Sumber Awan
Cahaya matahari terik di atas kepala. Bau dan suara kentut knalpot saling berebut. Bunyi klakson beriak susul menyusul. Debu-debu beterbangan berlomba dengan kendaraan yang bergerak merayap, macam kura-kura. Aku bergerak sesak dengan motor bebek buatan Jepang. Mataku lurus ke depan, mencari ruang salipan. Astaga, wajah sebuah mobil kekar besar nyaris mencium bodi belakang bebekku.
Detik per detik menjadi pisau waktu yang menyiksa. Jarak menjadi semakin panjang. Panas membakar. Udara bercampur bau besi, semacam bau karet yang dibakar. Jarak sesenti menjadi sangat berharga. Lebih berharga dari kematian.
Kendaraan masih berderap merayap padat ketika aku melepaskan diri dari kepulan asap knalpot yang menyesakkan dada. Kini aku menghirup udara segar yang merengsek diantara dedaunan. Berdiri di depan rumah Ayong yang jauhnya mencapai dua setengah kilometer dari kebisingan jalan raya.
Aku memandang ke arah halaman yang sunyi. Tak berani membawa kaki melewati pintu pagar. Belakangan, anjing di rumah ini semakin galak. Dulu, setiap kali aku datang, berdiri di teras rumah, anjing itu selalu ingin mencium kakiku. Berlomba dengan Ayong yang tiba-tiba mendaratkan bibir tebalnya di pipi.
Tiga bulan aku tidak kesini. Tak ada yang berubah. Rumah tetap sepi. Warung kecil di halaman masih berdiri kaku. Hanya anjing itu yang berubah. Semakin galak saja padaku. Melihatku melongo di balik pagar, binatang itu menatapku tajam. Melonglong, macam mengusir. Lupakah anjing itu bahwa aku adalah laki-laki yang dulu selalu ingin diciumnya?
Ayong berdiri di depan pagar, tersenyum. Mengenakan kaus merah muda, ketat membungkus tubuhnya yang padat. Rambut dibiarkan berurai, jatuh di kedua pundaknya. Aku terpukau.
“Kita mau pergi kemana?” Ayong duduk di belakang, di atas motor bebekku.
“Terserah kau. Hari ini kau yang menjadi guide nya,” aku menyalakan mesin.
“Ikuti saja arah jalan yang menanjak itu!” ia menunjuk arah di depan setelah kami tiba di pojok jalan.
“Jalan itu menuju kemana?”
“Aku tidak tahu juga. Ikuti saja!” ia mendekatkan bibirnya di telinga. “Bukankah mengobati kerinduan itu lebih penting daripada tujuan sebuah tempat?” suaranya lembut berbisik.
Aku terkekeh. Ayong menyandarkan kepala di pundak. Aku melesat di bawah terik matahari.
Membelah kesiur angin yang gemulai.
Rumah-rumah sederhana berdiri di pinggir jalan yang menanjak. Di depan, jalan bercabang empat.
Aku memilih belok kanan. Kali ini insting yang mengarahkan. Aku tak tahu kemana jalan hendak membawa. Tanah-tanah sangat hijau. Ilalang berjuntai setinggi laki-laki dewasa. Kerbau memakan rumput di tengah ladang. Gerombolan kambing berbulu putih berteduh di bawah pohon pisang.
Benar kata Ayong, apalah arti sebuah tujuan. Tidak ada yang lebih penting daripada menambatkan kerinduan.
Di depan, jalan kembali bercabang. Aku memilih belok kiri, menuju arah selatan. Padang rumput terbentang. Beberapa meter kemudian, rumah-rumah warga berdiri gagah. Warung makan dan beberapa rumah masih dalam pembangunan. Suara kesiur angin bertumpu dengan suara gesekan pohon bambu yang bergoyang, mengeluarkan siul gombal menggoda.
Aku berhenti. Di depan ada tiang kecil beserta sebuah plang bertuliskan Candi Sumber Awan 500 meter. Di bawah tulisan itu, arah tanda panah lurus ke arah kanan. Sumber Awan? Nama yang menggelitik mata.
“Kau sudah pernah pergi kesini?” tanyaku lamat-lamat menatap Ayong.
Ia menggeleng. “Belum, baru hari ini aku tahu kalau disini ada candi.”
“Kita pergi kesana?”
Ayong mengangguk, menggamit lenganku. Kami berjalan sejauh lima ratus meter. Melewati jalan setapak. Di sisinya mata air mengalir bening. Beberapa ikan tawar bergelanyut manja. Di seberang aliran mata air kecil itu, berjejer pohon bambu, rapat. Di sebelah kiri, hijau padi menghampar di atas sawah. Suara burung, serangga dan siul angin berpadu. Terdengar dari balik pepohonan yang rindang.
Anak-anak kecil melompat ke dalam sungai, yang dalamnya tidak seberapa. Ibu-ibu mereka tertawa melihat aksi anaknya yang menggemaskan.
Dua anak gadis sepantaran bergantian mengambil gambar. Di belakang mereka gemericik mata air pegunungan mengalir. Kuikuti aliran air itu hingga ke pangkal. Alamak, itu benar-benar indah.
Sebuah telaga kecil terhampar. Airnya tenang. Indah nian telaga itu.
Pelan-pelan, kudengar sebuah suara yang sulit kukenali. Seperti datang dari kolong langit. Tidak, itu bukan suara orang lain. Itu suara hatiku yang meminta mendekat ke bibir telaga.
Baru dua langkah hendak mendekat, tiba-tiba Ayong sudah berdiri di depanku. Mataku sempurna menatap dadanya yang membusung ke depan. Pemandangan yang lebih indah dari sekadar telaga kecil di balik candi.
“Awan, aku ingin mendekat ke candi itu,” ia menarik lengan. Mensejajariku di sebelah. Sesekali pinggir dadanya yang lembut menyentuh bahuku.
Aku menatap lekat-lekat tubuh candi. Bentuknya persis stupa induk di tingkat Arupadhatu di puncak candi Borobudur. Macam gunung Arjuna, gagah perkasa. Puncaknya menusuk langit.
Aku tak begitu banyak tahu tentang makna simbol, apalagi tentang candi. Tapi coba bayangkan, berdiri di puncak candi ini atau di puncak gunung Arjuna. Angkat wajah menatap ke atas. Seperti terasa sangat dekat dengan langit, begitu dekat dengan sang pencipta. Pencapaian menuju langit, melewati batas-batas awan yang lembut. Menggapai lazuardi, di sebuah nirwana yang menjulang di atas bumi.
Ini karya yang maha sempurna. Memadukan seni dan kedalaman spiritualitas. Ini buah karya orang-orang terdahulu, saat kerajaan Majapahit masih berkuasa gagah di tanah Jawa. Mereka sungguh mengerti bagaimana mewariskan ilmu dan kearifan. Tapi bagaimana bisa candi ini bernama Sumber Awan?
“Kau tahu kenapa candi ini diberi nama Sumberawan?” aku menyikut lengan Ayong.
Ia menggeleng. Astaga, aku bertanya pada orang yang salah, yang tidak mengerti sama sekali tentang situs peninggalan sejarah. Ia bahkan baru hari ini mengetahui ada candi semacam itu.
“Dulunya daerah ini bernama Kasurangganan, diartikan sebagai taman yang dipenuhi bidadari atau malaikat.”
Itu bukan suara Ayong. Aku tahu ia tidak akan mengeluarkan kata-kata seberat itu. Alamak, itu suara berat seorang nenek di belakangku. Seorang nenek tua yang rambutnya sudah memutih. Tubuhnya kurus tapi tidak ringkik. Ia duduk bersila menghadap ke telaga. Matanya terpejam. Aku baru sadar ada seorang nenek di sekitar candi.
Pelan-pelan kudekati. Duduk di samping nenek itu. Ayong memainkan ekor matanya. Jangan diganggu!
Aku sudah terlanjur duduk, nenek itu pasti merasakan kehadiranku. Ia seperti sedang bersemedi, tapi tidak sedang bertapa. Sepanjang kutelisik, kulit wajahnya masih segar. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis, manis. Astaga, aku sungguh tidak sopan telah menelisik wajah orang tua yang harusnya kuhormati. .
“Bagaimana nenek bisa tahu tentang candi ini?”
Nenek itu diam. Hampir tak kudapati ada nafas yang keluar dari dua ruas lubang hidungnya.
“Mudah saja, Nak, nama itu terdapat dalam kitab Negarakertagama,” mata nenek tetap terpejam.
“Kitab macam apa itu, Nek? Buku ensiklopedia atau kitab tebal macam cerita Mahabharata, Nek?”
“Anak muda yang lahir dari peradaban modern macam kau ini tidak akan mengenal kitab itu.”
Aku tidak percaya nenek di depanku ini tiba-tiba menghakimi sesuatu yang belum lama dikenalnya.
Baru dua detik bercakap-cakap sudah menghakimiku yang tidak-tidak. Bisa kupastikan nenek ini tidak tahu menahu tentang dunia modern.
Kitab Negarakertagama? Aku sering mendengar nama itu. Aku juga sering mendapati nama-nama kitab semacam itu di buku bacaan yang mengulas tentang sejarah. Aku diam, menunggu kata-kata berikutnya.
“Aku tahu betul anak-anak muda macam kau, Nak. Lahir di saat dunia sudah gemerlap oleh teknologi. Memiliki ilmu sedikit saja sudah membusung dada. Mengumbar pemahaman hingga mulut berbusa-busa. Bacaannya Karl Marx, Hegel, Weber. Babaimana kau bisa mencintai negerimu kalau kau saja tak mengenal sejarah bangsamu, Nak?”
Bibirku terkatup, tak mampu bergerak. Sedikit banyak, kata-kata nenek ini benar adanya.
“Siapa yang meragukan kata-kata cinta dari anak muda seperti kau, Nak. Tak ada. Bahkan kalau kau mau, kau bisikkan kata cinta pada setiap perempuan, mereka akan jatuh dalam pelukmu. Tapi masalahnya, cinta bukan sekadar kata-kata, Nak. Cinta bukan kalimat-kalimat bertenaga yang kau teriakkan di jalan-jalan raya. Cinta bukan suara-suara serak yang kau serukan di setiap hari kemerdekaan.”
Nenek ini diam dalam damai. Aku memperhatikan lekat-lekat wajahnya. Kata-katanya mengalir, mencari ruang kosong di dalam hati.
“Cinta itu ketika kau tetap mau memberi meski berimbal sakit tiada perih. Cinta itu ketika kau tetap teguh pada kebenaran hati meski uang dan kursi menawarkanmu jabatan tinggi.”
Nenek itu beranjak berdiri. Kedua matanya terbuka. Tak sedikit pun menatapku. Kedua tangannya ditekan ke tanah. Mencari dukungan tenaga agar kuat berdiri. Aku membantunya.
“Kau lihatlah ke telaga itu, Nak! Sumber kedamaian dan keselarasan alam. Itu wujud cinta yang
Maha Besar dan Agung pada negeri ini. Meski kita tak pandai mengucap syukur, tapi Dia tetap menjaga kebeningan air telaga itu.”
Aku menoleh ke arah telaga. Nenek itu lagi-lagi mengatakan kebenaran. Sudah ratusan tahun telaga itu tercipta, tapi mata airnya tak pernah keruh. Yang Maha Besar dan Agung tetap menjaga kebeningan airnya meski kita tak pandai mengucap syukur.
Kalimat itu terus terngiang di telinga. Alamak, indah nian telaga itu. Berada di bawah kaki gunung Arjuna. Airnya bening mengalir dari mata air pegunungan. Dikelilingi pohon-pohon yang rindang.
Aku yakin, dulu saat candi ini masih misteri, bidadari-bidadari turun dari langit. Tubuhnya yang putih merendam di tengah telaga yang bening itu. Menanggalkan selendang-selendang penutup tubuh mereka di tepian telaga. Mereka pasti saling tertawa. Saling melempar keciprat air.
Aku menoleh lagi pada nenek itu. Tak ada. Nenek itu sudah pergi. Kemana? Secepat itukah nenek itu melangkah? Benar-benar aneh. Aku tak sedang bermimpi. Ini benar-benar kenyataan.
Aku mengangkat kepala pada Ayong. Kemana? Ia mengangkat bahu. Nenek itu aneh sekali. Tiba-tiba menjawab pertanyaanku, lalu pergi sekejap mata. Kepalaku pening dipenuhi satu pertanyaan yang masih menggelitik. Bagaimana bisa candi ini bernama Sumber Awan hampir persis dengan namaku, Awan?
Ini benar-benar gila, di luar jangkauan logika. Semua bayang berebut timbul tenggelam. Bukan jawaban yang kudapatkan, melainkan rasa penasaran yang semakin mendalam. Pikiranku bercabang, antara mencari jawaban atau terpaku dalam diam, pukau. Aku terpenjara, tercekat pikat menahan getaran hebat dari belahan tubuh Ayong yang memelukku dari belakang.
*Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya pada tanggal 12 April 2015.
Latif Fianto
Lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, sekarang tinggal di Malang.
Lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, sekarang tinggal di Malang.
Cahaya matahari terik di atas kepala. Bau dan suara kentut knalpot saling berebut. Bunyi klakson beriak susul menyusul. Debu-debu beterbangan berlomba dengan kendaraan yang bergerak merayap, macam kura-kura. Aku bergerak sesak dengan motor bebek buatan Jepang. Mataku lurus ke depan, mencari ruang salipan. Astaga, wajah sebuah mobil kekar besar nyaris mencium bodi belakang bebekku.
Detik per detik menjadi pisau waktu yang menyiksa. Jarak menjadi semakin panjang. Panas membakar. Udara bercampur bau besi, semacam bau karet yang dibakar. Jarak sesenti menjadi sangat berharga. Lebih berharga dari kematian.
Kendaraan masih berderap merayap padat ketika aku melepaskan diri dari kepulan asap knalpot yang menyesakkan dada. Kini aku menghirup udara segar yang merengsek diantara dedaunan. Berdiri di depan rumah Ayong yang jauhnya mencapai dua setengah kilometer dari kebisingan jalan raya.
Aku memandang ke arah halaman yang sunyi. Tak berani membawa kaki melewati pintu pagar. Belakangan, anjing di rumah ini semakin galak. Dulu, setiap kali aku datang, berdiri di teras rumah, anjing itu selalu ingin mencium kakiku. Berlomba dengan Ayong yang tiba-tiba mendaratkan bibir tebalnya di pipi.
Tiga bulan aku tidak kesini. Tak ada yang berubah. Rumah tetap sepi. Warung kecil di halaman masih berdiri kaku. Hanya anjing itu yang berubah. Semakin galak saja padaku. Melihatku melongo di balik pagar, binatang itu menatapku tajam. Melonglong, macam mengusir. Lupakah anjing itu bahwa aku adalah laki-laki yang dulu selalu ingin diciumnya?
Ayong berdiri di depan pagar, tersenyum. Mengenakan kaus merah muda, ketat membungkus tubuhnya yang padat. Rambut dibiarkan berurai, jatuh di kedua pundaknya. Aku terpukau.
“Kita mau pergi kemana?” Ayong duduk di belakang, di atas motor bebekku.
“Terserah kau. Hari ini kau yang menjadi guide nya,” aku menyalakan mesin.
“Ikuti saja arah jalan yang menanjak itu!” ia menunjuk arah di depan setelah kami tiba di pojok jalan.
“Jalan itu menuju kemana?”
“Aku tidak tahu juga. Ikuti saja!” ia mendekatkan bibirnya di telinga. “Bukankah mengobati kerinduan itu lebih penting daripada tujuan sebuah tempat?” suaranya lembut berbisik.
Aku terkekeh. Ayong menyandarkan kepala di pundak. Aku melesat di bawah terik matahari.
Membelah kesiur angin yang gemulai.
Rumah-rumah sederhana berdiri di pinggir jalan yang menanjak. Di depan, jalan bercabang empat.
Aku memilih belok kanan. Kali ini insting yang mengarahkan. Aku tak tahu kemana jalan hendak membawa. Tanah-tanah sangat hijau. Ilalang berjuntai setinggi laki-laki dewasa. Kerbau memakan rumput di tengah ladang. Gerombolan kambing berbulu putih berteduh di bawah pohon pisang.
Benar kata Ayong, apalah arti sebuah tujuan. Tidak ada yang lebih penting daripada menambatkan kerinduan.
Di depan, jalan kembali bercabang. Aku memilih belok kiri, menuju arah selatan. Padang rumput terbentang. Beberapa meter kemudian, rumah-rumah warga berdiri gagah. Warung makan dan beberapa rumah masih dalam pembangunan. Suara kesiur angin bertumpu dengan suara gesekan pohon bambu yang bergoyang, mengeluarkan siul gombal menggoda.
Aku berhenti. Di depan ada tiang kecil beserta sebuah plang bertuliskan Candi Sumber Awan 500 meter. Di bawah tulisan itu, arah tanda panah lurus ke arah kanan. Sumber Awan? Nama yang menggelitik mata.
“Kau sudah pernah pergi kesini?” tanyaku lamat-lamat menatap Ayong.
Ia menggeleng. “Belum, baru hari ini aku tahu kalau disini ada candi.”
“Kita pergi kesana?”
Ayong mengangguk, menggamit lenganku. Kami berjalan sejauh lima ratus meter. Melewati jalan setapak. Di sisinya mata air mengalir bening. Beberapa ikan tawar bergelanyut manja. Di seberang aliran mata air kecil itu, berjejer pohon bambu, rapat. Di sebelah kiri, hijau padi menghampar di atas sawah. Suara burung, serangga dan siul angin berpadu. Terdengar dari balik pepohonan yang rindang.
Anak-anak kecil melompat ke dalam sungai, yang dalamnya tidak seberapa. Ibu-ibu mereka tertawa melihat aksi anaknya yang menggemaskan.
Dua anak gadis sepantaran bergantian mengambil gambar. Di belakang mereka gemericik mata air pegunungan mengalir. Kuikuti aliran air itu hingga ke pangkal. Alamak, itu benar-benar indah.
Sebuah telaga kecil terhampar. Airnya tenang. Indah nian telaga itu.
Pelan-pelan, kudengar sebuah suara yang sulit kukenali. Seperti datang dari kolong langit. Tidak, itu bukan suara orang lain. Itu suara hatiku yang meminta mendekat ke bibir telaga.
Baru dua langkah hendak mendekat, tiba-tiba Ayong sudah berdiri di depanku. Mataku sempurna menatap dadanya yang membusung ke depan. Pemandangan yang lebih indah dari sekadar telaga kecil di balik candi.
“Awan, aku ingin mendekat ke candi itu,” ia menarik lengan. Mensejajariku di sebelah. Sesekali pinggir dadanya yang lembut menyentuh bahuku.
Aku menatap lekat-lekat tubuh candi. Bentuknya persis stupa induk di tingkat Arupadhatu di puncak candi Borobudur. Macam gunung Arjuna, gagah perkasa. Puncaknya menusuk langit.
Aku tak begitu banyak tahu tentang makna simbol, apalagi tentang candi. Tapi coba bayangkan, berdiri di puncak candi ini atau di puncak gunung Arjuna. Angkat wajah menatap ke atas. Seperti terasa sangat dekat dengan langit, begitu dekat dengan sang pencipta. Pencapaian menuju langit, melewati batas-batas awan yang lembut. Menggapai lazuardi, di sebuah nirwana yang menjulang di atas bumi.
Ini karya yang maha sempurna. Memadukan seni dan kedalaman spiritualitas. Ini buah karya orang-orang terdahulu, saat kerajaan Majapahit masih berkuasa gagah di tanah Jawa. Mereka sungguh mengerti bagaimana mewariskan ilmu dan kearifan. Tapi bagaimana bisa candi ini bernama Sumber Awan?
“Kau tahu kenapa candi ini diberi nama Sumberawan?” aku menyikut lengan Ayong.
Ia menggeleng. Astaga, aku bertanya pada orang yang salah, yang tidak mengerti sama sekali tentang situs peninggalan sejarah. Ia bahkan baru hari ini mengetahui ada candi semacam itu.
“Dulunya daerah ini bernama Kasurangganan, diartikan sebagai taman yang dipenuhi bidadari atau malaikat.”
Itu bukan suara Ayong. Aku tahu ia tidak akan mengeluarkan kata-kata seberat itu. Alamak, itu suara berat seorang nenek di belakangku. Seorang nenek tua yang rambutnya sudah memutih. Tubuhnya kurus tapi tidak ringkik. Ia duduk bersila menghadap ke telaga. Matanya terpejam. Aku baru sadar ada seorang nenek di sekitar candi.
Pelan-pelan kudekati. Duduk di samping nenek itu. Ayong memainkan ekor matanya. Jangan diganggu!
Aku sudah terlanjur duduk, nenek itu pasti merasakan kehadiranku. Ia seperti sedang bersemedi, tapi tidak sedang bertapa. Sepanjang kutelisik, kulit wajahnya masih segar. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis, manis. Astaga, aku sungguh tidak sopan telah menelisik wajah orang tua yang harusnya kuhormati. .
“Bagaimana nenek bisa tahu tentang candi ini?”
Nenek itu diam. Hampir tak kudapati ada nafas yang keluar dari dua ruas lubang hidungnya.
“Mudah saja, Nak, nama itu terdapat dalam kitab Negarakertagama,” mata nenek tetap terpejam.
“Kitab macam apa itu, Nek? Buku ensiklopedia atau kitab tebal macam cerita Mahabharata, Nek?”
“Anak muda yang lahir dari peradaban modern macam kau ini tidak akan mengenal kitab itu.”
Aku tidak percaya nenek di depanku ini tiba-tiba menghakimi sesuatu yang belum lama dikenalnya.
Baru dua detik bercakap-cakap sudah menghakimiku yang tidak-tidak. Bisa kupastikan nenek ini tidak tahu menahu tentang dunia modern.
Kitab Negarakertagama? Aku sering mendengar nama itu. Aku juga sering mendapati nama-nama kitab semacam itu di buku bacaan yang mengulas tentang sejarah. Aku diam, menunggu kata-kata berikutnya.
“Aku tahu betul anak-anak muda macam kau, Nak. Lahir di saat dunia sudah gemerlap oleh teknologi. Memiliki ilmu sedikit saja sudah membusung dada. Mengumbar pemahaman hingga mulut berbusa-busa. Bacaannya Karl Marx, Hegel, Weber. Babaimana kau bisa mencintai negerimu kalau kau saja tak mengenal sejarah bangsamu, Nak?”
Bibirku terkatup, tak mampu bergerak. Sedikit banyak, kata-kata nenek ini benar adanya.
“Siapa yang meragukan kata-kata cinta dari anak muda seperti kau, Nak. Tak ada. Bahkan kalau kau mau, kau bisikkan kata cinta pada setiap perempuan, mereka akan jatuh dalam pelukmu. Tapi masalahnya, cinta bukan sekadar kata-kata, Nak. Cinta bukan kalimat-kalimat bertenaga yang kau teriakkan di jalan-jalan raya. Cinta bukan suara-suara serak yang kau serukan di setiap hari kemerdekaan.”
Nenek ini diam dalam damai. Aku memperhatikan lekat-lekat wajahnya. Kata-katanya mengalir, mencari ruang kosong di dalam hati.
“Cinta itu ketika kau tetap mau memberi meski berimbal sakit tiada perih. Cinta itu ketika kau tetap teguh pada kebenaran hati meski uang dan kursi menawarkanmu jabatan tinggi.”
Nenek itu beranjak berdiri. Kedua matanya terbuka. Tak sedikit pun menatapku. Kedua tangannya ditekan ke tanah. Mencari dukungan tenaga agar kuat berdiri. Aku membantunya.
“Kau lihatlah ke telaga itu, Nak! Sumber kedamaian dan keselarasan alam. Itu wujud cinta yang
Maha Besar dan Agung pada negeri ini. Meski kita tak pandai mengucap syukur, tapi Dia tetap menjaga kebeningan air telaga itu.”
Aku menoleh ke arah telaga. Nenek itu lagi-lagi mengatakan kebenaran. Sudah ratusan tahun telaga itu tercipta, tapi mata airnya tak pernah keruh. Yang Maha Besar dan Agung tetap menjaga kebeningan airnya meski kita tak pandai mengucap syukur.
Kalimat itu terus terngiang di telinga. Alamak, indah nian telaga itu. Berada di bawah kaki gunung Arjuna. Airnya bening mengalir dari mata air pegunungan. Dikelilingi pohon-pohon yang rindang.
Aku yakin, dulu saat candi ini masih misteri, bidadari-bidadari turun dari langit. Tubuhnya yang putih merendam di tengah telaga yang bening itu. Menanggalkan selendang-selendang penutup tubuh mereka di tepian telaga. Mereka pasti saling tertawa. Saling melempar keciprat air.
Aku menoleh lagi pada nenek itu. Tak ada. Nenek itu sudah pergi. Kemana? Secepat itukah nenek itu melangkah? Benar-benar aneh. Aku tak sedang bermimpi. Ini benar-benar kenyataan.
Aku mengangkat kepala pada Ayong. Kemana? Ia mengangkat bahu. Nenek itu aneh sekali. Tiba-tiba menjawab pertanyaanku, lalu pergi sekejap mata. Kepalaku pening dipenuhi satu pertanyaan yang masih menggelitik. Bagaimana bisa candi ini bernama Sumber Awan hampir persis dengan namaku, Awan?
Ini benar-benar gila, di luar jangkauan logika. Semua bayang berebut timbul tenggelam. Bukan jawaban yang kudapatkan, melainkan rasa penasaran yang semakin mendalam. Pikiranku bercabang, antara mencari jawaban atau terpaku dalam diam, pukau. Aku terpenjara, tercekat pikat menahan getaran hebat dari belahan tubuh Ayong yang memelukku dari belakang.
*Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya pada tanggal 12 April 2015.
Latif Fianto
Lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, sekarang tinggal di Malang.
Lahir di Sumenep, pecinta buku, suka membaca dan menulis, sekarang tinggal di Malang.