Pemudapost - Setiap tanggal 1 Desember seluruh masyarakat dunia memperingati hari HIV/AIDS yang di kenal sebagai penyakit yang mematikan. Hal ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat dunia terhadap bahaya penularan HIV yang kapan saja dapat menyerang masyarakat. sampai saat ini masih belum ada obat yang mujarab untuk menangani kasusus penyakit AIDS ini meskipun para ilmuan telah mencoba untuk menemukannya. namun yang bisa di lakukan hanyalah mencegah semaksimal mungkin penyebab menularnya virus HIV/AIDS yang meresahkan masyarakat di seluruh penjuru dunia khususnya Indonesia.
Menurut Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sekitar 79 daerah prioritas utama penyakit AIDS meluas. Daerah tersebut tersebar di 8 provinsi antara lain Papua, Papua Barat, Sumatra Utara, Jawa Timur, Jakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Sedangkan data kementerian kesehatan Indonesia, sekitar 103.759 orang terinfeksi virus HIV dan 43.347 positif mengidap penyakit AIDS. Dengan jumlah kematian akibat HIV/AIDS mencapai 8.288 orang. dari beberapa penelitian yang di lakukan mengenai bentuk penularannya di laporkan 42% melalui heteroseksual dan 53% melalui pemakaian obat-obat terlarang.
Hal ini menjadi tanggung jawab bersama bagi seluruh warga negara Indonesia yang sama-sama menginginkan terhindar dari penyakit yang mematikan ini. Dari berbagai elemen masyarakat harus membantu proses penanggulangan penyebaran virus HIV baik dari luar maupun dari dalam. Apalagi seperti saat-saat sekarang ini yang rentang sekali dengan pergaulan bebas dan maraknya peredaran obat-obatan terlarang dimana-mana. Realitas yang sedang malanda para remaja Indonesia mengenai pergaulan bebas yang tidak mengenal batas cukup memprihatinkan. Banyak para remaja yang mengorbankan masa depannya untuk kenikmatan dan kesenangan sesaat. Mereka tidak sadar bahwa banyak dampak negatif yang akan di terima jika tidak mengenal batas di dalam pergaulannya.
Peran orang tua juga di jadikan prioritas utama untuk membantu pemberantasan gejala atau faktor terjadinya penularan HIV/AIDS yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan melakukan pengawasan seketat mungkin terhadap putra-putrinya supaya tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Sebab dari beberapa orang yang terinfeksi virus HIV/AIDS di dominasi oleh anak-anak remaja yang notabene masih memerlukan perhatian penuh dari orang tuanya. Hal-hal semacam itu terlihat sederhana, tapi pengaruhnya cukup besar terhadap kelangsungan hidup yang lebih baik.
Di tambah lagi dengan proses pendidikan yang kurang menekankan pada pelajaran moral dan etika. seolah-olah pelajaran mengenai moral dan etika hanya di jadikan bumbu penyedap jika dianalogikan terhadap (makanan), yang di butuhkan tergantung situasi. hal ini sangat miris sekali, padahal pelajaran etika dan moral akan menjadi roh masyarakat khususnya remaja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan baik. Ketika karakter yang di bentuk sejak kecil hanyalah mengenal kebebasan tanpa mengenal batasan-batasan tertentu. maka tidak bisa di elakkan lagi jika generasi bangsa ini hanya akan merepotkan bangsanya sendiri.
Oleh karena itu, dari beberapa faktor yang telah di kemukakan di atas akan menjadi lebih baik jika semuanya di lakukan atas dasar kesadaran kolektif antar masyarakat, Kesadaran yang lahir karena adanya suatu tuntutan menjadi warga negara yang baik bagi bangsa dan lingkungannya sendiri. Jika segala bentuk penyebab dari penularan HIV/AIDS di cegah bersama-sama mulai dari yang terkecil sampai pada yang besar sekalipun suatu saat hasilnya juga pasti di rasakan.
Jika pencegahan semacam ini terus di lakukan, beberapa tahun yang akan datang Indonesia akan terlepas dari bahaya penyakit yang meresahkan masyarakat dunia. Pada tanggal 1 Desember 2014 ini, mari kita bersama-sama menanamkan dalam diri kita masing-masing bahwa akan menjadi tanggung jawab bersama untuk selalu mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS yang tidak bisa di pungkiri penyakit ini berpotensi menggerogoti masa depan masyarakat Indonesia.
Oleh: Aang Mardiyanto
Aktivis sekaligus Ketua Komisariat PMII Country Unitri Malang
Review This Product