Latest Products
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Dilantik, Tugas dan Amanah Organisasi Sebagai Bingkai Gerakan

MALANG – Pelantikan bersama, antara Pengurus Rayon (PR) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Nusantara dan Fisip Ad-Dhakil, Komisariat PMII Country Unitri Malang khidmat 2015-2016, menjadi titik awal bingkai gerakan.


Seperti yang disampaikan oleh Nur Ilham Kustantiyo, selaku Ketua Rayon PMII Nusantara, “Pengurus yang akan dilantik, agar supaya dapat mendahulukan dan melaksankan amanah serta tugas organisasi yang telah diembankan kepada Pengurus Rayon melebihi kepentingan pribadinya”. ujar mahasiswa asal pulau Dewata, Bali ini.

Mukhlisin, sebagai Ketua Rayon Fisip Ad-Dakhil Meyerukan bahwa, Islam Nusantara sebagai gagasan besar untuk perdamain. Yang pada dewasa ini muncul banyak ideologi dan memicu perdebatan bahkan saling berhantaman antar ideologi, sehingga tidak menemukan titik terang, bahkan menjadi jurang pemisah yang samakin mendalam.

“Ini adalah sebuah jawaban atas tema pelantikan pada malam hari ini, yaitu Islam Nusantara untuk Menaklukkan Dunia” sambung muhklisin, mahasiswa yang berdarah Madura ini.

“Maka kami, keluarga besar PMII yang lahir dari bangsa dalam bingkai Nusantara ini, tiada lain hanya untuk membendung gerakan-gerakan radikal”. Tambahnya.

Tidak jauh berbeda apa yang di sampaikan oleh Ketua Komisariat PMII Country Unitri Malang, Muhlas Adi Putra. Dia berharap agar, “mahasiswa atau anggota, terutama para Pengurus Rayon dapat melaksanakan tugasnya sebagai mahasiswa sejati”.

“Mahasiswa harus menjadi agen of change, agen of control dan agen of development. Selama tangan tetap terkepal dan merapatkan barisan untuk menegakkan keadilan, tidak perlu ada keragu-raguan dalam perjuangan”. Sambungnya.

Masih menurut Muhlas, “Karena, sekali bendera dikibarkan, maka pantang menyerah dan pantang berputus asa”. Tegas mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi ini.

Pelantikan tersebut berlangsung di Gedung Olah Raga (GOR) Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang pada Minggu (13/9) yang di hadiri oleh 243 orang peserta. Terdiri dari Anggota dan para undangan. (sa/tif).
MALANG – Pelantikan bersama, antara Pengurus Rayon (PR) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Nusantara dan Fisip Ad-Dhakil, Komisariat PMII Country Unitri Malang khidmat 2015-2016, menjadi titik awal bingkai gerakan.


Seperti yang disampaikan oleh Nur Ilham Kustantiyo, selaku Ketua Rayon PMII Nusantara, “Pengurus yang akan dilantik, agar supaya dapat mendahulukan dan melaksankan amanah serta tugas organisasi yang telah diembankan kepada Pengurus Rayon melebihi kepentingan pribadinya”. ujar mahasiswa asal pulau Dewata, Bali ini.

Mukhlisin, sebagai Ketua Rayon Fisip Ad-Dakhil Meyerukan bahwa, Islam Nusantara sebagai gagasan besar untuk perdamain. Yang pada dewasa ini muncul banyak ideologi dan memicu perdebatan bahkan saling berhantaman antar ideologi, sehingga tidak menemukan titik terang, bahkan menjadi jurang pemisah yang samakin mendalam.

“Ini adalah sebuah jawaban atas tema pelantikan pada malam hari ini, yaitu Islam Nusantara untuk Menaklukkan Dunia” sambung muhklisin, mahasiswa yang berdarah Madura ini.

“Maka kami, keluarga besar PMII yang lahir dari bangsa dalam bingkai Nusantara ini, tiada lain hanya untuk membendung gerakan-gerakan radikal”. Tambahnya.

Tidak jauh berbeda apa yang di sampaikan oleh Ketua Komisariat PMII Country Unitri Malang, Muhlas Adi Putra. Dia berharap agar, “mahasiswa atau anggota, terutama para Pengurus Rayon dapat melaksanakan tugasnya sebagai mahasiswa sejati”.

“Mahasiswa harus menjadi agen of change, agen of control dan agen of development. Selama tangan tetap terkepal dan merapatkan barisan untuk menegakkan keadilan, tidak perlu ada keragu-raguan dalam perjuangan”. Sambungnya.

Masih menurut Muhlas, “Karena, sekali bendera dikibarkan, maka pantang menyerah dan pantang berputus asa”. Tegas mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi ini.

Pelantikan tersebut berlangsung di Gedung Olah Raga (GOR) Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang pada Minggu (13/9) yang di hadiri oleh 243 orang peserta. Terdiri dari Anggota dan para undangan. (sa/tif).
Detail

Pandangan Hamzah Haz di HUT ke-70 RI: Indonesia Miskin Harta dan Akhlak

Jakarta – Republik Indonesia baru saja merayakan hari ulang tahunnya ke-70. Berbagai macam cara masyarakat merayakannya.

Namun ternyata kemerdekaan itu belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Indonesia masih dinilai miskin diusianya yang ke-70.


Penilaian itu diungkapkan oleh Wakil Presiden RI ke-9 Hamzah Haz. Menurut Hamzah, Indonesia saat ini masih miskin, baik secara harta maupun akhlak.

“Bangsa kita ini miskin kaffah, miskin total. Miskin harta, miskin akhlak. Nukan tidak ada yang bagus, ada tapi 10-15 persen,” ungkap Hamzah Haz saat berbincang dengan detikcom di kediamannya di Patra Kuningan, Jakarta Selatan.

Hamzah bukan tanpa alasan dalam memilik pandangan seperti itu. Menurutnya Indonesia yang kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia tidak menempatkan pendidikan sebagai pilar utama pembangunan.

“Harusnya simultan bidang ekonomi, terkait SDM. Jadi pendidikan tidak dibiarkan berjalan, gedung saja dibangun, tapi biaya pendidikan dibayar orang tua. Akibatnya rata-rata hanya kelas 1 SMP, sarjana berapa persen? jadi kalau hanya tamat 1 SMP, apa pekerjaan kita? ” tutur eks Ketum PPP dua periode ini.

Hamzah mencontohkan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand yang pada masa pembangunannya menitikberatkan kepada bidang pendidikan. Terlepas dari itu, banyak para sarjana yang tidak terjun di dunia kerja tidak sesuai dengan kuliahnya.

“Karena tidak menitik beratkan kepada pendidikan, akibatnya SDA tidak bisa kita kelola sendiri, kita jual barang gelondongan, SDM kita jual TKI/TKW, coba masuk akal ngga, Malaysia negara kecil. Kok tenaga kerja kita hampir 2 juta, SDA juga terbatas, kok kita numpang kerja disana. apa yang salah itu?” jelasnya. (ega/mad).

Dilansir dari www.news.detik.com 
Jakarta – Republik Indonesia baru saja merayakan hari ulang tahunnya ke-70. Berbagai macam cara masyarakat merayakannya.

Namun ternyata kemerdekaan itu belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Indonesia masih dinilai miskin diusianya yang ke-70.


Penilaian itu diungkapkan oleh Wakil Presiden RI ke-9 Hamzah Haz. Menurut Hamzah, Indonesia saat ini masih miskin, baik secara harta maupun akhlak.

“Bangsa kita ini miskin kaffah, miskin total. Miskin harta, miskin akhlak. Nukan tidak ada yang bagus, ada tapi 10-15 persen,” ungkap Hamzah Haz saat berbincang dengan detikcom di kediamannya di Patra Kuningan, Jakarta Selatan.

Hamzah bukan tanpa alasan dalam memilik pandangan seperti itu. Menurutnya Indonesia yang kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia tidak menempatkan pendidikan sebagai pilar utama pembangunan.

“Harusnya simultan bidang ekonomi, terkait SDM. Jadi pendidikan tidak dibiarkan berjalan, gedung saja dibangun, tapi biaya pendidikan dibayar orang tua. Akibatnya rata-rata hanya kelas 1 SMP, sarjana berapa persen? jadi kalau hanya tamat 1 SMP, apa pekerjaan kita? ” tutur eks Ketum PPP dua periode ini.

Hamzah mencontohkan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand yang pada masa pembangunannya menitikberatkan kepada bidang pendidikan. Terlepas dari itu, banyak para sarjana yang tidak terjun di dunia kerja tidak sesuai dengan kuliahnya.

“Karena tidak menitik beratkan kepada pendidikan, akibatnya SDA tidak bisa kita kelola sendiri, kita jual barang gelondongan, SDM kita jual TKI/TKW, coba masuk akal ngga, Malaysia negara kecil. Kok tenaga kerja kita hampir 2 juta, SDA juga terbatas, kok kita numpang kerja disana. apa yang salah itu?” jelasnya. (ega/mad).

Dilansir dari www.news.detik.com 
Detail

PMII Kota Malang Sikapi Kritis Interdependensi PMII-NU

MALANG – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII Kota Malang) pada hari senin, (13/4) menggelar Dialog Pergerakan dengan tema “Menyoal Interdependensi PMII-NU”

Setelah sebelumnya kegelisahan ini coba disikapi secara kelembagaan oleh PMII Universitas Islam Malang (Unisma), kali ini dialog diadakan untuk menampung seluruh aspirasi PMII dibawah Koordinasi PC PMII Kota Malang.
Hal ini dilakukan agar kegelisahan di tataran basis dapat terjawab dan hasil dari dialog ini akan direkomendasikan kepada PB PMII dan PBNU dengan pernyataan secara tertulis nantinya sambung Habiburrahman ES, Ketua Umum PC PMII Kota Malang.
Menurut sahabat Romdlon Muchammad, PMII dengan Independen menjadi lebih berkembang dari sebelumnya, banyaknya cabang dan kader PMII saat ini menjadi pembuktian bahwa PMII lebih baik Independen.
Manfaat dari Independen ini menjadikan PMII lebih leluasa untuk bergerak baik secara kaderisasi maupun gerakan, sehingga PMII tidak tergantung pada petuah siapapun dalam melaksanakan tugas keorganisasian.
Lebih dari itu, NU meminta PMII menjadi banom menurutnya lebih pada kepentingan politis elite pengurus NU semata dengan beberapa faktor antara lain komposisi kepengurusan NU mulai disusupi non Nahdliyyin dan tidak sistematisnya sistem pengkaderan di tubuh NU.
Berbeda dengan mas Romdlon, Sapaan akrab Romdlon Muchammad. Menurut sahabat Fauzan Alfas PMII dibentuk atas dasar kegelisahan mahasiswa nahdliyyin waktu itu, dan perlu diingat bahwa PMII tidak dibentuk oleh NU, namun pembentukannya atas inisiatif mahasiswa yang berlatar belakang Nahdliyyin (NU) pada waktu itu.
Struktural dalam tubuh NU selalu tidak setuju terhadap PMII, terbukti dengan banyaknya kiyai yang tidak setuju berdirinya PMII pada saat itu, begitupun dengan proses Independen dan Interdependennya PMII pun kiyai NU masih banyak yang tidak setuju jika PMII tidak kembali ke NU.
Perlu ditegaskan bahwa PMII didirikan oleh mahasiswa yang berlatar belakang NU, dan NU tidak pernah membentuk organisasi apapun menurut apa yang saya ketahui, tegasnya saat memberikan penutupan prolog kepada peserta dialog yang terdiri dari perwakilan Pengurus Komisariat dan Rayon.
Kesimpulannya adalah jika PMII menjadi banom NU maka tidak hanya PMII yang akan mengalami stagnasi bahkan kemunduran, namun lebih dari itu semua adalah NU pun akan menjadi berantakan karena akan menjadi kacau dengan kehadiran PMII dalam tubuh NU.
Dengan adanya interdependensi PMII-NU adalah sebuah komitmen nyata bahwa PMII dengan NU tidak dapat dipisahkan, karena antara keduanya entah PMII maupun NU sudah pasti saling membutuhkan.
Selanjutnya dialog tersebut diteruskan dengan pengambilan sikap apakah sepakat dengan Independen-Interdependen atau Dependen secara kelembagaan dengan disertai alasan oleh perwakilan Pengurus Komisariat dibawah koordinasi PC PMII Kota Malang.
Kontributor: Ahmad Fairozi
Editor: Mawardi
MALANG – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII Kota Malang) pada hari senin, (13/4) menggelar Dialog Pergerakan dengan tema “Menyoal Interdependensi PMII-NU”

Setelah sebelumnya kegelisahan ini coba disikapi secara kelembagaan oleh PMII Universitas Islam Malang (Unisma), kali ini dialog diadakan untuk menampung seluruh aspirasi PMII dibawah Koordinasi PC PMII Kota Malang.
Hal ini dilakukan agar kegelisahan di tataran basis dapat terjawab dan hasil dari dialog ini akan direkomendasikan kepada PB PMII dan PBNU dengan pernyataan secara tertulis nantinya sambung Habiburrahman ES, Ketua Umum PC PMII Kota Malang.
Menurut sahabat Romdlon Muchammad, PMII dengan Independen menjadi lebih berkembang dari sebelumnya, banyaknya cabang dan kader PMII saat ini menjadi pembuktian bahwa PMII lebih baik Independen.
Manfaat dari Independen ini menjadikan PMII lebih leluasa untuk bergerak baik secara kaderisasi maupun gerakan, sehingga PMII tidak tergantung pada petuah siapapun dalam melaksanakan tugas keorganisasian.
Lebih dari itu, NU meminta PMII menjadi banom menurutnya lebih pada kepentingan politis elite pengurus NU semata dengan beberapa faktor antara lain komposisi kepengurusan NU mulai disusupi non Nahdliyyin dan tidak sistematisnya sistem pengkaderan di tubuh NU.
Berbeda dengan mas Romdlon, Sapaan akrab Romdlon Muchammad. Menurut sahabat Fauzan Alfas PMII dibentuk atas dasar kegelisahan mahasiswa nahdliyyin waktu itu, dan perlu diingat bahwa PMII tidak dibentuk oleh NU, namun pembentukannya atas inisiatif mahasiswa yang berlatar belakang Nahdliyyin (NU) pada waktu itu.
Struktural dalam tubuh NU selalu tidak setuju terhadap PMII, terbukti dengan banyaknya kiyai yang tidak setuju berdirinya PMII pada saat itu, begitupun dengan proses Independen dan Interdependennya PMII pun kiyai NU masih banyak yang tidak setuju jika PMII tidak kembali ke NU.
Perlu ditegaskan bahwa PMII didirikan oleh mahasiswa yang berlatar belakang NU, dan NU tidak pernah membentuk organisasi apapun menurut apa yang saya ketahui, tegasnya saat memberikan penutupan prolog kepada peserta dialog yang terdiri dari perwakilan Pengurus Komisariat dan Rayon.
Kesimpulannya adalah jika PMII menjadi banom NU maka tidak hanya PMII yang akan mengalami stagnasi bahkan kemunduran, namun lebih dari itu semua adalah NU pun akan menjadi berantakan karena akan menjadi kacau dengan kehadiran PMII dalam tubuh NU.
Dengan adanya interdependensi PMII-NU adalah sebuah komitmen nyata bahwa PMII dengan NU tidak dapat dipisahkan, karena antara keduanya entah PMII maupun NU sudah pasti saling membutuhkan.
Selanjutnya dialog tersebut diteruskan dengan pengambilan sikap apakah sepakat dengan Independen-Interdependen atau Dependen secara kelembagaan dengan disertai alasan oleh perwakilan Pengurus Komisariat dibawah koordinasi PC PMII Kota Malang.
Kontributor: Ahmad Fairozi
Editor: Mawardi
Detail

PC PMII Kota Malang Gelar Dialog Pergerakan “Menyoal Interdependensi PMII-NU”

MALANG – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII Kota Malang) pada hari senin, (13/4) menggelar Dialog Pergerakan dengan tema “Menyoal Interdependensi PMII-NU”

Dialog tersebut digelar di Pondok Pesantren Al-Hikam, Jl. Cengger Ayam Kota Malang, yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB. s/d 23.00 WIB. Dengan menghadirkan perwakilan dari Pengurus Komisariat, Rayon.
Ketua Pelaksana Dialog Pergerakan sahabat M. Imbarhotur Mowaviq menyampaikan bahwa acara ini digelar atas kegelisahan sahabat-sahabat PMII Kota Malang terhadap permintaan Nahdlatul Ulama (NU) yang meminta PMII mejadi Badan Otonom (Banom NU).
Batas waktu yang diberikan kepada PMII sampai pelaksanaan Muktamar NU ke-33 di Jombang nanti, dengan ini maka perlu pengambilan pernyataan secara tegas melalui kelembagaan sambungnya saat memberikan sambutan dalam Opening Ceremony.
Sementara sahabat Habiburrahman ES, Ketua Umum PC. PMII Kota Malang menyampaikan dengan adanya dialog ini diharapkan sahabat-sahabati PMII Kota Malang dapat menyampaikan aspirasinya terkait permintaan NU tersebut.
Disamping itu, PMII Kota Malang akan merekomendasikan pernyataan sahabat-sahabat nantinya kepada PB PMII dan PBNU dengan mengirimkan surat secara resmi, karena kita adalah organisasi yang memiliki produk hukum sambungnya.
Sedangkan Keynote Speakers dalam Dialog Pergerakan tersebut adalah sahabat Fauzan Alfas (IKA-PMII Kota Malang sekaligus Ketua ISNU Kota Malang) dan Romdlon Muchammad (IKA-PMII dan Pengurus NU Kota Malang).
Kontributor: Ahmad Fairozi
Editor: Mawardi
MALANG – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII Kota Malang) pada hari senin, (13/4) menggelar Dialog Pergerakan dengan tema “Menyoal Interdependensi PMII-NU”

Dialog tersebut digelar di Pondok Pesantren Al-Hikam, Jl. Cengger Ayam Kota Malang, yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB. s/d 23.00 WIB. Dengan menghadirkan perwakilan dari Pengurus Komisariat, Rayon.
Ketua Pelaksana Dialog Pergerakan sahabat M. Imbarhotur Mowaviq menyampaikan bahwa acara ini digelar atas kegelisahan sahabat-sahabat PMII Kota Malang terhadap permintaan Nahdlatul Ulama (NU) yang meminta PMII mejadi Badan Otonom (Banom NU).
Batas waktu yang diberikan kepada PMII sampai pelaksanaan Muktamar NU ke-33 di Jombang nanti, dengan ini maka perlu pengambilan pernyataan secara tegas melalui kelembagaan sambungnya saat memberikan sambutan dalam Opening Ceremony.
Sementara sahabat Habiburrahman ES, Ketua Umum PC. PMII Kota Malang menyampaikan dengan adanya dialog ini diharapkan sahabat-sahabati PMII Kota Malang dapat menyampaikan aspirasinya terkait permintaan NU tersebut.
Disamping itu, PMII Kota Malang akan merekomendasikan pernyataan sahabat-sahabat nantinya kepada PB PMII dan PBNU dengan mengirimkan surat secara resmi, karena kita adalah organisasi yang memiliki produk hukum sambungnya.
Sedangkan Keynote Speakers dalam Dialog Pergerakan tersebut adalah sahabat Fauzan Alfas (IKA-PMII Kota Malang sekaligus Ketua ISNU Kota Malang) dan Romdlon Muchammad (IKA-PMII dan Pengurus NU Kota Malang).
Kontributor: Ahmad Fairozi
Editor: Mawardi
Detail

PMII Unisma Sikapi Ultimatum PBNU

MALANG -  Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Universitas Islam Malang (Unisma) selasa, (7/4) menggelar diskusi menyikapi Ultimatum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang meminta PMII kembali menjadi badan otonom (Banom) NU. Hal tersebut berkenaan dengan hasil Musyawarah Nasional Ulama Nahdlatul Ulama (Munas NU) pada tanggal 14 November 2014 lalu yang mengultimatum PMII untuk kembali menjadi banom NU dan jika tidak maka NU akan membentuk banom baru yang berada dikalangan perguruan tinggi.

Diskusi tersebut dihadiri oleh 55 anggota dan kader PMII Unisma. Peserta sangat antusias dengan diadakannya diskusi untuk menyikapi kegelisahan mereka akibat Ultimatum yang diberikan oleh PBNU. Untuk mengatasi kegelisahan tersebut, maka PMII Unisma dengan sigab menjawab ultimatum hasil Munas NU tersebut dengan menghadirkan narasumber yang memahami sejarah serta perkembangan PMII kedepannya.
Narasumber tersebut antara lain yaitu sahabat Fauzan Alfaz (Penulis buku simpul-simpul sejarah perjuangan PMII), Gus Nuruddin (Alumni PMII Unisma) dan sahabat Umar Hayyan (Ketua Mabincab PC PMII Kota Malang).
Menurut sahabat Fauzan Alfaz sebenarnya isu yang membuat gelisah sahabat-sahabati PMII di seluruh Indonesia ini sudah bergulir setiap NU mau melaksanakan Muktamar, menurutnya Independensi PMII sudah sangat tepat karena PMII merupakan organisasi mahasiswa yang selama kurun waktu Independen sangat dinamis, sehingga jika harus menjadi banom NU maka kader-kader PMII justru tidak akan lagi mampu untuk bersikap dinamis karena setiap geraknya akan dikontrol secara penuh oleh NU, sehingga akan sama seperti banom-banom NU lainnya.
Selain itu, dengan masuknya PMII ke struktural NU akan menciderai kader-kader dan alumni PMII yang sudah terbentuk melalui jalur independensi utamanya kader PMII yang bukan berasal dari NU (Non-NU) bahkan lebih ekstrim dengan nada sedikit bercanda bahwa jika harus menjadi banom NU maka PMII yang berada di kampus non-NU akan segera dibubarkan karena kampusnya sudah tidak sesuai dengan kampus-kampus NU.
Hal itu juga dipertegas oleh sahabat Umar Hayyan, Ketua Mabincab PC PMII Kota Malang, bahwa PMII tidak harus masuk kedalam NU karena sampai saat ini PMII tetap mengamalkan kultural NU dengan sikap Interdependensinya. Beliau mengatakan bahwa dengan masuknya PMII menjadi Banom NU akan menghambat daya nalar kritis dari kader-kader PMII, yang seharusnya melesat jauh jikalau PMII berada diluar struktural NU. Menurutnya harus diakui bahwa PMII telah menyumbangkan banyak alumninya untuk berkiprah didalam struktural NU dengan tanpa harus PMII masuk menjadi banom NU.
Berbeda dengan sahabat Fauzan dan sahabat Umar. Gus Nuruddin (Gus din) masih mempetanyakan sebenarnya ada kepentingan apa dari elit-elit NU ini, kok setiap menjelang pelaksanaan muktamar NU isu tersebut selalu disampaikan? Beliau beranggapan tentang adanya kepentingan tertentu dalam tubuh NU bukan semata-mata karena kader PMII dianggap sudah melenceng dari ke Aswajannya dan NU bukan lagi partai namun sepertinya lebih tertuju pada kepentingan elit dalam tubuh NU sendiri dan hal itulah yang harus ditemukan jawabannya oleh kader-kader PMII, pesan dari Gus din.
Diteruskan dengan pernyataan sikap, Salah seorang sahabat PMII yang berasal dari NTB mengatakan jika PMII menjadi banom NU maka dia akan keluar dari PMII dan itu di amini oleh seluruh peserta yang hadir dalam diskusi tersebut.
Kesimpulan dari diskusi tersebut bahwa PMII Unisma dengan para narasumber yang hadir menyatakan dengan tegas dan lantang bahwa menolak masuknya PMII untuk menjadi banom NU, sekarang adalah zaman keemasan PMII, jika NU meminta PMII menjadi banom NU itu hanya kepentingan para elit pengurus struktural NU saja dan akan memberikan dampak yang sangat merugikan bagi perkembangan PMII kedepannya.
Kontributor: Achmad Fauzan
Editor: Mawardi Stiawan
MALANG -  Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Universitas Islam Malang (Unisma) selasa, (7/4) menggelar diskusi menyikapi Ultimatum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang meminta PMII kembali menjadi badan otonom (Banom) NU. Hal tersebut berkenaan dengan hasil Musyawarah Nasional Ulama Nahdlatul Ulama (Munas NU) pada tanggal 14 November 2014 lalu yang mengultimatum PMII untuk kembali menjadi banom NU dan jika tidak maka NU akan membentuk banom baru yang berada dikalangan perguruan tinggi.

Diskusi tersebut dihadiri oleh 55 anggota dan kader PMII Unisma. Peserta sangat antusias dengan diadakannya diskusi untuk menyikapi kegelisahan mereka akibat Ultimatum yang diberikan oleh PBNU. Untuk mengatasi kegelisahan tersebut, maka PMII Unisma dengan sigab menjawab ultimatum hasil Munas NU tersebut dengan menghadirkan narasumber yang memahami sejarah serta perkembangan PMII kedepannya.
Narasumber tersebut antara lain yaitu sahabat Fauzan Alfaz (Penulis buku simpul-simpul sejarah perjuangan PMII), Gus Nuruddin (Alumni PMII Unisma) dan sahabat Umar Hayyan (Ketua Mabincab PC PMII Kota Malang).
Menurut sahabat Fauzan Alfaz sebenarnya isu yang membuat gelisah sahabat-sahabati PMII di seluruh Indonesia ini sudah bergulir setiap NU mau melaksanakan Muktamar, menurutnya Independensi PMII sudah sangat tepat karena PMII merupakan organisasi mahasiswa yang selama kurun waktu Independen sangat dinamis, sehingga jika harus menjadi banom NU maka kader-kader PMII justru tidak akan lagi mampu untuk bersikap dinamis karena setiap geraknya akan dikontrol secara penuh oleh NU, sehingga akan sama seperti banom-banom NU lainnya.
Selain itu, dengan masuknya PMII ke struktural NU akan menciderai kader-kader dan alumni PMII yang sudah terbentuk melalui jalur independensi utamanya kader PMII yang bukan berasal dari NU (Non-NU) bahkan lebih ekstrim dengan nada sedikit bercanda bahwa jika harus menjadi banom NU maka PMII yang berada di kampus non-NU akan segera dibubarkan karena kampusnya sudah tidak sesuai dengan kampus-kampus NU.
Hal itu juga dipertegas oleh sahabat Umar Hayyan, Ketua Mabincab PC PMII Kota Malang, bahwa PMII tidak harus masuk kedalam NU karena sampai saat ini PMII tetap mengamalkan kultural NU dengan sikap Interdependensinya. Beliau mengatakan bahwa dengan masuknya PMII menjadi Banom NU akan menghambat daya nalar kritis dari kader-kader PMII, yang seharusnya melesat jauh jikalau PMII berada diluar struktural NU. Menurutnya harus diakui bahwa PMII telah menyumbangkan banyak alumninya untuk berkiprah didalam struktural NU dengan tanpa harus PMII masuk menjadi banom NU.
Berbeda dengan sahabat Fauzan dan sahabat Umar. Gus Nuruddin (Gus din) masih mempetanyakan sebenarnya ada kepentingan apa dari elit-elit NU ini, kok setiap menjelang pelaksanaan muktamar NU isu tersebut selalu disampaikan? Beliau beranggapan tentang adanya kepentingan tertentu dalam tubuh NU bukan semata-mata karena kader PMII dianggap sudah melenceng dari ke Aswajannya dan NU bukan lagi partai namun sepertinya lebih tertuju pada kepentingan elit dalam tubuh NU sendiri dan hal itulah yang harus ditemukan jawabannya oleh kader-kader PMII, pesan dari Gus din.
Diteruskan dengan pernyataan sikap, Salah seorang sahabat PMII yang berasal dari NTB mengatakan jika PMII menjadi banom NU maka dia akan keluar dari PMII dan itu di amini oleh seluruh peserta yang hadir dalam diskusi tersebut.
Kesimpulan dari diskusi tersebut bahwa PMII Unisma dengan para narasumber yang hadir menyatakan dengan tegas dan lantang bahwa menolak masuknya PMII untuk menjadi banom NU, sekarang adalah zaman keemasan PMII, jika NU meminta PMII menjadi banom NU itu hanya kepentingan para elit pengurus struktural NU saja dan akan memberikan dampak yang sangat merugikan bagi perkembangan PMII kedepannya.
Kontributor: Achmad Fauzan
Editor: Mawardi Stiawan
Detail

Dejavu Caffe Gelar Acara Menarik Untuk Pengunjung Setia

Pelanggan Penyumbang Lagu yang Tampil bersama Band di Dejavu Caffe


KEPANJEN, Pemudapost - Perhelatan acara pada Hari Valentine yang di persembahkan terhadap pengunjung setia oleh Dejavu Caffe Kepanjen yang berada di jalan Panglima Sudirman No. 147 Ngadilangkung, dengan menghadirkan 2 (dua) Band Acoustic dan Blues Asal lokal Kepanjen sendiri membawakan alunan musik slow dan juga Blues yang menjadikan suasana menjadi lebih menarik dari hari biasanya.


Banyak pemuda-pemudi yang hadir bersama teman-teman atau sahabat mereka, ada juga yang hadir bersama pasangan mereka masing-masing untuk menghibur diri dengan mendengarkan suara indah dari alunan musik yang ditampilkan oleh kedua band Blues dan Acoustic yang setia menghibur pengunjung caffe sampai selesainya acara.

Bahkan salah seorang pelanggan setia Dejavu Caffe dengan senang hati turut menyumbangkan 3 (tiga) buah lagu untuk turut mengisi dan ikut meramaikan acara tersebut.

Koordinator acara Dejavu Caffe mengatakan acara hiburan music di hari Valentine sengaja kami hadirkan untuk menghibur pelanggan-pelangan setia Dejavu yang malam ini hadir di sini.

Kami juga menyiapkan berbagai macam doorprize dan hadiah lainnya untuk pelanggan yang hadir malam ini, tujuannya agar lebih akrab dengan tamu-tamu setia Dejavu Coffe dan menjadikan kesan yang indah untuk para pengunjung Dejavu Coffe pungkasnya melalui BlackBerry Massanger kepada pemudapost.

Penulis: Gita Putri Rahmawati

Editor: Mawardi Stiawan
Pelanggan Penyumbang Lagu yang Tampil bersama Band di Dejavu Caffe


KEPANJEN, Pemudapost - Perhelatan acara pada Hari Valentine yang di persembahkan terhadap pengunjung setia oleh Dejavu Caffe Kepanjen yang berada di jalan Panglima Sudirman No. 147 Ngadilangkung, dengan menghadirkan 2 (dua) Band Acoustic dan Blues Asal lokal Kepanjen sendiri membawakan alunan musik slow dan juga Blues yang menjadikan suasana menjadi lebih menarik dari hari biasanya.


Banyak pemuda-pemudi yang hadir bersama teman-teman atau sahabat mereka, ada juga yang hadir bersama pasangan mereka masing-masing untuk menghibur diri dengan mendengarkan suara indah dari alunan musik yang ditampilkan oleh kedua band Blues dan Acoustic yang setia menghibur pengunjung caffe sampai selesainya acara.

Bahkan salah seorang pelanggan setia Dejavu Caffe dengan senang hati turut menyumbangkan 3 (tiga) buah lagu untuk turut mengisi dan ikut meramaikan acara tersebut.

Koordinator acara Dejavu Caffe mengatakan acara hiburan music di hari Valentine sengaja kami hadirkan untuk menghibur pelanggan-pelangan setia Dejavu yang malam ini hadir di sini.

Kami juga menyiapkan berbagai macam doorprize dan hadiah lainnya untuk pelanggan yang hadir malam ini, tujuannya agar lebih akrab dengan tamu-tamu setia Dejavu Coffe dan menjadikan kesan yang indah untuk para pengunjung Dejavu Coffe pungkasnya melalui BlackBerry Massanger kepada pemudapost.

Penulis: Gita Putri Rahmawati

Editor: Mawardi Stiawan
Detail

Hot Articles

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | Redesigned : Tukang Toko Online
Copyright © 2011. Ayo Belanja.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger