Oleh: Hidayatullah*
“Hidup dan mati yang menentukan Tuhan, merokok tidak ada hubungannya dengan kematian”
Pemudapost - Dimulai pada tahun 2004 melalui World Health Organisation (WHO) yang mendeklarasikan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang diikuti peningkatan gerakan anti tembakau global. Pada kongres Amerika Serikat menyatakan “Tobacco and Tobacco Products at a Crossroads in the 21th Century”, yang artinya Tembakau dan Produk Tembakau akan berada pada persimpangan jalan pada abad 21.
Gerakan ini berujung pada meningkatnya kampanye anti rokok di Indonesia yang akhir-akhir ini terus dilakukan oleh lembaga pendidikan, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi masyarakat dan pemerintah secara sengit terus melakukan bahaya merokok dan melimitasi ruang kebebasan merokok. Rokok seakan dianggap sebagai teror yang menakutkan sekaligus menyebarkan aroma kematian seseorang.
Kandungan Nikotin dan Tar yang ada dalam rokok dianggap sebagai zat toksin yang ditengarai ikut membesarkan potensi seseorang terkena komplikasi berbagai penyakit kronis, kanker, jantung, kerusakan janin dalam kandungan menjadi statment kampanye yang terus-menerus dilakukan dan digerakkan.
Kampanye rokok yang membahayakan kesehatan tersebut sesungguhnya terdapat agenda tersembunyi kapitalisme global yang mendompleng ranah kesehatan di Indonesia namun pemerintah dalam hal ini tidak menyadari tujuan dibalik beberapa lembaga anti tembakau tersebut. Hal ini menjadi sebuah penetrasi kapital yang luar biasa yang memanfaatkan fasisme kesehatan untuk akumulasi modal korporasi industri rokok dan industri farmasi. Realitanya dengan digelontorkannya dolar ke berbagai institusi di Indonesia sebagai biaya untuk secara aktif dan terus-menerus melakukan kampanye anti rokok.
Keteguhan para kapitalis global di bidang farmasi terus membiayai perang persepsi tentang bahaya merokok yang menunjukkan bahwa “perang nikotin” bernilai miliaran dolar Amrerika ini akan terus berlangsung dalam jangka waktu yang sulit diukur kapan akan berakhir.
Hal ini mendorong ahli Kimia-Fisika senior Dr. Gretta Zahar bersama Guru Besar Biologi Sel Universitas Brawijaya Malang, Profesor Dr. Sutiman B. Sumitro, dan tim yang terdiri dari ahli bidang kedokteran, Kimia dan Fisika melakukan riset ilmiah berbasis nanosains (nano-science) nanoteknologi (nano-technology), dan nano-biologi (nano-biology) untuk memberikan cara pandang yang berbeda atas anggapan rokok yang membahayakan kesehatan.
Penemuan ini jelas memberikan udara segar bagi para petani tembakau dan masayarakat pada umumnya untuk membalikkan beragam kampanye dan argumentasi kesehatan selama ini, dimana rokok dan tembakau satu-satunya yang dituding sebagai biang keladi timbulnya penyakit. Padahal kandungan kimia dalam tembakau ternyata memberikan manfaat terhadap kesehatan. Melalui scavenger yang dibubuhkan pada rokok kretek, rokok menjadi sehat yang disebut dengan divine kretek atau divine cigarette atau divine kelobot. Peran aktif scavenger pada divine kretek dapat mentransformasi asap rokok yang mengandung materi berbahaya dan radikal bebas menjadi tidak berbahaya bagi kesehatan.
Asap rokok hasil penemuan yang dapat dipertanggung jawabkan secara akademis ini dianalisa dengan instrumen gas “chromatography” yang hasilnya menunjukkan bahwa senyawa dalam asap rokok tidak semata-mata senyawa radikal bebas, tapi banyak polimer berbentuk kumpulan butiran partikel. Nikotin merupakan salah satu bagian kecil dari butiran partikel dari asap rokok. Jadi ketika asap rokok masuk dalam tubuh, nikotin tidak dapat berbicara sendiri. Padahal komponen paling berbahaya dari asap rokok justru radikal bebasnya. Kalau kita sadari bersama sumber radikal bukan semata-mata dari asap rokok, namun lebih pada dari polusi udara yang dihasilkan dari asap kendaraan dan pabrik disekitar lingkungan kita.
Dengan divine kretek peluruhan radikal bebas pada asap rokok dilakukan lewat serangkaian set peluruh radikal bebas (scavenger) yang dilapiskan pada filter atau dicampurkan dalam cengkih, terbukti mempunyai efek positif terhadap sistem kesehatan biologis yang dapat menyembuhkan penyakit kanker, kardiovaskuler, autis, stroke, paru-paru, dan menjaga kesehatan tubuh. Hal ini sudah di lakukan uji coba terhadap kelompok hewan serta relawan perokok. Asap hasil divine kretek diduga kuat mempercepat proses detoksifikasi karena mampu memperkecil racun tubuh pada skala nano (sepersemiliar meter). Dalam bentuk nano, racun dapat keluar dari jaringan tubuh dan kulit tanpa merusak sehingga tidak meninggalkan bekas luka.
Penemuan divine kretek dan scavenger ini menjadi lawan yang penting terhahap kampenye-kampanye anti rokok yang meraja lela saat ini. Ini merupakan temuan luar biasa yang menjadi salah satu mahakarya ilmu pengetahuan dan tonggak peningkatan kesehatan manusia berdasarkan kearifan lokal.
*Penulis adalah Alumnus Jurusan Teknologi Industri Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
Review This Product