Latest Products
Tampilkan postingan dengan label Kolom Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Informasi. Tampilkan semua postingan

Sumber Awan

Cahaya matahari terik di atas kepala. Bau dan suara kentut knalpot saling berebut. Bunyi klakson beriak susul menyusul. Debu-debu beterbangan berlomba dengan kendaraan yang bergerak merayap, macam kura-kura. Aku bergerak sesak dengan motor bebek buatan Jepang. Mataku lurus ke depan, mencari ruang salipan. Astaga, wajah sebuah mobil kekar besar nyaris mencium bodi belakang bebekku.


Detik per detik menjadi pisau waktu yang menyiksa. Jarak menjadi semakin panjang. Panas membakar. Udara bercampur bau besi, semacam bau karet yang dibakar. Jarak sesenti menjadi sangat berharga. Lebih berharga dari kematian.

Kendaraan masih berderap merayap padat ketika aku melepaskan diri dari kepulan asap knalpot yang menyesakkan dada. Kini aku menghirup udara segar yang merengsek diantara dedaunan. Berdiri di depan rumah Ayong yang jauhnya mencapai dua setengah kilometer dari kebisingan jalan raya.

Aku memandang ke arah halaman yang sunyi. Tak berani membawa kaki melewati pintu pagar. Belakangan, anjing di rumah ini semakin galak. Dulu, setiap kali aku datang, berdiri di teras rumah, anjing itu selalu ingin mencium kakiku. Berlomba dengan Ayong yang tiba-tiba mendaratkan bibir tebalnya di pipi.

Tiga bulan aku tidak kesini. Tak ada yang berubah. Rumah tetap sepi. Warung kecil di halaman masih berdiri kaku. Hanya anjing itu yang berubah. Semakin galak saja padaku. Melihatku melongo di balik pagar, binatang itu menatapku tajam. Melonglong, macam mengusir. Lupakah anjing itu bahwa aku adalah laki-laki yang dulu selalu ingin diciumnya?

Ayong berdiri di depan pagar, tersenyum. Mengenakan kaus merah muda, ketat membungkus tubuhnya yang padat. Rambut dibiarkan berurai, jatuh di kedua pundaknya. Aku terpukau.

“Kita mau pergi kemana?” Ayong duduk di belakang, di atas motor bebekku.

“Terserah kau. Hari ini kau yang menjadi guide nya,” aku menyalakan mesin.

“Ikuti saja arah jalan yang menanjak itu!” ia menunjuk arah di depan setelah kami tiba di pojok jalan.

“Jalan itu menuju kemana?”

“Aku tidak tahu juga. Ikuti saja!” ia mendekatkan bibirnya di telinga. “Bukankah mengobati kerinduan itu lebih penting daripada tujuan sebuah tempat?” suaranya lembut berbisik.

Aku terkekeh. Ayong menyandarkan kepala di pundak. Aku melesat di bawah terik matahari. 

Membelah kesiur angin yang gemulai.

Rumah-rumah sederhana berdiri di pinggir jalan yang menanjak. Di depan, jalan bercabang empat. 

Aku memilih belok kanan. Kali ini insting yang mengarahkan. Aku tak tahu kemana jalan hendak membawa. Tanah-tanah sangat hijau. Ilalang berjuntai setinggi laki-laki dewasa. Kerbau memakan rumput di tengah ladang. Gerombolan kambing berbulu putih berteduh di bawah pohon pisang.

Benar kata Ayong, apalah arti sebuah tujuan. Tidak ada yang lebih penting daripada menambatkan kerinduan.

Di depan, jalan kembali bercabang. Aku memilih belok kiri, menuju arah selatan. Padang rumput terbentang. Beberapa meter kemudian, rumah-rumah warga berdiri gagah. Warung makan dan beberapa rumah masih dalam pembangunan. Suara kesiur angin bertumpu dengan suara gesekan pohon bambu yang bergoyang, mengeluarkan siul gombal menggoda.

Aku berhenti. Di depan ada tiang kecil beserta sebuah plang bertuliskan Candi Sumber Awan 500 meter. Di bawah tulisan itu, arah tanda panah lurus ke arah kanan. Sumber Awan? Nama yang menggelitik mata.

“Kau sudah pernah pergi kesini?” tanyaku lamat-lamat menatap Ayong.

Ia menggeleng. “Belum, baru hari ini aku tahu kalau disini ada candi.”

“Kita pergi kesana?”

Ayong mengangguk, menggamit lenganku. Kami berjalan sejauh lima ratus meter. Melewati jalan setapak. Di sisinya mata air mengalir bening. Beberapa ikan tawar bergelanyut manja. Di seberang aliran mata air kecil itu, berjejer pohon bambu, rapat. Di sebelah kiri, hijau padi menghampar di atas sawah. Suara burung, serangga dan siul angin berpadu. Terdengar dari balik pepohonan yang rindang.

Anak-anak kecil melompat ke dalam sungai, yang dalamnya tidak seberapa. Ibu-ibu mereka tertawa melihat aksi anaknya yang menggemaskan.

Dua anak gadis sepantaran bergantian mengambil gambar. Di belakang mereka gemericik mata air pegunungan mengalir. Kuikuti aliran air itu hingga ke pangkal. Alamak, itu benar-benar indah. 

Sebuah telaga kecil terhampar. Airnya tenang. Indah nian telaga itu.

Pelan-pelan, kudengar sebuah suara yang sulit kukenali. Seperti datang dari kolong langit. Tidak, itu bukan suara orang lain. Itu suara hatiku yang meminta mendekat ke bibir telaga.

Baru dua langkah hendak mendekat, tiba-tiba Ayong sudah berdiri di depanku. Mataku sempurna menatap dadanya yang membusung ke depan. Pemandangan yang lebih indah dari sekadar telaga kecil di balik candi.

“Awan, aku ingin mendekat ke candi itu,” ia menarik lengan. Mensejajariku di sebelah. Sesekali pinggir dadanya yang lembut menyentuh bahuku.

Aku menatap lekat-lekat tubuh candi. Bentuknya persis stupa induk di tingkat Arupadhatu di puncak candi Borobudur. Macam gunung Arjuna, gagah perkasa. Puncaknya menusuk langit.

Aku tak begitu banyak tahu tentang makna simbol, apalagi tentang candi. Tapi coba bayangkan, berdiri di puncak candi ini atau di puncak gunung Arjuna. Angkat wajah menatap ke atas. Seperti terasa sangat dekat dengan langit, begitu dekat dengan sang pencipta. Pencapaian menuju langit, melewati batas-batas awan yang lembut. Menggapai lazuardi, di sebuah nirwana yang menjulang di atas bumi.

Ini karya yang maha sempurna. Memadukan seni dan kedalaman spiritualitas. Ini buah karya orang-orang terdahulu, saat kerajaan Majapahit masih berkuasa gagah di tanah Jawa. Mereka sungguh mengerti bagaimana mewariskan ilmu dan kearifan. Tapi bagaimana bisa candi ini bernama Sumber Awan?

“Kau tahu kenapa candi ini diberi nama Sumberawan?” aku menyikut lengan Ayong.

Ia menggeleng. Astaga, aku bertanya pada orang yang salah, yang tidak mengerti sama sekali tentang situs peninggalan sejarah. Ia bahkan baru hari ini mengetahui ada candi semacam itu.

“Dulunya daerah ini bernama Kasurangganan, diartikan sebagai taman yang dipenuhi bidadari atau malaikat.”

Itu bukan suara Ayong. Aku tahu ia tidak akan mengeluarkan kata-kata seberat itu. Alamak, itu suara berat seorang nenek di belakangku. Seorang nenek tua yang rambutnya sudah memutih. Tubuhnya kurus tapi tidak ringkik. Ia duduk bersila menghadap ke telaga. Matanya terpejam. Aku baru sadar ada seorang nenek di sekitar candi.

Pelan-pelan kudekati. Duduk di samping nenek itu. Ayong memainkan ekor matanya. Jangan diganggu!

Aku sudah terlanjur duduk, nenek itu pasti merasakan kehadiranku. Ia seperti sedang bersemedi, tapi tidak sedang bertapa. Sepanjang kutelisik, kulit wajahnya masih segar. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis, manis. Astaga, aku sungguh tidak sopan telah menelisik wajah orang tua yang harusnya kuhormati. .

“Bagaimana nenek bisa tahu tentang candi ini?”

Nenek itu diam. Hampir tak kudapati ada nafas yang keluar dari dua ruas lubang hidungnya.

“Mudah saja, Nak, nama itu terdapat dalam kitab Negarakertagama,” mata nenek tetap terpejam.

“Kitab macam apa itu, Nek? Buku ensiklopedia atau kitab tebal macam cerita Mahabharata, Nek?”

“Anak muda yang lahir dari peradaban modern macam kau ini tidak akan mengenal kitab itu.”

Aku tidak percaya nenek di depanku ini tiba-tiba menghakimi sesuatu yang belum lama dikenalnya. 

Baru dua detik bercakap-cakap sudah menghakimiku yang tidak-tidak. Bisa kupastikan nenek ini tidak tahu menahu tentang dunia modern.

Kitab Negarakertagama? Aku sering mendengar nama itu. Aku juga sering mendapati nama-nama kitab semacam itu di buku bacaan yang mengulas tentang sejarah. Aku diam, menunggu kata-kata berikutnya.

“Aku tahu betul anak-anak muda macam kau, Nak. Lahir di saat dunia sudah gemerlap oleh teknologi. Memiliki ilmu sedikit saja sudah membusung dada. Mengumbar pemahaman hingga mulut berbusa-busa. Bacaannya Karl Marx, Hegel, Weber. Babaimana kau bisa mencintai negerimu kalau kau saja tak mengenal sejarah bangsamu, Nak?”

Bibirku terkatup, tak mampu bergerak. Sedikit banyak, kata-kata nenek ini benar adanya.

“Siapa yang meragukan kata-kata cinta dari anak muda seperti kau, Nak. Tak ada. Bahkan kalau kau mau, kau bisikkan kata cinta pada setiap perempuan, mereka akan jatuh dalam pelukmu. Tapi masalahnya, cinta bukan sekadar kata-kata, Nak. Cinta bukan kalimat-kalimat bertenaga yang kau teriakkan di jalan-jalan raya. Cinta bukan suara-suara serak yang kau serukan di setiap hari kemerdekaan.”

Nenek ini diam dalam damai. Aku memperhatikan lekat-lekat wajahnya. Kata-katanya mengalir, mencari ruang kosong di dalam hati.

“Cinta itu ketika kau tetap mau memberi meski berimbal sakit tiada perih. Cinta itu ketika kau tetap teguh pada kebenaran hati meski uang dan kursi menawarkanmu jabatan tinggi.”

Nenek itu beranjak berdiri. Kedua matanya terbuka. Tak sedikit pun menatapku. Kedua tangannya ditekan ke tanah. Mencari dukungan tenaga agar kuat berdiri. Aku membantunya.

“Kau lihatlah ke telaga itu, Nak! Sumber kedamaian dan keselarasan alam. Itu wujud cinta yang 

Maha Besar dan Agung pada negeri ini. Meski kita tak pandai mengucap syukur, tapi Dia tetap menjaga kebeningan air telaga itu.”

Aku menoleh ke arah telaga. Nenek itu lagi-lagi mengatakan kebenaran. Sudah ratusan tahun telaga itu tercipta, tapi mata airnya tak pernah keruh. Yang Maha Besar dan Agung tetap menjaga kebeningan airnya meski kita tak pandai mengucap syukur.

Kalimat itu terus terngiang di telinga. Alamak, indah nian telaga itu. Berada di bawah kaki gunung Arjuna. Airnya bening mengalir dari mata air pegunungan. Dikelilingi pohon-pohon yang rindang. 

Aku yakin, dulu saat candi ini masih misteri, bidadari-bidadari turun dari langit. Tubuhnya yang putih merendam di tengah telaga yang bening itu. Menanggalkan selendang-selendang penutup tubuh mereka di tepian telaga. Mereka pasti saling tertawa. Saling melempar keciprat air.

Aku menoleh lagi pada nenek itu. Tak ada. Nenek itu sudah pergi. Kemana? Secepat itukah nenek itu melangkah? Benar-benar aneh. Aku tak sedang bermimpi. Ini benar-benar kenyataan.

Aku mengangkat kepala pada Ayong. Kemana? Ia mengangkat bahu. Nenek itu aneh sekali. Tiba-tiba menjawab pertanyaanku, lalu pergi sekejap mata. Kepalaku pening dipenuhi satu pertanyaan yang masih menggelitik. Bagaimana bisa candi ini bernama Sumber Awan hampir persis dengan namaku, Awan?

Ini benar-benar gila, di luar jangkauan logika. Semua bayang berebut timbul tenggelam. Bukan jawaban yang kudapatkan, melainkan rasa penasaran yang semakin mendalam. Pikiranku bercabang, antara mencari jawaban atau terpaku dalam diam, pukau. Aku terpenjara, tercekat pikat menahan getaran hebat dari belahan tubuh Ayong yang memelukku dari belakang.

*Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya pada tanggal 12 April 2015.

Latif Fianto
Lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, sekarang tinggal di Malang.
Cahaya matahari terik di atas kepala. Bau dan suara kentut knalpot saling berebut. Bunyi klakson beriak susul menyusul. Debu-debu beterbangan berlomba dengan kendaraan yang bergerak merayap, macam kura-kura. Aku bergerak sesak dengan motor bebek buatan Jepang. Mataku lurus ke depan, mencari ruang salipan. Astaga, wajah sebuah mobil kekar besar nyaris mencium bodi belakang bebekku.


Detik per detik menjadi pisau waktu yang menyiksa. Jarak menjadi semakin panjang. Panas membakar. Udara bercampur bau besi, semacam bau karet yang dibakar. Jarak sesenti menjadi sangat berharga. Lebih berharga dari kematian.

Kendaraan masih berderap merayap padat ketika aku melepaskan diri dari kepulan asap knalpot yang menyesakkan dada. Kini aku menghirup udara segar yang merengsek diantara dedaunan. Berdiri di depan rumah Ayong yang jauhnya mencapai dua setengah kilometer dari kebisingan jalan raya.

Aku memandang ke arah halaman yang sunyi. Tak berani membawa kaki melewati pintu pagar. Belakangan, anjing di rumah ini semakin galak. Dulu, setiap kali aku datang, berdiri di teras rumah, anjing itu selalu ingin mencium kakiku. Berlomba dengan Ayong yang tiba-tiba mendaratkan bibir tebalnya di pipi.

Tiga bulan aku tidak kesini. Tak ada yang berubah. Rumah tetap sepi. Warung kecil di halaman masih berdiri kaku. Hanya anjing itu yang berubah. Semakin galak saja padaku. Melihatku melongo di balik pagar, binatang itu menatapku tajam. Melonglong, macam mengusir. Lupakah anjing itu bahwa aku adalah laki-laki yang dulu selalu ingin diciumnya?

Ayong berdiri di depan pagar, tersenyum. Mengenakan kaus merah muda, ketat membungkus tubuhnya yang padat. Rambut dibiarkan berurai, jatuh di kedua pundaknya. Aku terpukau.

“Kita mau pergi kemana?” Ayong duduk di belakang, di atas motor bebekku.

“Terserah kau. Hari ini kau yang menjadi guide nya,” aku menyalakan mesin.

“Ikuti saja arah jalan yang menanjak itu!” ia menunjuk arah di depan setelah kami tiba di pojok jalan.

“Jalan itu menuju kemana?”

“Aku tidak tahu juga. Ikuti saja!” ia mendekatkan bibirnya di telinga. “Bukankah mengobati kerinduan itu lebih penting daripada tujuan sebuah tempat?” suaranya lembut berbisik.

Aku terkekeh. Ayong menyandarkan kepala di pundak. Aku melesat di bawah terik matahari. 

Membelah kesiur angin yang gemulai.

Rumah-rumah sederhana berdiri di pinggir jalan yang menanjak. Di depan, jalan bercabang empat. 

Aku memilih belok kanan. Kali ini insting yang mengarahkan. Aku tak tahu kemana jalan hendak membawa. Tanah-tanah sangat hijau. Ilalang berjuntai setinggi laki-laki dewasa. Kerbau memakan rumput di tengah ladang. Gerombolan kambing berbulu putih berteduh di bawah pohon pisang.

Benar kata Ayong, apalah arti sebuah tujuan. Tidak ada yang lebih penting daripada menambatkan kerinduan.

Di depan, jalan kembali bercabang. Aku memilih belok kiri, menuju arah selatan. Padang rumput terbentang. Beberapa meter kemudian, rumah-rumah warga berdiri gagah. Warung makan dan beberapa rumah masih dalam pembangunan. Suara kesiur angin bertumpu dengan suara gesekan pohon bambu yang bergoyang, mengeluarkan siul gombal menggoda.

Aku berhenti. Di depan ada tiang kecil beserta sebuah plang bertuliskan Candi Sumber Awan 500 meter. Di bawah tulisan itu, arah tanda panah lurus ke arah kanan. Sumber Awan? Nama yang menggelitik mata.

“Kau sudah pernah pergi kesini?” tanyaku lamat-lamat menatap Ayong.

Ia menggeleng. “Belum, baru hari ini aku tahu kalau disini ada candi.”

“Kita pergi kesana?”

Ayong mengangguk, menggamit lenganku. Kami berjalan sejauh lima ratus meter. Melewati jalan setapak. Di sisinya mata air mengalir bening. Beberapa ikan tawar bergelanyut manja. Di seberang aliran mata air kecil itu, berjejer pohon bambu, rapat. Di sebelah kiri, hijau padi menghampar di atas sawah. Suara burung, serangga dan siul angin berpadu. Terdengar dari balik pepohonan yang rindang.

Anak-anak kecil melompat ke dalam sungai, yang dalamnya tidak seberapa. Ibu-ibu mereka tertawa melihat aksi anaknya yang menggemaskan.

Dua anak gadis sepantaran bergantian mengambil gambar. Di belakang mereka gemericik mata air pegunungan mengalir. Kuikuti aliran air itu hingga ke pangkal. Alamak, itu benar-benar indah. 

Sebuah telaga kecil terhampar. Airnya tenang. Indah nian telaga itu.

Pelan-pelan, kudengar sebuah suara yang sulit kukenali. Seperti datang dari kolong langit. Tidak, itu bukan suara orang lain. Itu suara hatiku yang meminta mendekat ke bibir telaga.

Baru dua langkah hendak mendekat, tiba-tiba Ayong sudah berdiri di depanku. Mataku sempurna menatap dadanya yang membusung ke depan. Pemandangan yang lebih indah dari sekadar telaga kecil di balik candi.

“Awan, aku ingin mendekat ke candi itu,” ia menarik lengan. Mensejajariku di sebelah. Sesekali pinggir dadanya yang lembut menyentuh bahuku.

Aku menatap lekat-lekat tubuh candi. Bentuknya persis stupa induk di tingkat Arupadhatu di puncak candi Borobudur. Macam gunung Arjuna, gagah perkasa. Puncaknya menusuk langit.

Aku tak begitu banyak tahu tentang makna simbol, apalagi tentang candi. Tapi coba bayangkan, berdiri di puncak candi ini atau di puncak gunung Arjuna. Angkat wajah menatap ke atas. Seperti terasa sangat dekat dengan langit, begitu dekat dengan sang pencipta. Pencapaian menuju langit, melewati batas-batas awan yang lembut. Menggapai lazuardi, di sebuah nirwana yang menjulang di atas bumi.

Ini karya yang maha sempurna. Memadukan seni dan kedalaman spiritualitas. Ini buah karya orang-orang terdahulu, saat kerajaan Majapahit masih berkuasa gagah di tanah Jawa. Mereka sungguh mengerti bagaimana mewariskan ilmu dan kearifan. Tapi bagaimana bisa candi ini bernama Sumber Awan?

“Kau tahu kenapa candi ini diberi nama Sumberawan?” aku menyikut lengan Ayong.

Ia menggeleng. Astaga, aku bertanya pada orang yang salah, yang tidak mengerti sama sekali tentang situs peninggalan sejarah. Ia bahkan baru hari ini mengetahui ada candi semacam itu.

“Dulunya daerah ini bernama Kasurangganan, diartikan sebagai taman yang dipenuhi bidadari atau malaikat.”

Itu bukan suara Ayong. Aku tahu ia tidak akan mengeluarkan kata-kata seberat itu. Alamak, itu suara berat seorang nenek di belakangku. Seorang nenek tua yang rambutnya sudah memutih. Tubuhnya kurus tapi tidak ringkik. Ia duduk bersila menghadap ke telaga. Matanya terpejam. Aku baru sadar ada seorang nenek di sekitar candi.

Pelan-pelan kudekati. Duduk di samping nenek itu. Ayong memainkan ekor matanya. Jangan diganggu!

Aku sudah terlanjur duduk, nenek itu pasti merasakan kehadiranku. Ia seperti sedang bersemedi, tapi tidak sedang bertapa. Sepanjang kutelisik, kulit wajahnya masih segar. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis, manis. Astaga, aku sungguh tidak sopan telah menelisik wajah orang tua yang harusnya kuhormati. .

“Bagaimana nenek bisa tahu tentang candi ini?”

Nenek itu diam. Hampir tak kudapati ada nafas yang keluar dari dua ruas lubang hidungnya.

“Mudah saja, Nak, nama itu terdapat dalam kitab Negarakertagama,” mata nenek tetap terpejam.

“Kitab macam apa itu, Nek? Buku ensiklopedia atau kitab tebal macam cerita Mahabharata, Nek?”

“Anak muda yang lahir dari peradaban modern macam kau ini tidak akan mengenal kitab itu.”

Aku tidak percaya nenek di depanku ini tiba-tiba menghakimi sesuatu yang belum lama dikenalnya. 

Baru dua detik bercakap-cakap sudah menghakimiku yang tidak-tidak. Bisa kupastikan nenek ini tidak tahu menahu tentang dunia modern.

Kitab Negarakertagama? Aku sering mendengar nama itu. Aku juga sering mendapati nama-nama kitab semacam itu di buku bacaan yang mengulas tentang sejarah. Aku diam, menunggu kata-kata berikutnya.

“Aku tahu betul anak-anak muda macam kau, Nak. Lahir di saat dunia sudah gemerlap oleh teknologi. Memiliki ilmu sedikit saja sudah membusung dada. Mengumbar pemahaman hingga mulut berbusa-busa. Bacaannya Karl Marx, Hegel, Weber. Babaimana kau bisa mencintai negerimu kalau kau saja tak mengenal sejarah bangsamu, Nak?”

Bibirku terkatup, tak mampu bergerak. Sedikit banyak, kata-kata nenek ini benar adanya.

“Siapa yang meragukan kata-kata cinta dari anak muda seperti kau, Nak. Tak ada. Bahkan kalau kau mau, kau bisikkan kata cinta pada setiap perempuan, mereka akan jatuh dalam pelukmu. Tapi masalahnya, cinta bukan sekadar kata-kata, Nak. Cinta bukan kalimat-kalimat bertenaga yang kau teriakkan di jalan-jalan raya. Cinta bukan suara-suara serak yang kau serukan di setiap hari kemerdekaan.”

Nenek ini diam dalam damai. Aku memperhatikan lekat-lekat wajahnya. Kata-katanya mengalir, mencari ruang kosong di dalam hati.

“Cinta itu ketika kau tetap mau memberi meski berimbal sakit tiada perih. Cinta itu ketika kau tetap teguh pada kebenaran hati meski uang dan kursi menawarkanmu jabatan tinggi.”

Nenek itu beranjak berdiri. Kedua matanya terbuka. Tak sedikit pun menatapku. Kedua tangannya ditekan ke tanah. Mencari dukungan tenaga agar kuat berdiri. Aku membantunya.

“Kau lihatlah ke telaga itu, Nak! Sumber kedamaian dan keselarasan alam. Itu wujud cinta yang 

Maha Besar dan Agung pada negeri ini. Meski kita tak pandai mengucap syukur, tapi Dia tetap menjaga kebeningan air telaga itu.”

Aku menoleh ke arah telaga. Nenek itu lagi-lagi mengatakan kebenaran. Sudah ratusan tahun telaga itu tercipta, tapi mata airnya tak pernah keruh. Yang Maha Besar dan Agung tetap menjaga kebeningan airnya meski kita tak pandai mengucap syukur.

Kalimat itu terus terngiang di telinga. Alamak, indah nian telaga itu. Berada di bawah kaki gunung Arjuna. Airnya bening mengalir dari mata air pegunungan. Dikelilingi pohon-pohon yang rindang. 

Aku yakin, dulu saat candi ini masih misteri, bidadari-bidadari turun dari langit. Tubuhnya yang putih merendam di tengah telaga yang bening itu. Menanggalkan selendang-selendang penutup tubuh mereka di tepian telaga. Mereka pasti saling tertawa. Saling melempar keciprat air.

Aku menoleh lagi pada nenek itu. Tak ada. Nenek itu sudah pergi. Kemana? Secepat itukah nenek itu melangkah? Benar-benar aneh. Aku tak sedang bermimpi. Ini benar-benar kenyataan.

Aku mengangkat kepala pada Ayong. Kemana? Ia mengangkat bahu. Nenek itu aneh sekali. Tiba-tiba menjawab pertanyaanku, lalu pergi sekejap mata. Kepalaku pening dipenuhi satu pertanyaan yang masih menggelitik. Bagaimana bisa candi ini bernama Sumber Awan hampir persis dengan namaku, Awan?

Ini benar-benar gila, di luar jangkauan logika. Semua bayang berebut timbul tenggelam. Bukan jawaban yang kudapatkan, melainkan rasa penasaran yang semakin mendalam. Pikiranku bercabang, antara mencari jawaban atau terpaku dalam diam, pukau. Aku terpenjara, tercekat pikat menahan getaran hebat dari belahan tubuh Ayong yang memelukku dari belakang.

*Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya pada tanggal 12 April 2015.

Latif Fianto
Lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, sekarang tinggal di Malang.
Detail

IKAPMII Ajak Basis Tingkatkan Kualitas Organisasi dan Kader


MALANG, Pemudapost – Dr. H. A Muhtadi Ridwan, mengajak basis PMII (Rayon) untuk menjadi kompetitor handal dengan mempunyai komitmen kuat dan semangat yang berkobar-kobar, ungkapnya, saat menyampaikan orasi pergerakan dalam rangka Pelantikan Pengurus Rayon Ekonomi “Moch. Hatta”, senin (10/8).


“Wajib ain hukumnya untuk meningkatkan kualitas organisasi dan para kader, sebab kaderisasi PMII akan terus berkembang jika basis tadi kuat dalam segi kemapuan baik kualitas atau kuantitas” sambungnya.

Muhtadi menambahkan “Untuk memperbaiki pendidikan (akademik), para kader PMII hari ini tidak cukup hanya lulus Strata 1 saja, namun harus melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, hal tersebut sesuai dengan ajaran kita yakni Yarfaillahulladina min kum darojat” imbuh mantan Ketua IKAPMII SA, UIN Maliki Malang ini.

Sementara Lutfi Hamdani, selaku Ketua Rayon PMII Ekonomi “Moch. Hatta” menyampaikan ”bahwa begitu penting bagi kita selaku pengurus Rayon menjalankan amanah sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawab kita selama satu periode ini ke depan”.

“Di samping itu, pria yang akrab di sapa lutfi ini berjanji di hadapan para undangan yang hadir sesuai dengan apa yang telah di amanahkan pada kami untuk mengabdikan ilmu kami kepada organisasi tercinta ini, dan kami berjanji untuk menegakkan amal ma’ruf nahi mungkar” sambungnya.

Hal senada juga di sampaikan Viky Maulana, selaku Ketua Komisariat PMII Sunan Ampel Malang “bahwa sahabat-sahabati PMII jangan terjebak pada nuansa hedonisme mahasiswa yang lupa akan tanggung jawabnya, ingat janji setia kepada organisasi untuk selalu meningkatkan kualitas organisasi dan kemampuan para kader, sebab kompetisi ke depan akan semakin tinggi dan PMII harus mampu menjawab kegelisahan itu” tegasnya.

Pelantikan tersebut berlangsung di Gedung Pengembangan Bahasa (Gedung C) UIN Malaiki Malang Jl, Gajayana no. 50 Malang, dengan tema yang di ambil adalah Menyongsong Generasi Baru yang mandiri, Progresif dan Berkarakter Pergerakan. (Oci).

MALANG, Pemudapost – Dr. H. A Muhtadi Ridwan, mengajak basis PMII (Rayon) untuk menjadi kompetitor handal dengan mempunyai komitmen kuat dan semangat yang berkobar-kobar, ungkapnya, saat menyampaikan orasi pergerakan dalam rangka Pelantikan Pengurus Rayon Ekonomi “Moch. Hatta”, senin (10/8).


“Wajib ain hukumnya untuk meningkatkan kualitas organisasi dan para kader, sebab kaderisasi PMII akan terus berkembang jika basis tadi kuat dalam segi kemapuan baik kualitas atau kuantitas” sambungnya.

Muhtadi menambahkan “Untuk memperbaiki pendidikan (akademik), para kader PMII hari ini tidak cukup hanya lulus Strata 1 saja, namun harus melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, hal tersebut sesuai dengan ajaran kita yakni Yarfaillahulladina min kum darojat” imbuh mantan Ketua IKAPMII SA, UIN Maliki Malang ini.

Sementara Lutfi Hamdani, selaku Ketua Rayon PMII Ekonomi “Moch. Hatta” menyampaikan ”bahwa begitu penting bagi kita selaku pengurus Rayon menjalankan amanah sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawab kita selama satu periode ini ke depan”.

“Di samping itu, pria yang akrab di sapa lutfi ini berjanji di hadapan para undangan yang hadir sesuai dengan apa yang telah di amanahkan pada kami untuk mengabdikan ilmu kami kepada organisasi tercinta ini, dan kami berjanji untuk menegakkan amal ma’ruf nahi mungkar” sambungnya.

Hal senada juga di sampaikan Viky Maulana, selaku Ketua Komisariat PMII Sunan Ampel Malang “bahwa sahabat-sahabati PMII jangan terjebak pada nuansa hedonisme mahasiswa yang lupa akan tanggung jawabnya, ingat janji setia kepada organisasi untuk selalu meningkatkan kualitas organisasi dan kemampuan para kader, sebab kompetisi ke depan akan semakin tinggi dan PMII harus mampu menjawab kegelisahan itu” tegasnya.

Pelantikan tersebut berlangsung di Gedung Pengembangan Bahasa (Gedung C) UIN Malaiki Malang Jl, Gajayana no. 50 Malang, dengan tema yang di ambil adalah Menyongsong Generasi Baru yang mandiri, Progresif dan Berkarakter Pergerakan. (Oci).
Detail

Terenggutnya Kesaktian Pancasila



Indonesia telah merdeka selama 70 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 didaulat sebagai hari dimana Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Kalimat tersebutlah yang menjadi spirit sekaligus sebagai pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Falsafah bangsa dan negara Indonesia adalah pancasila, dengan lima prinsip dasar tersebut kita sebagai bangsa dan rakyat Indonesia dapat mengamalkan butir-butir pengamalan dari kelima azas tersebut. mengapa harus demikian?
Pada zaman serba modern ini, dengan banyaknya budaya barat yang menjadi ancaman pada kehidupan bangsa Indonesia kedepan sudah pasti harus menjadi antisipasi bersama. Teramat penting menanamkan bait-bait kandungan pengamalan kelima azas dalam pancasila tersebut. Dengan harapan bahwa bangsa kita terbebas dari doktrin budaya barat yang akan merenggut kesaktian pancasila.
Butir pengamalan pancasila yang pertama ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan prinsip bahwa setiap manusia percaya akan adanya tuhan sesuai dengan agama masing-masing, dengan demikian kita sebagai bangsa dituntut untuk saling menghormati antar sesama meski berbeda keyakinan beragama.
Yang kedua ialah Kemanusiaan yang adil dan beradab. Bahwa persamaan derajat antar sesama manusia, dan menjadi pembela yang benar serta keadilan.
Ketiga ialah Persatuan Indonesia. Rasa kesatuan dalam perjuangan dengan rela berkorban untuk mengedepankan kepentingan orang lain daripada mengedepankan kepentingan pribadi, serta cinta tanah air Indonesia.
Keempat ialah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dengan selalu mengedepankan kepentingan bersama dan negara, tidak memaksakan kehendak dan mengutamakan musyawarah dalam pengambilan keputusan secara bersama dan dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan YME.
Kelima ialah Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bersikap adil dan menghormati hak-hak orang lain dengan menjung-jung nilai dan norma yang berlaku demi terciptanya keadilan dan kedamaian antara bangsa dan negara Indonesia.
Dengan butir-butir pengamalan di atas dapat disimpulkan bahwa pancasila membawa visi dan misi besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat yang ada menunjukkan bahwa pancasila menjadi pegangan utama bagi generasi bangsa sebagai warga negara Indonesia.
Namun demikian, sering terjadi ketidakselarasan dengan butir pengamalan Pancasila di atas jika kita melihat realitas kehidupan bangsa ini. Dengan carut marutnya sistem kenegaraan dan tata kelola pemerintahan, menunjukkan jika bangsa ini mengalami disorientasi terhadap fungsi Pancasila.
Sejatinya bangsa ini mencerminkan prinsip Pancasila dalam bernegara, terutama wakil rakyat yang dipercaya untuk dapat mengamalkan bait-bait kandungan dalam Pancasila. Jika hal ini tetap terjadi secara linier, maka dapat dipastikan kesaktian Pancasila akan terenggut dan tergantikan.
Kesaktian Pancasila dapat menyatukan segala perbedaan, baik keyakinan, suku, ras dan budaya. Dengan lunturnya prinsip dasar tersebut tidak dapat dipungkiri di kemudian hari akan berdampak secara langsung terhadap generasi bangsa ini. Meskipun kita tidak mengetahui itu akan terjadi atau sebaliknya.
Dengan momen lahirnya Pancasila yang sudah menjadi pengamalan oleh bangsa ini selama kurang lebih 70 tahun lalu, penulis berharap kedepan bahwa bangsa ini dapat memiliki prinsip dasar dari bait-bait pengalam Pancasila tersebut. Dengan demikian, kehidupan berbangsa dan bernegara kedepan diharapkan semakin baik dan menjadi sumber inspirasi besar bagi kebangkitan bangsa ini dari berbagai keterpurukan yang sedang terjadi dan melanda bangsa ini.
Ahmad Fairozi
Mahasiswa Unitri Malang, Juruusan Teknologi Industri Pertanian


Indonesia telah merdeka selama 70 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 didaulat sebagai hari dimana Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Kalimat tersebutlah yang menjadi spirit sekaligus sebagai pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Falsafah bangsa dan negara Indonesia adalah pancasila, dengan lima prinsip dasar tersebut kita sebagai bangsa dan rakyat Indonesia dapat mengamalkan butir-butir pengamalan dari kelima azas tersebut. mengapa harus demikian?
Pada zaman serba modern ini, dengan banyaknya budaya barat yang menjadi ancaman pada kehidupan bangsa Indonesia kedepan sudah pasti harus menjadi antisipasi bersama. Teramat penting menanamkan bait-bait kandungan pengamalan kelima azas dalam pancasila tersebut. Dengan harapan bahwa bangsa kita terbebas dari doktrin budaya barat yang akan merenggut kesaktian pancasila.
Butir pengamalan pancasila yang pertama ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan prinsip bahwa setiap manusia percaya akan adanya tuhan sesuai dengan agama masing-masing, dengan demikian kita sebagai bangsa dituntut untuk saling menghormati antar sesama meski berbeda keyakinan beragama.
Yang kedua ialah Kemanusiaan yang adil dan beradab. Bahwa persamaan derajat antar sesama manusia, dan menjadi pembela yang benar serta keadilan.
Ketiga ialah Persatuan Indonesia. Rasa kesatuan dalam perjuangan dengan rela berkorban untuk mengedepankan kepentingan orang lain daripada mengedepankan kepentingan pribadi, serta cinta tanah air Indonesia.
Keempat ialah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dengan selalu mengedepankan kepentingan bersama dan negara, tidak memaksakan kehendak dan mengutamakan musyawarah dalam pengambilan keputusan secara bersama dan dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan YME.
Kelima ialah Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bersikap adil dan menghormati hak-hak orang lain dengan menjung-jung nilai dan norma yang berlaku demi terciptanya keadilan dan kedamaian antara bangsa dan negara Indonesia.
Dengan butir-butir pengamalan di atas dapat disimpulkan bahwa pancasila membawa visi dan misi besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat yang ada menunjukkan bahwa pancasila menjadi pegangan utama bagi generasi bangsa sebagai warga negara Indonesia.
Namun demikian, sering terjadi ketidakselarasan dengan butir pengamalan Pancasila di atas jika kita melihat realitas kehidupan bangsa ini. Dengan carut marutnya sistem kenegaraan dan tata kelola pemerintahan, menunjukkan jika bangsa ini mengalami disorientasi terhadap fungsi Pancasila.
Sejatinya bangsa ini mencerminkan prinsip Pancasila dalam bernegara, terutama wakil rakyat yang dipercaya untuk dapat mengamalkan bait-bait kandungan dalam Pancasila. Jika hal ini tetap terjadi secara linier, maka dapat dipastikan kesaktian Pancasila akan terenggut dan tergantikan.
Kesaktian Pancasila dapat menyatukan segala perbedaan, baik keyakinan, suku, ras dan budaya. Dengan lunturnya prinsip dasar tersebut tidak dapat dipungkiri di kemudian hari akan berdampak secara langsung terhadap generasi bangsa ini. Meskipun kita tidak mengetahui itu akan terjadi atau sebaliknya.
Dengan momen lahirnya Pancasila yang sudah menjadi pengamalan oleh bangsa ini selama kurang lebih 70 tahun lalu, penulis berharap kedepan bahwa bangsa ini dapat memiliki prinsip dasar dari bait-bait pengalam Pancasila tersebut. Dengan demikian, kehidupan berbangsa dan bernegara kedepan diharapkan semakin baik dan menjadi sumber inspirasi besar bagi kebangkitan bangsa ini dari berbagai keterpurukan yang sedang terjadi dan melanda bangsa ini.
Ahmad Fairozi
Mahasiswa Unitri Malang, Juruusan Teknologi Industri Pertanian
Detail

Siapkan Kepemimpinan, KOPRI PMII Jawa Tengah Gelar Pelatihan Kepemimpinan


JEPARA – Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Tengah menggelar pelatihan kepemimpinan perempuan untuk para Kopri - Kopri Cabang PMII di Jawa Tengah.

Pelatihan tersebut berlangsung sejak Jumat s/d Minggu, (5-7/6). Di buka oleh KH. Abdullah Uzhair, selaku alumni PMII yang merupakan tuan rumah sekaligus pengasuh pondok pesantren Jabbal Nur, Jepara.
Women Leadership Camp, bertujuan untuk memberikan wacana serta inspirasi baru kepada para ketua - ketua Kopri sejawa tengah, kemudian dapat di implementasikan pada cabang masing – masing tutur Nurul Intani, selaku Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Tengah.
“Yang datang di acara ini adalah para pemimpin dari daerah masing-masing, para kader Kopri di Jawa Tengah membutuhkan fasilitasi semacam ini. Karena ini akan menjadi acuan untuk memimpin Kopri cabangnya masing-masing kedepan, sehingga kami sebagai Kopri PKC PMII Jawa Tengah wajib untuk melaksanakan pelatihan ini” tegasnya saat memberikan sambutan.
Fasilitator dalam kegiatan tersebut adalah sahabati Nur Laelataqwa yang juga dulunya pernah aktif di kegiatan Indonesia Mengajar sekaligus sebagai Alumni PMII yang bertujuan untuk membangun kebersamaan, dan kekompakan antara satu dengan yang lainnya.
Sedangkan pemateri kepemimpinan perempuan dan isu-isu perempuan disampaikan oleh sahabat Bibik Nurudduja dan sahabat Hindun yang sekaligus sebagai alumni PMII.
Pelatihan ini di ikuti oleh 20 peserta yang terdiri dari delegasi 9 cabang, dengan jumlah keseluruhan yang di undang adalah 20 cabang. (rul/oci).

Kontributor : Nurul Hikmah

JEPARA – Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Tengah menggelar pelatihan kepemimpinan perempuan untuk para Kopri - Kopri Cabang PMII di Jawa Tengah.

Pelatihan tersebut berlangsung sejak Jumat s/d Minggu, (5-7/6). Di buka oleh KH. Abdullah Uzhair, selaku alumni PMII yang merupakan tuan rumah sekaligus pengasuh pondok pesantren Jabbal Nur, Jepara.
Women Leadership Camp, bertujuan untuk memberikan wacana serta inspirasi baru kepada para ketua - ketua Kopri sejawa tengah, kemudian dapat di implementasikan pada cabang masing – masing tutur Nurul Intani, selaku Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Tengah.
“Yang datang di acara ini adalah para pemimpin dari daerah masing-masing, para kader Kopri di Jawa Tengah membutuhkan fasilitasi semacam ini. Karena ini akan menjadi acuan untuk memimpin Kopri cabangnya masing-masing kedepan, sehingga kami sebagai Kopri PKC PMII Jawa Tengah wajib untuk melaksanakan pelatihan ini” tegasnya saat memberikan sambutan.
Fasilitator dalam kegiatan tersebut adalah sahabati Nur Laelataqwa yang juga dulunya pernah aktif di kegiatan Indonesia Mengajar sekaligus sebagai Alumni PMII yang bertujuan untuk membangun kebersamaan, dan kekompakan antara satu dengan yang lainnya.
Sedangkan pemateri kepemimpinan perempuan dan isu-isu perempuan disampaikan oleh sahabat Bibik Nurudduja dan sahabat Hindun yang sekaligus sebagai alumni PMII.
Pelatihan ini di ikuti oleh 20 peserta yang terdiri dari delegasi 9 cabang, dengan jumlah keseluruhan yang di undang adalah 20 cabang. (rul/oci).

Kontributor : Nurul Hikmah
Detail

Hot Articles

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | Redesigned : Tukang Toko Online
Copyright © 2011. Ayo Belanja.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger