Pemudapost - Sebagai mahasiswa yang terkenal dengan predikat luhurnya yaitu “ Mahasiswa Agent Of Change “, baginya kegiatan membaca tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Sebab, membaca merupakan jendela dunia untuk mengetahui sesuatu yang belum kita (baca: mahasiswa) ketahui dan membaca juga merupakan satu-satunya jalan kita untuk mendapatkan dan menambah pengetahuan dan gagasan baru, juga merupakan proses kita dalam berpikir secara kritis dan sistematis.
Kegiatan “ membaca, menulis dan diskusi “ ialah tugas utama bagi seorang penyandang gelar mahasiswa yang dengan serta merta tidak bisa meninggalkannya. Kegiatan ini merupakan harga mati yang tidak yang tidak bisa ditinggalkan oleh kita selaku mahasiswa dan ketiganya memiki keterpaduan satu sama lainnya dalam membentuk mahasiswa yang berkarakter bangsa serta kritis dengan keadaan yang ada disekitarnya. Sehingga dengan hal itulah mahasiswa dikatakan sebagai agent of change bangsa.
Namun, kebiasaan membaca belum mendarah daging dan belum menjadi budaya bagi mahasiswa itu sendiri. Hal ini di perparah oleh tayangan telivisi yang sama sekali tidak membantu terhadap pendewasaan dan pertumbuhan skillnya, juga perkembanngan teknologi yang saat ini semakin pesat yang memanjakan dan membuat kita terlena dengan fasilitas-fasilitas yang sifatnya hiburan saja seperti facebook, twitter, game online dan lain sebagainya. Suguhan dari perkembangan teknologi inilah yang membuat kita enggan dan males meluangkan waktunya untuk membaca. Bahkan tidak menyisahkan uang kirimannya untuk membeli buku atau bahan bacaan lainnya. Tapi lebih digunakan untuk hal-hal yang sifatnya hiburan belaka.
Iqra’ (membaca) yang merupakan wahyu dan perintah Allah pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk para pengikutnya belum terealisasikan secara meksimal baik membaca kitab suci al-qur’an, buku ataupun bahan bacaan lainnya.
Benar apa yang dikatakan Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani B. Herwaman (2011) dari berbagai data ternyata rata-rata orang Indonesia hanya membaca satu judul buku atau bahkan tidak membaca sama sekali dalam satu tahun. Keadaan ini jauh berbeda dengan masyarakat Belanda yang membaca 30 judul buku dalam satu tahun. Di Asia, Indonesia kalah dengan Thailand yang membaca 5 judul dalam satu tahun. (Koran Surya Jum’at,23 September 2011 Hal: 19)
Selain itu, Penelitian Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), mengatakan bahwa anak-anak (mahasiswa) Indonesia malah menghabiskan waktu sampai 35 jam setiap minggunya untuk menonton televisi. Artinya, rata-rata perharinya anak-anak menonton televisi selama 5 jam. Kalau kebiasaan menonton televisi sudah dimulai sejak kecil, kesulitan konsentrasi makin mengkhawatirkan dan dapat terbawa sampai dewasa. Akibatnya saat ini budaya membaca masih belum tercapai dan tertinggal jauh dibanding budaya menonton hiburan atau televisi. (Koran Surya Jum’at,23 September 2011 Hal: 19)
Sangat memprihatinkan, budaya membaca masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa yang saat ini telah hilang diganti dengan hal-hal yang sifatnya hiburan dan menyenangkan dirinya sendiri saja. Untuk menjadikan Indonesia berkembang, maju dan mampu bersaing dengan Negara-negara lainnya sungguh sangat sulit untuk mencapainya kalau masih Sumber Daya Manusia di dalamnya masih rendah, juga mahasiswa yang menyandang predikat luhurnya sebagai “agent of change” suatu bangsa tidak akan tercapai kalau masih belum membukakan kesadarannya untuk membiasakan dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan primer karena itu semua bisa terwujud dengan melalui membaca. Be winner or be loser is our dicision.
Oleh: Hidayatullah
Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Malang
Review This Product