Latest Products
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Ibu Adalah Keindahan


Membaca raut wajahmu ibu………..
Aku ingat pada malam perdamaian
ketika hangat sebuah mulut menyentuh kening

Ada
ukiran peta dibawah matamu
saat aku tanyakan tentang alasan kau menciumku?
lihat pada hari kemaren. Ketika sepanjang zaman kau menekan luka. Jawabmu


Maafkan aku ibu
bila selalu aku mencuri waktumu dengan tangis dan aduku
bila selalu aku sekat waktumu dengan rinduku
bila selalu aku tindih rasamu dengan sikapku
bilapun aku mengganggu setiap senyummu dengan ressahku

Ibuku………
mungkin aku anakmu yang paling tega meninggalkanmu disana
setelah segala yang ku mau
telah aku dapatkan

Aku mulai mengerti
kota ini memakasaku pergi dan kembali
Maafkan aku ibu
bila masih ku kotori doa-doamu
dalam hari yang terkatung tak menentu

Tetap aku adukan
pada sejarah
Dikeramaian kota ini
Aku mulai alpa segalah petuah
Ibulah peremuan  sederhana yang memiliki banyak sajak dikeseluruhan tubuh.
Tak ada umpama dan ibarat dari santun muka, pada tutur bahasanya.
Perempuan  yang mengajariku   kesederhanaan.

Ibu,akulah itu,  merpati betina yang kau beri makan sejak dulu kala,
Ingin sekali menarik nasib dari sisa tisu bekas
Saat terakhir kali mengelap muka dari comberan air dibelakang rumah
Ibu, aku mati imajinasi ketika harus menjadikanmu sajak dalam puisiku,
Engkaulah  diksi, yang memiliki estetik ter tinggi pada keindahan,
Keseliruhan darimu adalah puisi, hingga membuatku salah dalam memilih diksi-diksi.

Tapi aku mulai menuang rasaku untukmu lewat ruas jari jemariku yang terkadang alpa pada paras agungmu bu……
Hari ini hari ibu,
Ucapku untukmu
Maafkan aku
Maafkanlah bu………………
Bila selalu aku kikis perasaan mu dengan keluh dan aduku

Nay Juireng Dyah Jatiningrat
Mahasiswi Unitri Malang, saat ini aktif di UKM Teater KOPI.

Membaca raut wajahmu ibu………..
Aku ingat pada malam perdamaian
ketika hangat sebuah mulut menyentuh kening

Ada
ukiran peta dibawah matamu
saat aku tanyakan tentang alasan kau menciumku?
lihat pada hari kemaren. Ketika sepanjang zaman kau menekan luka. Jawabmu


Maafkan aku ibu
bila selalu aku mencuri waktumu dengan tangis dan aduku
bila selalu aku sekat waktumu dengan rinduku
bila selalu aku tindih rasamu dengan sikapku
bilapun aku mengganggu setiap senyummu dengan ressahku

Ibuku………
mungkin aku anakmu yang paling tega meninggalkanmu disana
setelah segala yang ku mau
telah aku dapatkan

Aku mulai mengerti
kota ini memakasaku pergi dan kembali
Maafkan aku ibu
bila masih ku kotori doa-doamu
dalam hari yang terkatung tak menentu

Tetap aku adukan
pada sejarah
Dikeramaian kota ini
Aku mulai alpa segalah petuah
Ibulah peremuan  sederhana yang memiliki banyak sajak dikeseluruhan tubuh.
Tak ada umpama dan ibarat dari santun muka, pada tutur bahasanya.
Perempuan  yang mengajariku   kesederhanaan.

Ibu,akulah itu,  merpati betina yang kau beri makan sejak dulu kala,
Ingin sekali menarik nasib dari sisa tisu bekas
Saat terakhir kali mengelap muka dari comberan air dibelakang rumah
Ibu, aku mati imajinasi ketika harus menjadikanmu sajak dalam puisiku,
Engkaulah  diksi, yang memiliki estetik ter tinggi pada keindahan,
Keseliruhan darimu adalah puisi, hingga membuatku salah dalam memilih diksi-diksi.

Tapi aku mulai menuang rasaku untukmu lewat ruas jari jemariku yang terkadang alpa pada paras agungmu bu……
Hari ini hari ibu,
Ucapku untukmu
Maafkan aku
Maafkanlah bu………………
Bila selalu aku kikis perasaan mu dengan keluh dan aduku

Nay Juireng Dyah Jatiningrat
Mahasiswi Unitri Malang, saat ini aktif di UKM Teater KOPI.
Detail

Surat Untuk Presiden

L.A
Semangat runtuh kami sampaikan kepada pak jokowi selaku presiden. yang sekarang duduk santai di meja makan kantor, sembari menikmati hidangan televisi yang berisi para penggerak berdemo.
sengaja saya kirim surat ini.. sekedar mengawali sapa hari yang semakin kelam dari peradaban.

Pak jokowi... disini banyak kegaduhan dan silang pendapat..
entah sebab apa dan karena apa..
mungkin bapak jokowi selaku presiden tahu.
saya rasa... kekelaman para rakyat akan menjadi abadi bila bapak tidak bersikap dan zigap dalam menyelesaikan kegaduhan ini.
sebab beku rakyat kali ini, merupakan situasi yang tak mudah mencair seperti es yang keluar dari lemarinya.
Jika saat ini bapak belum punya cara untuk mengatasi segala kebekuan, akan terasa baik dan benar, bila bapak pulang saja ke kampung halaman...
melepas dasi dan sepatu yang mengkilat...
dan segera pula mengganti minyak rambut...
karena jika bapak tidak segera pulang, saya khawatir banyak gelas sirup merah terarah pada kemeja yang biasa bapak pakai.
sampai disini dulu pak...
besok saya akan kirimkan surat ke dua.

Oleh:Nay Juireng Dyah Jatiningrat

Anggota Teater KOPI Unittri Malang.
L.A
Semangat runtuh kami sampaikan kepada pak jokowi selaku presiden. yang sekarang duduk santai di meja makan kantor, sembari menikmati hidangan televisi yang berisi para penggerak berdemo.
sengaja saya kirim surat ini.. sekedar mengawali sapa hari yang semakin kelam dari peradaban.

Pak jokowi... disini banyak kegaduhan dan silang pendapat..
entah sebab apa dan karena apa..
mungkin bapak jokowi selaku presiden tahu.
saya rasa... kekelaman para rakyat akan menjadi abadi bila bapak tidak bersikap dan zigap dalam menyelesaikan kegaduhan ini.
sebab beku rakyat kali ini, merupakan situasi yang tak mudah mencair seperti es yang keluar dari lemarinya.
Jika saat ini bapak belum punya cara untuk mengatasi segala kebekuan, akan terasa baik dan benar, bila bapak pulang saja ke kampung halaman...
melepas dasi dan sepatu yang mengkilat...
dan segera pula mengganti minyak rambut...
karena jika bapak tidak segera pulang, saya khawatir banyak gelas sirup merah terarah pada kemeja yang biasa bapak pakai.
sampai disini dulu pak...
besok saya akan kirimkan surat ke dua.

Oleh:Nay Juireng Dyah Jatiningrat

Anggota Teater KOPI Unittri Malang.
Detail

Maduralah Aku.. Akulah Kalian..

Sebutir garam aku bawa dari pulau kecil..
pulau yang menyimpan banyak sakit suka dan bahagia.
.
pulau pemilik tanah riang dengan seket wajah binar...
yah.... MATARAM.. (madura tanah garam) kata sebagian orang..

Bau semangat dari bajakan sawah
merindunya hingga sajakku pun tak kuasa..
inilah aku madura..
putrimu yang terlahir dengan jiwa semangat mencinta..
berbekal sebutir garam dan tanah kering sebagai jimat macopat merantau ke kota sebrang..
sebab engkau adalah aku.. dan aku adalah kalian..
menjadi satu karya dengan skenario yang sama..
madura.. aku titip segala risalah dan resah..
pula tentang kenangan masa kecil.. seketika aku kau manjakan dengan mainan buli dari laut... klereng bundar.. dan karet panjang..
Madura... daun siwalan sempat aku jadikan timba untuk menikmati garammu dulu...
semasa ayah telaten mengajariku membajakmu dengan kepingan emas.. melewati kelokan dan kepingan jalan yang belum beraspal.
engkau tetap aku..
dan akulah kalian..
hingga madura melebur menjadi sukmaku..

Oleh: Nay Juireng Dyah Jatiningrat

Anggota Teater KOPI Unitri Malang.
Sebutir garam aku bawa dari pulau kecil..
pulau yang menyimpan banyak sakit suka dan bahagia.
.
pulau pemilik tanah riang dengan seket wajah binar...
yah.... MATARAM.. (madura tanah garam) kata sebagian orang..

Bau semangat dari bajakan sawah
merindunya hingga sajakku pun tak kuasa..
inilah aku madura..
putrimu yang terlahir dengan jiwa semangat mencinta..
berbekal sebutir garam dan tanah kering sebagai jimat macopat merantau ke kota sebrang..
sebab engkau adalah aku.. dan aku adalah kalian..
menjadi satu karya dengan skenario yang sama..
madura.. aku titip segala risalah dan resah..
pula tentang kenangan masa kecil.. seketika aku kau manjakan dengan mainan buli dari laut... klereng bundar.. dan karet panjang..
Madura... daun siwalan sempat aku jadikan timba untuk menikmati garammu dulu...
semasa ayah telaten mengajariku membajakmu dengan kepingan emas.. melewati kelokan dan kepingan jalan yang belum beraspal.
engkau tetap aku..
dan akulah kalian..
hingga madura melebur menjadi sukmaku..

Oleh: Nay Juireng Dyah Jatiningrat

Anggota Teater KOPI Unitri Malang.
Detail

Surat Keputusan Cinta

Oleh: Imam J Larat*

Bagi segenap hati yang direnggut rindu
Kini aku memutuskan dan menetapkan
Tentang segala hal yang berkenaan dengan cinta
Tentang raga yang tak dapat dipisah
Tentang asa yang tak dapat kubendung
Relakanlah aku merituskan segala yang membuat gundah


Bismillahirrahmanirrahim
Kami sebagai penghuni kerinduan
Di negeri ini setelah:

Menimbang
Bahwa deni cinta di segenap jiwa
Aku rela terluka dan tersiksa
Sebab tidak ada sesuatu lebih mulia di hadapanku
Kecuali terluka mempertahnkanmu

Mengingat
Hari-hari terlampaui
;sesepoi angin waktu pagi
Seindah langit malam hari
Engaku meminta puisi sebagai mahar tekateki

Memperhatikan
Sejauh mana kita melangkah
Sesabar apa kita menghadapi cobaan
Dalam sejarah

Menetapkan
Memutuskan:
Aku rela mati di pangkuanmu
Demi cinta yang kubawa
;terikrarka seluruhnya
Dan surat keputusan ini tidak dapat diganggu gugat
Kecuali tuhan berkehendak lain
Jika ada kekeliruan akan diperbaiki di lain waktu

Ditetapkan: di suraga kerinduan
Pada tgl: keabadian



*penulis adalah pencinta sastra dan penlis muda, sedang aktif kuliah di Unitri Malang.
Oleh: Imam J Larat*

Bagi segenap hati yang direnggut rindu
Kini aku memutuskan dan menetapkan
Tentang segala hal yang berkenaan dengan cinta
Tentang raga yang tak dapat dipisah
Tentang asa yang tak dapat kubendung
Relakanlah aku merituskan segala yang membuat gundah


Bismillahirrahmanirrahim
Kami sebagai penghuni kerinduan
Di negeri ini setelah:

Menimbang
Bahwa deni cinta di segenap jiwa
Aku rela terluka dan tersiksa
Sebab tidak ada sesuatu lebih mulia di hadapanku
Kecuali terluka mempertahnkanmu

Mengingat
Hari-hari terlampaui
;sesepoi angin waktu pagi
Seindah langit malam hari
Engaku meminta puisi sebagai mahar tekateki

Memperhatikan
Sejauh mana kita melangkah
Sesabar apa kita menghadapi cobaan
Dalam sejarah

Menetapkan
Memutuskan:
Aku rela mati di pangkuanmu
Demi cinta yang kubawa
;terikrarka seluruhnya
Dan surat keputusan ini tidak dapat diganggu gugat
Kecuali tuhan berkehendak lain
Jika ada kekeliruan akan diperbaiki di lain waktu

Ditetapkan: di suraga kerinduan
Pada tgl: keabadian



*penulis adalah pencinta sastra dan penlis muda, sedang aktif kuliah di Unitri Malang.
Detail

Puisi; Kesaksian II

Oleh: Imam J Larat*

:pesek
Dari jauh telah kukumandangkan ayat-ayat rindu
Titik tumpuh
:Padamu
Segala ritus-ritus yang tak sempurna aku bacakan


Malam ini aku melihat purnama mewarnai segala perjalanan
Dari soekarno hatta menuju hati kita
Namun engkau belum mengerti
Menghilang mengatur jarak
Memalingkan wajah di balik jendela
Engkau tersenyum rapuh
Dibilang aku berdusta mengucapkannya

“engkaulah punama itu kekasihku”
Melebihi keindahan bintang-bintang berpijar
Yang datang secara tiba-tiba
Menumbuhkan segala rindu di malam-malamku

Senyummu adalah angin sepoi yang diterbangkan kamboja pada daunnya
Bibirmu irisan dewi-dewi makhlika sudarta
Yang diutus untuk menggoda kekanakanku
Matamu, alismu, hidungmu dan semuanya merupakan ciptaan tuhan paling sempurna
Paling sempurna, paling sempurna, sungguh menggoda

*penulis adalah pencinta sastra dan penlis muda, sedang aktif kuliah di Unitri Malang.
Oleh: Imam J Larat*

:pesek
Dari jauh telah kukumandangkan ayat-ayat rindu
Titik tumpuh
:Padamu
Segala ritus-ritus yang tak sempurna aku bacakan


Malam ini aku melihat purnama mewarnai segala perjalanan
Dari soekarno hatta menuju hati kita
Namun engkau belum mengerti
Menghilang mengatur jarak
Memalingkan wajah di balik jendela
Engkau tersenyum rapuh
Dibilang aku berdusta mengucapkannya

“engkaulah punama itu kekasihku”
Melebihi keindahan bintang-bintang berpijar
Yang datang secara tiba-tiba
Menumbuhkan segala rindu di malam-malamku

Senyummu adalah angin sepoi yang diterbangkan kamboja pada daunnya
Bibirmu irisan dewi-dewi makhlika sudarta
Yang diutus untuk menggoda kekanakanku
Matamu, alismu, hidungmu dan semuanya merupakan ciptaan tuhan paling sempurna
Paling sempurna, paling sempurna, sungguh menggoda

*penulis adalah pencinta sastra dan penlis muda, sedang aktif kuliah di Unitri Malang.
Detail

Sajak-Sajak Kholis Tek-Tek

Putri Malam

Kau seprti putri malam
Datang saat mimpi mimpi ku kelam
Kau kepakkan sayap mu Saat hati ini beku
Kau seperti putri malam
Memberi warna saat pelangiku sirna
Kau hiasi malamku dengan rayuanmu
Candamu yang menghiburku
Hingga tak terasa
Pagi telah menjemputku

 04-09-2014


 Kesendirian

Aku ingin terbang saat malam
Agar skit itu tdk trsa mencekam
Ku ingin brsama bintang
Agar tetap bersinar saat purnama datang
Ku ingin bersama rembulan
Agar tetap tersenyum saat senja datang
Aku pun ingin terbang saat saat mentari bersinar
Hingga senja yang kelam tidak kunjung datang

 23 02 2015


Kholis Tek-Tek, Salah satu mahasiswa Unitri Malang.

Putri Malam

Kau seprti putri malam
Datang saat mimpi mimpi ku kelam
Kau kepakkan sayap mu Saat hati ini beku
Kau seperti putri malam
Memberi warna saat pelangiku sirna
Kau hiasi malamku dengan rayuanmu
Candamu yang menghiburku
Hingga tak terasa
Pagi telah menjemputku

 04-09-2014


 Kesendirian

Aku ingin terbang saat malam
Agar skit itu tdk trsa mencekam
Ku ingin brsama bintang
Agar tetap bersinar saat purnama datang
Ku ingin bersama rembulan
Agar tetap tersenyum saat senja datang
Aku pun ingin terbang saat saat mentari bersinar
Hingga senja yang kelam tidak kunjung datang

 23 02 2015


Kholis Tek-Tek, Salah satu mahasiswa Unitri Malang.

Detail

Aku Pinjam Namamu Sebagai Pinta


Ya,
Hafiedz
Itulah namamu, ku panggili berulang-ulang
Hingga saatnya mentari padam.
Masih ingatkan, setiap jemari kita belajar menghitung detik
Pada daun, mengeja angka pada sajak rumput,
Hingga hitungan terakhir tak mampu kita labuhkan
Pada pohon yang dihinggapi ilalang
Ah...
Sayang, itulah desah rasaku
Saat ini, meski jawab pada pinta, masih Tuhan rahasiakan.

Kemarilah
Senandung aku lagukan pada kidung ingatanmu.
Ingin sekali mengajakmu pada relung dalam hening
Menuntas sketsa sajak yang terpental

Lalu...
Sama sama kita ninabobokan lagu merpati

Hafiedz…
Hafiedz…
Aku pinjam namamu sebagai doa malam ini, sayang
Akan ku jadikan pinta untuk memuja Tuhan
Syukur pada sujud
Tafakur mengeja aksara-aksara
Hingga Yasiin mampu kita tancapkan pada ubun yang agung


SUHARNANIK, aktif di PAC IPPNU  dan PC IPPNU Sumenep Teater Alif, Sanggar Wayang, Teater SEPI, Teater kOPI , PMII Country Unitri Malang, dan Radio Tri Fm Unitri Malang.


Ya,
Hafiedz
Itulah namamu, ku panggili berulang-ulang
Hingga saatnya mentari padam.
Masih ingatkan, setiap jemari kita belajar menghitung detik
Pada daun, mengeja angka pada sajak rumput,
Hingga hitungan terakhir tak mampu kita labuhkan
Pada pohon yang dihinggapi ilalang
Ah...
Sayang, itulah desah rasaku
Saat ini, meski jawab pada pinta, masih Tuhan rahasiakan.

Kemarilah
Senandung aku lagukan pada kidung ingatanmu.
Ingin sekali mengajakmu pada relung dalam hening
Menuntas sketsa sajak yang terpental

Lalu...
Sama sama kita ninabobokan lagu merpati

Hafiedz…
Hafiedz…
Aku pinjam namamu sebagai doa malam ini, sayang
Akan ku jadikan pinta untuk memuja Tuhan
Syukur pada sujud
Tafakur mengeja aksara-aksara
Hingga Yasiin mampu kita tancapkan pada ubun yang agung


SUHARNANIK, aktif di PAC IPPNU  dan PC IPPNU Sumenep Teater Alif, Sanggar Wayang, Teater SEPI, Teater kOPI , PMII Country Unitri Malang, dan Radio Tri Fm Unitri Malang.

Detail

Hot Articles

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | Redesigned : Tukang Toko Online
Copyright © 2011. Ayo Belanja.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger