Gerakan Mahasiswa Yang Seakan Dilematik

Pemudapost – Mahasiswa atau pemuda adalah agen perubahan, begitulah istilah yang sering kita dengar melalui beberapa statement tokoh Nasional, sebagai wahana perubahan tentunya pemuda harus mempunyai visi dan misi serta tujuan yang riil dan konsisten dalam memberikan gagasan dan sumbangsih pemikirannya, sehingga mampu untuk kemudian memberikan ruang control kepada pemangku kebijakan (pemerintah) dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya terkadang menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat.

Boedi Oetomo misalnya, adalah suatu wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908oleh pemuda – pelajar - mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. (Baca: Wikipedia.org) Ini kemudian menjadi ruang kajian kritis atas sikap pemangku kebijakan dalam mengontrol sebuah kebijakan yang ada.

Tidak hanya pada awal berdirinya organisasi pemuda Boedi Oetomo saja, namun berlanjut pada saat deklarisnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928, pejuang kemerdekaan pada tahun 1945, kemudian kekacauan politik yang terjadi pada sekitar tahun 1960-an juga lahirlah banyak organisasi pemuda dan mahasiswa, kemudian berlanjut pada awal kekuasaan masa orde baru sekitar tahun 1970-an yang mana pemuda pada umumnya tergabung dalam pelajar maupun mahasiswa melakukan kritik terhadap beberapa kebijakan pemerintah mulai dari politik, perekonomian dan kehidupan social lainnya. Pada tahun 1998 lahirlah reformasi yang kemudian dari bentuk kritisnya pemuda untuk menuntut pemerintahan melakukan pembenahan secara kelembagaan.

Memasuki awal millennium yaitu pada tahun 2000-an hingga saat ini seakan gerakan pemuda berada pada situasi sulit dan serba kebingungan, kalau diartikan adalah pemuda saat ini seakan dituntut untuk menentukan pilihan diantara dua kemungkinan yang keduanya sama-sama tidak menyenangkan atau bisa dikatakan tidak menguntungkan terhadap bangsa ini, sehingga gerakan pemuda hari ini cendrung dilematik, entah ada faktor lain atau bahkan faktor X dibalik itu semua, namun kenyataannya hari ini pemuda sedang mengalami dilema gerakan.

Jika hari ini benar pemuda sudah mengalami dilema atas statusnya sebagai pelopor perubahan dan kritik konstruktif terhadap pemerintah, kemudian pertanyaannya adalah kenapa? Adakah yang salah dengan pribadi pemuda hari ini? Realitasnya adalah keadaan saat ini berbanding terbalik dengan masa-masa dahulu, pemuda seakan sudah tidak mempunyai status sebagai pelopor perubahan dan kritik konstruktif terhadap pemerintahan.

Apakah kemudian pemuda sudah bangga dengan statusnya sebagai pelopor perubahan dan kritik atas pemerintah pada masa dahulu kala? Jika hal ini yang terjadi saat ini kemungkinan besar pemerintah akan melakukan kesewenang-wenangan atas sebuah kebijakan yang dikeluarkannya sehingga pemerintahpun akan merasa enak dengan statusnya saat ini tanpa adanya proses evaluasi terhadap kinerja dan fungsinya dikarenakan sudah merasa benar sendiri.

Namun penulis berkeyakinan bahwa pemuda tidak seperti yang telah dipaparkan, mungkin pemuda saat ini masih mangalami “titik jenuh” atas semua aktivitas pemuda masa dulu, sehingga diam mungkin adalah jalan yang tepat untuk sikap sebagai pelopor perubahan dan pelopor pengawasan. Dan semoga dengan dilematiknya gerakan pemuda saat ini akan melahirkan pelopor-pelopor gerakan yang dapat bermanfaat bagi keberlanjutan kehidupan berbangsa kita serta tetap cinta tanah air.

Oleh: Holil Al-Jumadino
*Penulis adalah Alumni Fakultas Ekonomi, Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Related product you might see:

Share this product :

Review This Product

Hot Articles

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | Redesigned : Tukang Toko Online
Copyright © 2011. Ayo Belanja.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger