mungkin mengenal mu,..
dan ahirnya ku memberanikan diriku meminta dan bertanya tentang mu ,..
dan ahirnya ku mendapatkan ,.
walau hanya nomer hapemu ,..
setelah itu ku simpan no mu dikontak hape ku ,...
ketakutan ku pun tak hilang walau sudah mndapatkan no mu ,..
bingung dan ahirnya ku pun berani menyapa mu ,.
walau hanya say hello ....
dan km pun merespond,..
begitu bahagianya diriku ketika mendapatkan balasan dari mu,..
setelah itu pun aku bingung dan mau nanya apa lagio setelah kau ku sapa,..

aku pun sangat merasakan kenyamanan namun selalu bingung apa yang mau aku tanyakan lagi,.
selayaknya mati kutu mendapatkan informasi tentang mu,..
dan ahirnya aku pun bertanya kembali dari manakah asal mu,..
gadis berkrudung??

hemmmm.. sepertinya aku kehabisan kata kata sehingga ku terdiam sejenak ,...
dan melanjutkan perbincangan antara aku dan dia ,...
getaran hati yg begitu keras ku rasakan ,..
ah tanda tanda apa sehingga aku malu malu ,.
padahal diriku lelaki ,.
dan sangat tak pantas untuk mnjadi mahluk pemalu,..
hehehehehe,..

ya sudahlah mungkin ku belum trbiasa ,..
karna hati ini belum bisa memposisikan ,..
waktu pun terus berputar dan aku pun mengikuti setiap detiknya,..
mungkin iya kedekatan kita begitu singkat ,..
dan ahirnya aku pun berani mengungkapkan apa yang hatiku rasakan ,..
walau hanya modal penasaran mungkin inilah awal ku mengenalmu ,..

si gadis berkrudung merah,...
mungkin kamu lah mutiara impian ku ,..
yang ku inginkan ,..
dan sangat bersyukur diriku mengenalmu ,..
harapan dan tatapan ku ketika ku bertemu kamu hanya bisa menggunakan hati ke hati,.
dan mungkin belum siap untuk bincang - bincang berdua dengan mu,..
tak apa lah ,..
suatu saat pun aku pasti berani dan memberanikan diriku menyapa mu,..
tiap kali ku ingin hubungi kamu,..
dan suatu saat nanti aku akan bisa bertemu dan bercanda dengan mu,..
ini mungkin awal dari sebuah perjuangan untuk mengenalmu lebih lama ,..
walau hanya waktu yg mungkin mempertemukan kita ,..
dan kaulah mimpiku ,..

si gadis Berkrudung merah.......
kenyamanan yang kau berikan seakan membawa ku ...
untuk memilikimu ,..
tuhan sangat adil sekali ...
sehingga diri ini diijinkan untuk mengenal dan memilikimu,.
besar harapan ku padamu,.
untuk jadi kekasih hatiku,..
dan "kau lah mutiara hatiku",...

*Penulis adalah pengelana sastra, tinggal di Banyuwangi, Jatim.
Detail

Perempuan Catur


 “Kamu mau mencongkel mataku?” kataku sedikit kasar.
“Apa?” jawabnya seolah-olah terjekut.
“Kamu mau mencongkel mataku?” kataku lagi.
“Apa maksudmu, aku tidak mengerti”     
“Sungguh! Kamu tidak mengerti sama sekali?”
“Iya.” jawabnya santai, seolah-olah tidak ada apa-apa.
“Sudahlah, susah memang mengajak orang yang hatinya sudah menjadi batu. Sampai mulutku berbusa pun, kamu tidak akan pernah mengerti.” suasana menjadi bisu, sebisu mulutku yang kaku. Hanya sepi menjadi hiasan diantara kami. Sesekali saling menatap lalu melemparnya lagi ke bumi.
Semestinya suasana pagi hari di Taman Kota Banuaju itu lebih sejuk dari pada tinggal di dalam rumah. Mungkin, tidak dengan suasana hatiku. Hatiku gersang. Penuh bebatuan yang sulit kujalani. Sementara angan-anganku mulai terbang melayang seperti burung terbang di atas awan.

“Kenapa diam atau malah kamu sudah bosan bersamaku” lalu aku mengangkat wajahnya untuk menatapku.
“Siapa yang bilang bosan denganmu” jawabnya ketus.
“Kenapa dari tadi hanya diam saja. Tidak biasanya kamu begini”
“Aku takut”
“Takut kenapa?”
“Aku takut”
“Takut kenapa?”
“Pokoknya aku takut. Jangan paksa aku untuk bicara. Aku benar-benar takut.” jawabnya mulai sedikit membuatku penasaran. Kami pun seperti yang tadi. Hanya diam dan saling menatap.

“Kenapa harus takut, Sayang?”
“Aku takut kamu marah lagi. Saat dulu, ketika aku tertangkap basah dan ketahuan selingkuh. Aku benar-benar takut sekali kalau kamu akan marah-marah lalu membentakku”
“Coba lihat wajahku, tatap mataku. Apakah aku menyeramkan sehingga membuatmu takut.”
“Tidak.”
“Terus kenapa?”
“Akh... sudahlah. Ini yang tidak aku suka darimu. Selalu memaksaku untuk menuruti semua keinginanmu. Selalu bawel dari dulu” aku memilih diam saat mendengar kata-katanya.
***
Sesekali, kami saling menatap lalu melemparnya lagi ke bumi. Sementara di sekitar kami orang-orang mulai berdatangan. Ada yang mau jualan, ada lagi yang hanya duduk berdua bersama pasangannya. Tidak hanya itu, anak kecil yang lagi bermain di taman menjadi pemandangan yang menyenangkan.

Kembali kutatap kedua bola matanya. Pelan-pelan kuamati sikapnya yang mulai beku. Sementara tanganku mulai memegangi tangannya. Tangannya terasa dingin dan kaku. Matanya sedikit layu. Aku merasa ada yang berbeda. Karena tidak biasanya dia bersikap begitu saat bertemu denganku. Aku melihat ketakutan di kedua bola matanya yang mulai sembab. Barangkali, takut aku akan memarahinya lagi seperti dulu.
           
Sebenarnya, kami menjalin hubungan sejak dia sudah lulus satu tahun dari bangku SMA. Kami sama-sama berasal dari satu kota.Saat itu, aku sudah kuliah sementara dia masih belum dan baru tahun ini dia mendaftar lagi untuk ikut seleksi masuk di kampus yang diinginkan. Seharusnya dia sudah menikmati bangku kuliahnya. Waktu pengumuman pelulusan kemarin ternyata tidak lulus dan akhirnya memutuskan untuk kuliah tahun berikutnya.

Seperti waktu terus berlalu. Hubungan kami pun begitu. Hari-hari kami lewati bersama. Sesekali kadang bertemu ketika ada pameran atau acara-acara yang di gelar di kota kami termasuk saat ada pameran. Hubungan ini tetap seperti yang dulu, utuh saat kami baru pacaran. Penuh romantis dan canda tawa bersama.

Waktu yang kami lewati tak terasa mengantarkan pada usia hubungan kami mencapai hampir dua tahun. Tepatnya sebelum satu bulan di hari ulang tahunnya. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk mencoba mendaftar kembali. Walau awalnya, hampir putus asa karena gagal diterima.

Dua bulan setelah mendaftar ternyata dia diterima. Aku melihatnya begitu bahagia karena dia lulus dan akan menjadi mahasiswi. Lalu segala persiapan dan peralatan mengenai keperluan kampus dan kosnya sudah mulai di persiapkan. Hari-harinya mulai disibukkan dengan menentukan jadwal berangkatnya sekaligus mencari info lowongan kos.

Aku menemaninya belanja untuk segala keperluan kosnya di sebuah Indomart dekat rumahnya. Saat belanja, kita seolah-seolah kayak suami istri. Kemana-kemana berdua sambil lalu membawa tempat belanja. Kamu tahu tidak kenapa aku berkata begitu? Karena waktu itu, aku yang membawa tempat keranjang sementara dia yang memilih barang-barang yang ingin dibeli.  Hingga pada akhirnya belanja pun selesai dan kami pulang. Sebelah timur rumahnya, itulah menjadi pertemuan terakhir kami karena malam harinya dia akan berangkat.
***
“Kamu kenapa takut?” tanyaku membuka perbicaan yang tadi sempat beku. Sementara dia tetap diam dan tak berucap apa pun. Kecuali tangannya semakin erat memegangi tanganku. Tiba-tiba dia mulai memelukku seerat dia memegang tanganku.
“Kamu kenapa? seperti maling yang di kejar orang-orang karena ketahuan mencuri saja” tanyaku kembali.
“Kamu memaksaku untuk bicara?” jawabnya pelan dan suaranya kecil lalu tiba-tiba menangis di pelukanku.
“Kenapa sekarang kamu jadi menangis. Apa aku kelihatan sangat menakutkan di matamu?” lalu aku memilih diam dan tak berkata-kata lagi. Tangan yang tadi di pegang erat kembali kulepas lalu kubalut airmatanya.

Aku membiarkan dia tetap memelukku. Hatiku mulai rapuh dan tak tega rasanya melihat dia menangis. Aku bingung. Sebab, dulu aku pernah berjanji untuk tidak akan marah-marah lagi apalagi membentaknya. Aku tidak ingin melihat airmatanya jatuh kembali karena emosiku. Karena airmata yang jatuh itu bagiku simbol dari kesedihan seseeorang. Dan aku tidak ingin melihat dia terluka atau sedih karena sikapku.
  
Sejak ketahuan dia selingkuh dengan lelaki lain. Aku benar-benar marah dan membentaknya hingga satu kata pun tak terucap kecuali tangisan yang kudengar. Kejadian itu, benar-benar membuatku sadar bahwa mencintai harus dengan setulus hati. Semenjak itulah, aku tak punya waktu untuk mencurigainya lagi apalagi berpikir dia akan berselingkuh. Dalam pikiranku yang ada hanyalah bagaimana membuatnya bahagia saat bersamaku. Itu saja.

“Kamu masih bahagia kan bersamaku?” kembali kubuka percakapan ini sambil lalu menatap wajahnya yang dari tadi menangis.
“Iya, aku masih bahagia bersamamu” sahutnya.
“Kenapa dari tadi hanya diam saja. Ketika kutanya kenapa takut, kamu malah bilang aku memaksamu untuk bicara dan ketika aku tanya lagi kamu malah menangis. Ada yang salah atau aku terlalu kasar cara berbicara?”
“Aku takut kamu akan membentakku lagi sama seperti dulu saat aku ketahuan selingkuh”
“Kamu begitu baik. Aku tak pantas untuk terus bersamamu. Kamu pantas memiliki perempuan yang lebih baik dan lebih cantik dariku”
“Maksudmu apa bilang begitu?”
“Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi”

Aku terdiam sambil lalu berpikir maksud dari perkataannya. Dia pun diam dan tiba-tiba melepaskan pelukannya. Aku membiarkannya diam lalu menatap wajahku dan kembali memegang erat tanganku.

“Jika aku berselingkuh lagi, kamu akan marah dan membentakku?” celetus pertanyaanya membuatku semakin heran.
“Kamu sedang selingkuh, sayangku?” tanyaku.
“Akh...” jawabnya singkat.
“Aku tidak mungkin marah lagi. Karena melihat airmatamu yang jatuh hanya membuatku semakin sedih. Jika begitu, kamu tidak merasakan kasih sayangku melainkan kegelisahan karena sering membentakmu. Aku tidak ingin begitu apalagi kepada kekasihku. Sekarang jujurlah, sebenarnya ada apa?”
“Kamu itu begitu baik. Aku merasa kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.”
“Aku cuma berharap, dari hubungan ini kita saling belajar memperbaiki. Aku khawatir saja, karena jarak hatimu bisa melupakanku.” sahutku.
“Iya” jawabnya singkat sambil menganggukkan kepala.
“Sebenarnya apa yang sedang kamu takutkan dariku?”
“Aku” bibirnya bergetar lalu dia memilih diam tak meneruskan pembicaaraanya
***
“Aku kenapa,” tanyaku lagi
“Aku ingin jujur satu hal kepadamu. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa yang kedua kalinya atau bahkan mungkin berkali-kali. Sebenarnya, aku lagi punya hubungan sama seseorang. Aku tidak pacaran dengannya. Tapi, kedekatanku dengannya sama seperti hubungan kita”
“Terus,” mataku mulai kedipan dan nafasku mulai tidak karuan.
“Kamu boleh mencari perempuan yang lebih baik dariku. Aku merasa tidak pantas lagi bersamamu. Kamu begitu baik dan aku mendustaimu,”
“Oh... maksudmu, kamu menyuruhku untuk pergi dari hidupmu?” sahutku. Setelah itu sampah-sampah mulai berceceran di sekitarku. Orang-orang dengan bahagianya bermain catur di belakangku dan aku tersenyum melihat permainan mereka.

Jogja, 2015

Mawardi Stiawan, Lahir di desa Banuaju Barat Batang-Batang Sumenep. Lulusan dari Yayasan Taufiqurran dan PP. Annuqyah kemudian melanjutkan pendidikannya di Kota Malang. Karya-karyanya dimuat di Radar Malang, Malang Post, Radar Madura, Kabar Madura, Buletin Sidogiri dll. 



 “Kamu mau mencongkel mataku?” kataku sedikit kasar.
“Apa?” jawabnya seolah-olah terjekut.
“Kamu mau mencongkel mataku?” kataku lagi.
“Apa maksudmu, aku tidak mengerti”     
“Sungguh! Kamu tidak mengerti sama sekali?”
“Iya.” jawabnya santai, seolah-olah tidak ada apa-apa.
“Sudahlah, susah memang mengajak orang yang hatinya sudah menjadi batu. Sampai mulutku berbusa pun, kamu tidak akan pernah mengerti.” suasana menjadi bisu, sebisu mulutku yang kaku. Hanya sepi menjadi hiasan diantara kami. Sesekali saling menatap lalu melemparnya lagi ke bumi.
Semestinya suasana pagi hari di Taman Kota Banuaju itu lebih sejuk dari pada tinggal di dalam rumah. Mungkin, tidak dengan suasana hatiku. Hatiku gersang. Penuh bebatuan yang sulit kujalani. Sementara angan-anganku mulai terbang melayang seperti burung terbang di atas awan.

“Kenapa diam atau malah kamu sudah bosan bersamaku” lalu aku mengangkat wajahnya untuk menatapku.
“Siapa yang bilang bosan denganmu” jawabnya ketus.
“Kenapa dari tadi hanya diam saja. Tidak biasanya kamu begini”
“Aku takut”
“Takut kenapa?”
“Aku takut”
“Takut kenapa?”
“Pokoknya aku takut. Jangan paksa aku untuk bicara. Aku benar-benar takut.” jawabnya mulai sedikit membuatku penasaran. Kami pun seperti yang tadi. Hanya diam dan saling menatap.

“Kenapa harus takut, Sayang?”
“Aku takut kamu marah lagi. Saat dulu, ketika aku tertangkap basah dan ketahuan selingkuh. Aku benar-benar takut sekali kalau kamu akan marah-marah lalu membentakku”
“Coba lihat wajahku, tatap mataku. Apakah aku menyeramkan sehingga membuatmu takut.”
“Tidak.”
“Terus kenapa?”
“Akh... sudahlah. Ini yang tidak aku suka darimu. Selalu memaksaku untuk menuruti semua keinginanmu. Selalu bawel dari dulu” aku memilih diam saat mendengar kata-katanya.
***
Sesekali, kami saling menatap lalu melemparnya lagi ke bumi. Sementara di sekitar kami orang-orang mulai berdatangan. Ada yang mau jualan, ada lagi yang hanya duduk berdua bersama pasangannya. Tidak hanya itu, anak kecil yang lagi bermain di taman menjadi pemandangan yang menyenangkan.

Kembali kutatap kedua bola matanya. Pelan-pelan kuamati sikapnya yang mulai beku. Sementara tanganku mulai memegangi tangannya. Tangannya terasa dingin dan kaku. Matanya sedikit layu. Aku merasa ada yang berbeda. Karena tidak biasanya dia bersikap begitu saat bertemu denganku. Aku melihat ketakutan di kedua bola matanya yang mulai sembab. Barangkali, takut aku akan memarahinya lagi seperti dulu.
           
Sebenarnya, kami menjalin hubungan sejak dia sudah lulus satu tahun dari bangku SMA. Kami sama-sama berasal dari satu kota.Saat itu, aku sudah kuliah sementara dia masih belum dan baru tahun ini dia mendaftar lagi untuk ikut seleksi masuk di kampus yang diinginkan. Seharusnya dia sudah menikmati bangku kuliahnya. Waktu pengumuman pelulusan kemarin ternyata tidak lulus dan akhirnya memutuskan untuk kuliah tahun berikutnya.

Seperti waktu terus berlalu. Hubungan kami pun begitu. Hari-hari kami lewati bersama. Sesekali kadang bertemu ketika ada pameran atau acara-acara yang di gelar di kota kami termasuk saat ada pameran. Hubungan ini tetap seperti yang dulu, utuh saat kami baru pacaran. Penuh romantis dan canda tawa bersama.

Waktu yang kami lewati tak terasa mengantarkan pada usia hubungan kami mencapai hampir dua tahun. Tepatnya sebelum satu bulan di hari ulang tahunnya. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk mencoba mendaftar kembali. Walau awalnya, hampir putus asa karena gagal diterima.

Dua bulan setelah mendaftar ternyata dia diterima. Aku melihatnya begitu bahagia karena dia lulus dan akan menjadi mahasiswi. Lalu segala persiapan dan peralatan mengenai keperluan kampus dan kosnya sudah mulai di persiapkan. Hari-harinya mulai disibukkan dengan menentukan jadwal berangkatnya sekaligus mencari info lowongan kos.

Aku menemaninya belanja untuk segala keperluan kosnya di sebuah Indomart dekat rumahnya. Saat belanja, kita seolah-seolah kayak suami istri. Kemana-kemana berdua sambil lalu membawa tempat belanja. Kamu tahu tidak kenapa aku berkata begitu? Karena waktu itu, aku yang membawa tempat keranjang sementara dia yang memilih barang-barang yang ingin dibeli.  Hingga pada akhirnya belanja pun selesai dan kami pulang. Sebelah timur rumahnya, itulah menjadi pertemuan terakhir kami karena malam harinya dia akan berangkat.
***
“Kamu kenapa takut?” tanyaku membuka perbicaan yang tadi sempat beku. Sementara dia tetap diam dan tak berucap apa pun. Kecuali tangannya semakin erat memegangi tanganku. Tiba-tiba dia mulai memelukku seerat dia memegang tanganku.
“Kamu kenapa? seperti maling yang di kejar orang-orang karena ketahuan mencuri saja” tanyaku kembali.
“Kamu memaksaku untuk bicara?” jawabnya pelan dan suaranya kecil lalu tiba-tiba menangis di pelukanku.
“Kenapa sekarang kamu jadi menangis. Apa aku kelihatan sangat menakutkan di matamu?” lalu aku memilih diam dan tak berkata-kata lagi. Tangan yang tadi di pegang erat kembali kulepas lalu kubalut airmatanya.

Aku membiarkan dia tetap memelukku. Hatiku mulai rapuh dan tak tega rasanya melihat dia menangis. Aku bingung. Sebab, dulu aku pernah berjanji untuk tidak akan marah-marah lagi apalagi membentaknya. Aku tidak ingin melihat airmatanya jatuh kembali karena emosiku. Karena airmata yang jatuh itu bagiku simbol dari kesedihan seseeorang. Dan aku tidak ingin melihat dia terluka atau sedih karena sikapku.
  
Sejak ketahuan dia selingkuh dengan lelaki lain. Aku benar-benar marah dan membentaknya hingga satu kata pun tak terucap kecuali tangisan yang kudengar. Kejadian itu, benar-benar membuatku sadar bahwa mencintai harus dengan setulus hati. Semenjak itulah, aku tak punya waktu untuk mencurigainya lagi apalagi berpikir dia akan berselingkuh. Dalam pikiranku yang ada hanyalah bagaimana membuatnya bahagia saat bersamaku. Itu saja.

“Kamu masih bahagia kan bersamaku?” kembali kubuka percakapan ini sambil lalu menatap wajahnya yang dari tadi menangis.
“Iya, aku masih bahagia bersamamu” sahutnya.
“Kenapa dari tadi hanya diam saja. Ketika kutanya kenapa takut, kamu malah bilang aku memaksamu untuk bicara dan ketika aku tanya lagi kamu malah menangis. Ada yang salah atau aku terlalu kasar cara berbicara?”
“Aku takut kamu akan membentakku lagi sama seperti dulu saat aku ketahuan selingkuh”
“Kamu begitu baik. Aku tak pantas untuk terus bersamamu. Kamu pantas memiliki perempuan yang lebih baik dan lebih cantik dariku”
“Maksudmu apa bilang begitu?”
“Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi”

Aku terdiam sambil lalu berpikir maksud dari perkataannya. Dia pun diam dan tiba-tiba melepaskan pelukannya. Aku membiarkannya diam lalu menatap wajahku dan kembali memegang erat tanganku.

“Jika aku berselingkuh lagi, kamu akan marah dan membentakku?” celetus pertanyaanya membuatku semakin heran.
“Kamu sedang selingkuh, sayangku?” tanyaku.
“Akh...” jawabnya singkat.
“Aku tidak mungkin marah lagi. Karena melihat airmatamu yang jatuh hanya membuatku semakin sedih. Jika begitu, kamu tidak merasakan kasih sayangku melainkan kegelisahan karena sering membentakmu. Aku tidak ingin begitu apalagi kepada kekasihku. Sekarang jujurlah, sebenarnya ada apa?”
“Kamu itu begitu baik. Aku merasa kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.”
“Aku cuma berharap, dari hubungan ini kita saling belajar memperbaiki. Aku khawatir saja, karena jarak hatimu bisa melupakanku.” sahutku.
“Iya” jawabnya singkat sambil menganggukkan kepala.
“Sebenarnya apa yang sedang kamu takutkan dariku?”
“Aku” bibirnya bergetar lalu dia memilih diam tak meneruskan pembicaaraanya
***
“Aku kenapa,” tanyaku lagi
“Aku ingin jujur satu hal kepadamu. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa yang kedua kalinya atau bahkan mungkin berkali-kali. Sebenarnya, aku lagi punya hubungan sama seseorang. Aku tidak pacaran dengannya. Tapi, kedekatanku dengannya sama seperti hubungan kita”
“Terus,” mataku mulai kedipan dan nafasku mulai tidak karuan.
“Kamu boleh mencari perempuan yang lebih baik dariku. Aku merasa tidak pantas lagi bersamamu. Kamu begitu baik dan aku mendustaimu,”
“Oh... maksudmu, kamu menyuruhku untuk pergi dari hidupmu?” sahutku. Setelah itu sampah-sampah mulai berceceran di sekitarku. Orang-orang dengan bahagianya bermain catur di belakangku dan aku tersenyum melihat permainan mereka.

Jogja, 2015

Mawardi Stiawan, Lahir di desa Banuaju Barat Batang-Batang Sumenep. Lulusan dari Yayasan Taufiqurran dan PP. Annuqyah kemudian melanjutkan pendidikannya di Kota Malang. Karya-karyanya dimuat di Radar Malang, Malang Post, Radar Madura, Kabar Madura, Buletin Sidogiri dll. 


Detail

Hot Articles

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | Redesigned : Tukang Toko Online
Copyright © 2011. Ayo Belanja.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger